Campak Airborne Transmission Simulator
"Simulasi 3D Transmisi Airborne Campak: Bagaimana Cara Kerjanya? Penjelasan model matematika, parameter fisika, dan dasar ilmiah di balik simulator interaktif yang memvisualisasikan perbedaan dramatis antara campak dan COVID-19 dalam ruangan tertutup."
Simulasi 3D Transmisi Airborne Campak: Cara Kerja & Dasar Ilmiah
Latar Belakang
Campak adalah penyakit paling menular yang diketahui manusia (R₀ = 12–18). Satu pasien dapat menularkan ke 12–18 orang — jauh melampaui COVID-19 (R₀ = 2–3). Awal 2026, Indonesia mencatat 10.826 suspek campak dan 45 KLB di 29 kabupaten/kota.
Simulator ini dikembangkan sebagai alat edukasi PPI untuk memvisualisasikan apa yang tak kasat mata: aerosol virus yang melayang di udara, pola aliran ventilasi, dan dampak intervensi terhadap risiko infeksi.
Cara Kerja Simulator
Dua ruangan 3D identik (8×6×3.5 m, volume 168 m³) ditampilkan berdampingan. Masing-masing berisi 1 pasien terinfeksi dan 8 orang rentan. Dua mode tersedia:
- Campak vs COVID-19 — melihat perbedaan kontagiusitas
- Campak vs Campak — membandingkan intervensi berbeda (head-to-head)
Setiap sisi memiliki kontrol independen: masker, ventilasi, dan vaksinasi.
Model Wells-Riley
Probabilitas infeksi dihitung menggunakan persamaan Wells-Riley (1978) — model yang pertama kali dikembangkan justru untuk outbreak campak:
P = 1 − exp(−I × q × p × t / Q)
P = probabilitas infeksi
I = jumlah infector (1)
q = quanta generation rate (dosis infeksius/jam)
p = laju ventilasi paru (0,5 m³/jam)
t = durasi paparan (jam)
Q = Volume × ACH (m³/jam)
Perbedaan kunci terletak pada quanta rate:
| Patogen | Quanta Rate | Sumber |
|---|---|---|
| Campak | 2.345 q/jam | Azimi et al. 2021, PNAS |
| COVID-19 | 48 q/jam | Dai & Zhao 2020 |
Campak ~50× lebih infeksius via udara. Dalam ruangan berventilasi sedang (6 ACH), setelah 1 jam: probabilitas terinfeksi campak 68,8%, COVID-19 hanya 2,4%.
Model Aliran Udara
Aliran udara bukan sekadar "well-mixed" — simulator menggunakan velocity vector field dengan 7 komponen:
- AC inlet jet (atas-belakang) → mendorong udara ke bawah & depan
- Back wall flow → aliran turun di dinding belakang
- Floor flow → mengalir ke depan menuju exhaust
- Front wall flow → naik di dinding depan
- Ceiling return → balik ke AC (melengkapi loop)
- Central vortex → zona pusaran di tengah ruangan yang menjebak partikel
- Exhaust suction → area hisap aktif di bawah-depan
Riset UMN menunjukkan bahkan dengan ventilasi kuat, hanya ~10% aerosol berhasil keluar — sisanya terjebak dalam vortex. Simulator mereplikasi fenomena ini.
Efek Intervensi
Masker
Bekerja di dua titik — mengurangi emisi DAN inhalasi:
| Jenis | Reduksi Emisi | Reduksi Inhalasi | Efek R_eff |
|---|---|---|---|
| Masker bedah | 50% | 35% | ×0,325 (reduksi 67,5%) |
| N95 | 90% | 63% | ×0,037 (reduksi 96,3%) |
Sumber: Sickbert-Bennett et al. 2020, JAMA Intern Med
Ventilasi
| Setting | ACH | Konteks |
|---|---|---|
| Buruk | 2 | Tanpa ventilasi mekanis |
| Sedang | 6 | Standar ruangan RS |
| Baik | 12 | AIIR minimum |
| HEPA | 24 | Dengan HEPA filter |
Vaksinasi (Model SEIRV All-or-Nothing)
Mengikuti model CDC: setiap orang divaksinasi → random draw → fully immune ATAU vaccine failure (tetap rentan).
- 1 dosis MMR: VE = 93%
- 2 dosis MMR: VE = 97%
R_eff — Angka Terpenting
R_eff = R₀ × (1 − cakupan × VE) × (1 − η_emisi) × (1 − η_inhalasi)
| Skenario | R_eff | Status |
|---|---|---|
| Campak tanpa intervensi | 15,00 | ⚠️ Outbreak masif |
| Campak + vaksin 95% (2d) | 1,18 | ⚠️ Masih >1! |
| Campak + vaksin 95% + bedah | 0,38 | ✅ Terkontrol |
| Campak + N95 saja | 0,56 | ✅ Terkontrol* |
| COVID + vaksin 75% (2d) | 0,68 | ✅ Terkontrol |
Insight kunci: Vaksinasi 95% saja menghasilkan R_eff = 1,18 untuk campak — masih di atas 1. Diperlukan kombinasi vaksinasi + masker + ventilasi (Swiss cheese model) untuk benar-benar menekan transmisi.
Speed & Durasi
Slider Speed = multiplier waktu simulasi:
| Speed | 1 detik real-time = |
|---|---|
| 1 | 1 detik simulasi (detail) |
| 3 (default) | 3 detik (seimbang) |
| 10 | 10 detik (fast-forward) |
Timer ⏱ menunjukkan waktu simulasi. Batuk terjadi setiap 4 detik simulasi. Persistensi aerosol campak: 120 menit, COVID: 30 menit.
Kontrol Kamera
| Aksi | Desktop | Mobile |
|---|---|---|
| Rotasi | Klik kiri + drag | 1 jari swipe |
| Zoom | Scroll | Pinch 2 jari |
| Pan | Klik kanan + drag | — |
| Auto orbit | Tombol 🔄 | Sama |
Keterbatasan
Simulator ini adalah alat edukasi, bukan alat prediksi klinis:
- Orang statis (tidak bergerak)
- Ruangan tunggal (tanpa koridor/multi-ruang)
- Airflow analitik (bukan CFD penuh)
- Quanta rate tetap (tidak berubah per aktivitas)
- Tidak boleh digunakan sebagai dasar keputusan medis
Referensi
- Riley EC et al. (1978). Airborne spread of measles in a suburban elementary school. Am J Epidemiol 107(5):421–432.
- Guerra FM et al. (2017). The basic reproduction number (R₀) of measles: a systematic review. Lancet Infect Dis 17(12):e420–e428.
- Azimi P et al. (2021). Mechanistic transmission modeling of COVID-19 on the Diamond Princess. PNAS 118(8):e2015482118.
- Dai H, Zhao B (2020). Association of infected probability of COVID-19 with ventilation rates. medRxiv.
- Bazant MZ, Bush JWM (2021). A guideline to limit indoor airborne transmission of COVID-19. PNAS 118(17):e2018995118.
- Sickbert-Bennett EE et al. (2020). Filtration Efficiency of Hospital Face Mask Alternatives. JAMA Intern Med 180(12):1607–1612.
- CDC CFA (2025). Behind the Model: Interactive Measles Outbreak Simulator.
- Mina MJ et al. (2019). Measles virus infection diminishes preexisting antibodies. Science 366(6465):599–606.
- Moss WJ (2017). Measles. Lancet 390(10111):2490–2502.
- WHO (2025). Measles Fact Sheet. Geneva.
- Kemenkes RI (2026). Laporan situasi campak dan rubela Indonesia.
Tim PPI - RSUD Dr. Moewardi -Simulator --- Maret 2026 — petrisolo.com
Tentang Penulis
Menyajikan informasi klinis terkini untuk profesional kesehatan.