Ringkasan Eksekutif: Panduan WHO Manajemen Penyakit HIV Lanjut (2025)#
Sumber: World Health Organization (2025)
1. Definisi Penyakit HIV Lanjut (Advanced HIV Disease - AHD)#
Penyakit HIV lanjut didefinisikan berdasarkan populasi sebagai berikut:
- Dewasa, Remaja, dan Anak (Usia ≥ 5 tahun): Hitung sel CD4 < 200 sel/mm³.
- Anak (Usia < 5 tahun): Semua anak dengan HIV yang berusia di bawah 5 tahun dianggap memiliki AHD, kecuali mereka telah menerima ART selama lebih dari satu tahun dan stabil secara klinis.
- Jika Tes CD4 Tidak Tersedia: AHD didefinisikan sebagai stadium klinis WHO 3 atau 4 saat datang berobat.
2. Rekomendasi Baru & Pembaruan Utama (2025)#
Panduan tahun 2025 memperkenalkan beberapa rekomendasi baru dan memperbarui panduan sebelumnya:
A. Identifikasi AHD#
- Tes CD4 (Baru, 2025): Direkomendasikan sebagai metode pilihan untuk mengidentifikasi AHD pada orang dengan HIV.
- Stadium Klinis (Baru, 2025): Pada pengaturan di mana tes CD4 belum tersedia, stadium klinis WHO dapat digunakan untuk mengidentifikasi AHD, meskipun akurasinya lebih rendah.
B. Perencanaan Pulang Rawat Inap (Baru, 2025)#
Orang dengan HIV yang dirawat di rumah sakit harus diberikan intervensi untuk mendukung transisi ke rawat jalan guna mengurangi readmission (penerimaan kembali) yang dapat dihindari. Intervensi meliputi:
- Penetapan tujuan sebelum pulang & tinjauan pengobatan.
- Perencanaan perawatan transisi.
- Tindak lanjut melalui telepon atau kunjungan rumah oleh nakes/pendukung sebaya.
C. Pengobatan Sarkoma Kaposi (Baru, 2025)#
- Farmakologis: WHO menyarankan paclitaxel atau pegylated liposomal doxorubicin untuk pengobatan orang dengan HIV yang menderita Sarkoma Kaposi.
3. Paket Perawatan Penyakit HIV Lanjut#
Paket intervensi harus ditawarkan kepada semua orang yang datang dengan AHD.
| Komponen | Dewasa & Remaja | Anak < 10 tahun |
|---|---|---|
| Skrining TB | Ya (Sistematis, 4 gejala) | Ya (Sistematis) |
| Skrining Kriptokokus (CrAg) | Ya (jika CD4 < 200 sel/mm³) | Tidak direkomendasikan rutin |
| Diagnosis TB | Concurrent testing: NAAT + LF-LAM (Urin) | NAAT (tinja/respirasi) + LF-LAM |
| Profilaksis Kotrimoksazol | Ya (CD4 < 350 atau Stadium 3/4) | Ya |
| Terapi Pencegahan TB (TPT) | Ya (3HP lebih disukai) | Ya |
| Terapi Pre-emtif Flukonazol | Ya (jika CrAg+ tanpa meningitis) | Tidak berlaku |
| Inisiasi ART Cepat | Ya (tunda jika gejala meningitis) | Ya (tunda jika gejala meningitis) |
| Konseling Kepatuhan | Ya (Intensif) | Ya |
4. Manajemen Klinis Infeksi Oportunistik#
A. Meningitis Kriptokokus#
- Diagnosis Pilihan: Pungsi lumbal dengan tes antigen kriptokokus (CrAg) lateral flow assay. Jika pungsi lumbal dikontraindikasikan/tidak tersedia, gunakan tes CrAg pada darah.
- Pengobatan Induksi Pilihan (2022): Dosis tunggal tinggi Liposomal Amphotericin B (10 mg/kg) + 14 hari Flucytosine (100 mg/kg/hari) + Fluconazole (1200 mg/hari).
- Alternatif (jika Liposomal AmB tidak ada): Amphotericin B deoxycholate (7 hari) + Flucytosine (7 hari), diikuti Fluconazole (7 hari).
- Alternatif Oral: Fluconazole + Flucytosine selama 14 hari.
- Kortikosteroid: Tidak direkomendasikan secara rutin.
B. Histoplasmosis (Diseminata)#
- Diagnosis: Deteksi antigen Histoplasma yang bersirkulasi.
- Pengobatan (Berat/Sedang): Liposomal Amphotericin B (3.0 mg/kg) selama 2 minggu.
- Pengobatan (Ringan/Sedang): Itraconazole 200 mg (3x sehari selama 3 hari, lalu 2x sehari).
- Pemeliharaan: Itraconazole selama 12 bulan.
C. Tuberkulosis (TB)#
- Diagnosis: Strategi tes bersamaan (concurrent testing) menggunakan tes molekuler cepat (seperti Xpert/Truenat) pada sampel respirasi DAN LF-LAM pada urin direkomendasikan untuk diagnosis awal pada ODHIV dengan tanda/gejala TB, sakit berat, atau AHD.
- Pengobatan: Durasi sama dengan pasien HIV-negatif.
5. Ringkasan Waktu Inisiasi ART#
Waktu memulai ART sangat krusial dan bergantung pada kondisi klinis penyerta.
| Kondisi Klinis | Waktu Inisiasi ART |
|---|---|
| Tanpa gejala TB/Meningitis | Rapid ART initiation: Dalam 7 hari diagnosis, diutamakan hari yang sama. |
| TB Paru / TB Non-SSP | Sesegera mungkin, dalam 2 minggu setelah memulai pengobatan TB. |
| Meningitis TB | Tunda setidaknya 4 minggu (dan mulai dalam 8 minggu) setelah pengobatan TB dimulai. |
| Meningitis Kriptokokus | Tunda 4–6 minggu setelah inisiasi pengobatan antijamur. |
| Histoplasmosis (Non-SSP) | Sesegera mungkin (ASAP). |
| Sarkoma Kaposi | Segera (Immediate), bersamaan dengan manajemen KS. |
6. Profilaksis#
Kotrimoksazol#
- Dewasa: Direkomendasikan jika CD4 ≤ 350 sel/mm³ atau stadium klinis WHO 3/4.
- Daerah Prevalensi Tinggi: Di mana malaria/infeksi bakteri parah tinggi, berikan tanpa memandang CD4.
- Anak: Direkomendasikan untuk bayi, anak, dan remaja dengan HIV tanpa memandang kondisi klinis/imun.
Terapi Pencegahan TB (TPT)#
- Diberikan kepada ODHIV (dewasa/remaja) yang tidak memiliki TB aktif sebagai bagian dari paket perawatan komprehensif.
- Regimen Pilihan: 3HP (Rifapentine dan Isoniazid mingguan selama 3 bulan).
- Alternatif: 6H atau 9H (Isoniazid harian).