Ringkasan Eksekutif: Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (2019)#
Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2019)
1. Pendahuluan & Epidemiologi#
Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh virus rabies dan bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia).
- Fatalitas: Penyakit ini sangat mematikan. Hampir seluruh pasien yang menunjukkan gejala klinis (encephalomyelitis) akan berakhir dengan kematian.
- Vektor Utama: 99% kematian rabies di dunia disebabkan oleh gigitan anjing. Hewan penular lain di Indonesia termasuk kucing dan kera.
- Situasi di Indonesia: Hingga 2019, 26 provinsi tertular rabies dan hanya 8 provinsi yang bebas rabies (Papua, Papua Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur).
- Insiden: Rata-rata kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) per tahun adalah 78.413 kasus.
2. Etiologi & Cara Penularan#
- Penyebab: Virus genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae. Virus ini bersifat neurotropik (menyerang saraf).
- Ketahanan Virus: Virus mudah mati oleh sabun, deterjen, sinar matahari, dan pemanasan suhu $56^{\circ}C$ selama 30 menit. Namun, virus tahan lama dalam keadaan beku.
- Cara Penularan:
- Gigitan: Melalui luka gigitan hewan terinfeksi.
- Non-Gigitan: Melalui jilatan pada kulit terbuka/luka atau mukosa (mata, mulut), serta cakaran.
- Masa Inkubasi: Bervariasi antara 2 minggu hingga 2 tahun (rata-rata 3–8 minggu). Faktor yang mempengaruhi masa inkubasi meliputi kedalaman luka, lokasi luka (semakin dekat ke otak semakin cepat), dan jumlah virus.
3. Gejala Klinis#
A. Pada Manusia#
Gejala dibagi menjadi beberapa tahap:
- Tahap Prodromal: Demam, lemas, lesu, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, nyeri.
- Tahap Sensoris: Rasa kesemutan, panas, atau nyeri (parestesia) di lokasi gigitan, cemas.
- Tahap Eksitasi: Bingung, gelisah, halusinasi, agresif, dan muncul fobia khas (Hidrofobia/takut air, Aerofobia/takut udara, Fotofobia/takut cahaya).
- Tahap Paralisis: Kelumpuhan otot bertahap mulai dari bekas gigitan, penurunan kesadaran, hingga meninggal karena gagal jantung/napas.
B. Pada Hewan (Anjing)#
- Tahap Prodromal (2-3 hari): Perubahan perilaku (tidak kenal tuan, menghindar), suhu tubuh naik.
- Tahap Eksitasi (3-7 hari): Gelisah, halusinasi (menangkap lalat imajiner), pika (memakan benda asing), menyerang objek bergerak, hipersalivasi, suara parau.
- Tahap Paralisis: Rahang menggantung (lumpuh otot pengunyah), kaki belakang diseret, kematian.
4. Pencegahan & Penatalaksanaan Luka (Penting)#
Pencegahan dilakukan dengan penanganan luka sesegera mungkin setelah terpapar.
Langkah 1: Pencucian Luka (Cuci Luka)#
- Wajib: Cuci luka dengan sabun di bawah air mengalir selama 15 menit sesegera mungkin.
- Tujuan: Melarutkan selubung lipid virus rabies sehingga virus mati (inaktivasi).
Langkah 2: Pemberian Antiseptik#
- Setelah dicuci, berikan antiseptik seperti Povidone Iodine atau Alkohol 70% untuk membunuh sisa virus.
Langkah 3: Vaksinasi & Serum (VAR & SAR)#
Keputusan pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) didasarkan pada kategori luka dan kondisi hewan.
Kategori Luka dan Rekomendasi (WHO)
| Kategori | Jenis Kontak | Rekomendasi Tatalaksana |
|---|---|---|
| I | • Menyentuh/memberi makan hewan<br>• Jilatan pada kulit utuh | • Cuci luka<br>• Tidak perlu VAR/SAR |
| II | • Gigitan pada kulit terbuka<br>• Luka gores/lecet tanpa perdarahan | • Cuci luka<br>• Berikan VAR segera<br>• Stop VAR jika hasil observasi hewan 14 hari sehat |
| III (Risiko Tinggi) | • Gigitan/cakaran transdermal (tembus kulit/berdarah)<br>• Jilatan pada kulit luka/mukosa<br>• Paparan kelelawar<br>• Luka di bahu ke atas (leher, muka, kepala), jari tangan/kaki, genitalia | • Cuci luka<br>• Berikan VAR + SAR segera |
Alur Penanganan Hewan
- Hewan Lari/Hilang/Mati: Segera berikan VAR (dan SAR jika risiko tinggi).
- Hewan Dapat Ditangkap: Observasi selama 14 hari. Jika hewan mati saat observasi, lanjutkan VAR dan periksa spesimen otak. Jika hewan tetap sehat, stop VAR.
5. Dosis dan Cara Pemberian Vaksin & Serum#
A. Vaksin Anti Rabies (VAR) untuk Post-Exposure Prophylaxis (PEP)#
Vaksin diberikan secara Intramuskular (IM) di lengan atas (deltoid) atau paha (anak < 1 tahun).
| Jenis Vaksin | Dosis | Jadwal Pemberian (Metode Zagreb 2-1-1) |
|---|---|---|
| PVRV (Verorab) | 0,5 ml | Hari 0: 2 dosis (Lengan kanan & kiri)<br>Hari 7: 1 dosis<br>Hari 21: 1 dosis |
| PCECV (Rabipur) | 1 ml | Hari 0: 2 dosis (Lengan kanan & kiri)<br>Hari 7: 1 dosis<br>Hari 21: 1 dosis |
- Pasien yang sudah pernah divaksin lengkap:
- Digigit < 3 bulan: Tidak perlu vaksinasi.
- Digigit 3 – 12 bulan: Vaksinasi 1 dosis.
- Digigit > 12 bulan: Vaksinasi lengkap.
B. Serum Anti Rabies (SAR)#
Diberikan untuk kasus risiko tinggi (Kategori III) untuk memberikan kekebalan pasif instan.
| Jenis Serum | Dosis | Cara Pemberian | Skin Test |
|---|---|---|---|
| Homolog (HRIG) | 20 IU/kg BB | Infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, sisanya IM | Tidak |
| Heterolog (ERIG/Kuda) | 40 IU/kg BB | Infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, sisanya IM | Ya (Wajib) |
- Skin Test ERIG: Encerkan 1:10, suntik intrakutan 0,1 ml. Positif jika indurasi > 10 mm dalam 15 menit.
6. Penanganan Penderita Rabies (Sudah Gejala)#
Jika pasien sudah menunjukkan gejala klinis rabies:
- Rujukan: Segera rujuk ke Rumah Sakit.
- Isolasi: Rawat di ruang isolasi. Petugas wajib menggunakan APD lengkap (sarung tangan, kacamata, masker).
- Supportif: Berikan cairan infus, antikonvulsan (penenang) jika perlu, dan fiksasi pasien jika agresif/maniakal.
- Vaksinasi Petugas: Petugas yang terpapar cairan tubuh pasien (air liur/muntahan) pada kulit terbuka/mukosa disarankan mendapatkan profilaksis.
7. Rabies Center#
Definisi: Fasilitas kesehatan (Puskesmas/RS) yang ditetapkan pemerintah daerah sebagai pusat pelayanan rabies. Syarat Rabies Center:
- Mampu melakukan tatalaksana kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR).
- Tersedia stok minimal 1 kuur (paket lengkap) VAR.
- Memiliki fasilitas rantai dingin (cold chain) penyimpanan vaksin.
- Melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE).