Clinical Library
Buku Saku

2023 Buku Saku TataLaksana Rabies

Terbit: 2023
Download PDF

Ringkasan Eksekutif: Buku Saku Tata Laksana Gigitan Hewan Penular Rabies (2023)#

Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023)


1. Pendahuluan & Epidemiologi#

Rabies adalah penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang menyerang susunan saraf pusat dan bersifat fatal (mematikan).

  • Situasi Terkini (2018-2022): Tercatat 431.007 kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dengan 426 kematian. Rata-rata per tahun terdapat 86.201 kasus gigitan dan 85 kematian.
  • Kejadian Luar Biasa (KLB): Terjadi di Dompu, NTB (2019), Pulau Timor, NTT (2023), Kalimantan Barat (2023), dan wilayah lainnya.
  • Status Wilayah: Hingga 2023, 26 provinsi tertular rabies. Hanya 12 provinsi yang bebas rabies (termasuk DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua, Papua Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya, dan Papua Pegunungan).

2. Etiologi & Cara Penularan#

  • Penyebab: Virus genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae. Berbentuk seperti peluru dan bersifat neurotropik (menyerang saraf).
  • Ketahanan Virus: Mati oleh sinar matahari, UV, pemanasan suhu > 50°C, sabun, deterjen, dan alkohol. Namun, virus tahan lama dalam kondisi beku.
  • Penularan:
    • Melalui: Gigitan, cakaran, atau jilatan pada kulit luka/mukosa oleh hewan terinfeksi (anjing, kucing, kera, dll).
    • Vektor Utama: 99% kematian rabies disebabkan oleh gigitan anjing.
  • Masa Inkubasi: Bervariasi antara 2 minggu hingga 2 tahun (rata-rata 3–8 minggu). Faktor yang mempengaruhi meliputi jenis virus, jumlah virus, kedalaman luka, lokasi luka (semakin dekat ke otak semakin cepat), dan imunitas tubuh.

3. Gejala Klinis#

A. Pada Manusia#

  1. Prodromal: Demam, lemas, nyeri tenggorokan, dan sensasi kesemutan/panas/nyeri (parestesia) di lokasi gigitan.
  2. Neurologis Akut (2 Tipe):
    • Tipe Ensefalitis (Furious): Gelisah, agresif, hidrofobia (takut air), aerofobia (takut udara), fotofobia (takut cahaya).
    • Tipe Paralitik: Kelemahan otot (lumpuh) dimulai dari bekas gigitan menjalar ke otot pernapasan.
  3. Koma & Kematian: Akibat gagal napas atau jantung.

B. Pada Hewan (Anjing)#

  1. Prodromal (2-3 hari): Perubahan perilaku (tak kenal tuan, menghindar), suhu tubuh naik.
  2. Eksitasi (3-7 hari): Gelisah, halusinasi (menangkap lalat imajiner), memakan benda asing (pika), menyerang objek bergerak, hipersalivasi (air liur berlebih), suara parau.
  3. Paralisis: Rahang menggantung (lumpuh otot pengunyah), lidah menjulur, kaki belakang diseret, kematian.

4. Pencegahan & Tata Laksana Luka (Penting)#

Langkah pertolongan pertama yang wajib dilakukan segera setelah terpapar:

  1. Cuci Luka (Wajib): Cuci dengan sabun di bawah air mengalir selama 15 menit. Sabun dapat melarutkan lapisan lipid virus sehingga virus mati (inaktivasi).
  2. Antiseptik: Berikan Povidone Iodine atau Alkohol 70% setelah dicuci.
  3. Vaksin & Serum: Segera ke fasilitas kesehatan (Rabies Center) untuk penentuan pemberian VAR/SAR.

Kategori Pajanan & Rekomendasi (WHO)#

KategoriDeskripsi Luka/KontakTata Laksana
I• Menyentuh/memberi makan hewan<br>• Jilatan pada kulit utuh• Cuci luka<br>Tidak perlu VAR/SAR
II• Gigitan pada kulit terbuka<br>• Luka lecet/cakaran tanpa perdarahan• Cuci luka<br>Berikan VAR<br>Stop VAR jika hewan sehat setelah observasi 14 hari
III (Risiko Tinggi)• Gigitan/cakaran menembus kulit (berdarah)<br>• Jilatan pada kulit luka/mukosa<br>• Kontak dengan kelelawar<br>• Luka di area risiko tinggi (bahu ke atas, jari, genital)• Cuci luka<br>Berikan VAR + SAR (Serum) segera

5. Protokol Pemberian Vaksin (VAR) & Serum (SAR)#

A. Vaksin Anti Rabies (VAR) untuk Profilaksis Pasca Pajanan (PEP)#

Diberikan kepada kasus kategori II dan III.

MetodeJadwal PemberianKeterangan
Intramuskular (IM)<br>(Metode Zagreb)2-0-1-0-1<br>Hari 0: 2 dosis (Lengan kanan & kiri)<br>Hari 7: 1 dosis<br>Hari 21: 1 dosisDisuntikkan di lengan atas (deltoid) atau paha (anak < 1 th).
Intradermal (ID)2-2-2-0-0<br>Hari 0: 2 titik (0,1 cc)<br>Hari 3: 2 titik (0,1 cc)<br>Hari 7: 2 titik (0,1 cc)Lebih hemat vaksin, memerlukan petugas terlatih.

Catatan Khusus:

  • Hewan Observasi: Jika hewan dapat ditangkap, observasi 14 hari. Jika hewan sehat, VAR dihentikan. Jika hewan mati/gejala rabies, VAR dilanjutkan sampai tuntas.
  • Pasien Immune (Pernah Vaksin Lengkap): Cukup diberikan Booster (2 dosis: hari 0 dan 3) jika gigitan terjadi > 3 bulan setelah vaksinasi sebelumnya. Jika < 3 bulan, tidak perlu vaksinasi ulang.

B. Serum Anti Rabies (SAR)#

Wajib untuk Kategori III (Risiko Tinggi) untuk memberikan kekebalan instan sebelum vaksin bekerja.

Jenis SerumDosisCara PemberianSkin Test
Homolog (HRIG)<br>(Manusia)20 IU/kg BBInfiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, sisanya IMTidak
Heterolog (ERIG)<br>(Kuda)40 IU/kg BBInfiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, sisanya IMWajib

6. Profilaksis Pra-Pajanan (PrEP)#

Diberikan kepada kelompok risiko tinggi (dokter hewan, petugas lab, dll).

  • Jadwal (WHO 2018):
    • Intramuskular (IM): Hari 0 dan Hari 7 (1 dosis tiap kunjungan).
    • Intradermal (ID): Hari 0 dan Hari 7 (2 dosis tiap kunjungan).
  • Catatan: Pada individu dengan immunocompromised, perlu dosis tambahan.

7. Penanganan Pasien Rabies & Rabies Center#

  • Pasien dengan Gejala: Harus dirawat di ruang isolasi RS. Petugas medis wajib menggunakan APD lengkap (kacamata, masker, sarung tangan) untuk menghindari kontak dengan liur pasien.
  • Rabies Center: Fasilitas kesehatan yang memiliki stok minimal 1 kuur VAR, fasilitas rantai dingin (cold chain), dan tenaga terlatih untuk tata laksana GHPR.