Ringkasan Teknis: Rekomendasi Pengobatan Tetanus (WHO 2010)#
Sumber: World Health Organization (WHO) - Technical Note (Januari 2010)
1. Latar Belakang & Epidemiologi#
Tetanus adalah penyakit akut yang dimediasi oleh toksin yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani.
- Penyebab: Spora bakteri (ditemukan di tanah/kotoran) masuk ke luka nekrotik/kotor dan memproduksi tetanospasmin (neurotoksin sangat kuat).
- Mekanisme: Toksin memblokir neurotransmitter penghambat di sistem saraf pusat, menyebabkan kekakuan otot dan spasme.
- Fatalitas: Tingkat kematian kasus (CFR) tinggi, berkisar antara 10–80% bahkan dengan perawatan intensif modern.
- Imunitas: Tidak ada kekebalan alami. Perlindungan hanya didapat melalui vaksinasi aktif (toksoid tetanus/TT) atau antibodi pasif (imunoglobulin/TIG).
2. Transmisi dan Karakteristik Klinis#
- Cara Penularan: Tidak menular antar manusia. Infeksi terjadi melalui spora yang masuk ke luka akut (trauma, bedah, suntikan) atau lesi kulit kronis. Kasus dapat terjadi bahkan pada luka yang dianggap sepele.
- Masa Inkubasi:
- Rentang: 3 hingga 21 hari (Median: 7 hari).
- Prognosis: Masa inkubasi yang pendek (< 7 hari) berhubungan dengan hasil yang fatal.
- Gejala Klinis:
- Kekakuan otot dan spasme nyeri.
- Sering dimulai pada otot rahang (trismus / rahang terkunci), leher, bahu, dan perut.
- Spasme awal dipicu oleh rangsangan sensorik (sentuhan, suara keras, cahaya terang).
- Dapat berkembang menjadi kejang umum spontan (tetanospasms).
- Disfungsi otonom (hipertensi, takikardia bergantian dengan bradikardia/hipotensi) menandakan prognosis buruk.
- Penyebab Kematian: Biasanya gagal napas jika bantuan ventilasi tidak tersedia.
3. Diagnosis#
Diagnosis tetanus bersifat klinis semata; tidak ada tes laboratorium konfirmasi.
Definisi WHO untuk Tetanus Dewasa: Memerlukan setidaknya satu dari tanda berikut:
- Trismus: Ketidakmampuan membuka mulut.
- Risus sardonicus: Spasme berkelanjutan pada otot wajah.
- Kontraksi otot yang menyakitkan.
Catatan: Riwayat luka biasanya ada, namun tetanus tetap dapat terjadi pada pasien yang tidak dapat mengingat adanya luka.
4. Protokol Pengobatan#
Langkah Umum#
- Isolasi: Tempatkan pasien di area teduh dan tenang.
- Minimalkan Stimulus: Lindungi pasien dari rangsangan sentuhan dan suara sebisa mungkin.
- Perawatan Luka: Bersihkan dan lakukan debridement pada semua luka.
Tabel Manajemen Farmakologis & Terapi#
| Kategori Pengobatan | Obat Pilihan / Tindakan | Dosis & Keterangan |
|---|---|---|
| Imunoterapi | Human TIG (Tetanus Immunoglobulin) | • 500 unit (IM atau IV sesuai sediaan) sesegera mungkin.<br>• Berikan juga vaksin TT (0,5 cc IM) di sisi berbeda. |
| Catatan Vaksinasi | Penyakit tetanus tidak memicu kekebalan alami. Pasien tanpa riwayat vaksin wajib mendapat dosis ke-2 (1–2 bulan kemudian) dan ke-3 (6–12 bulan kemudian). | |
| Antibiotik | Metronidazole (Pilihan Utama) | 500 mg setiap 6 jam (IV atau Oral). |
| Penicillin G | 100.000 – 200.000 IU/kg/hari (IV), dalam 2–4 dosis terbagi. | |
| Alternatif Lain | Tetracyclines, macrolides, clindamycin, cephalosporins, chloramphenicol. | |
| Kontrol Spasme | Benzodiazepines<br>(Diazepam / Lorazepam) | • Dewasa: Diazepam (IV, kenaikan 5 mg) atau Lorazepam (kenaikan 2 mg).<br>• Anak: 0,1–0,2 mg/kg setiap 2–6 jam.<br>• Target: Kontrol spasme tanpa sedasi berlebih/hipoventilasi. Dosis besar mungkin diperlukan. |
| Magnesium Sulphate | • Dosis: 5 gram (atau 75 mg/kg) IV loading dose, dilanjutkan 2–3 gram/jam.<br>• Monitoring: Pantau refleks patella. Jika areflexia (hilang refleks) terjadi, kurangi dosis untuk hindari overdosis (batas terapi 4 mmol/L). | |
| Obat Lain | Baclofen, Dantrolene, Barbiturates (short-acting), Chlorpromazine. | |
| Disfungsi Otonom | Magnesium Sulphate | Dosis sama seperti kontrol spasme. |
| Morphine | Dapat digunakan sebagai alternatif. | |
| Peringatan (Beta-blockers) | Hindari Propranolol (risiko kematian mendadak). Hanya Esmolol yang direkomendasikan saat ini. |
5. Manajemen Jalan Napas & Nutrisi#
Kontrol Pernapasan#
- Obat penenang untuk kontrol spasme dapat menyebabkan depresi pernapasan.
- Ventilasi Mekanik: Sangat direkomendasikan jika spasme (termasuk spasme laring) mengancam ventilasi.
- Jika Ventilator Tidak Ada: Pantau pasien dengan sangat ketat dan sesuaikan dosis obat untuk menyeimbangkan kontrol spasme dan risiko gagal napas.
- Trakeostomi: Lebih disukai daripada selang endotrakeal (ET) karena selang ET dapat memicu spasme dan memperburuk gangguan jalan napas.
Nutrisi & Hidrasi#
- Spasme tetanus menyebabkan permintaan metabolik yang sangat tinggi (kondisi katabolik).
- Cairan dan nutrisi yang adekuat harus diberikan untuk meningkatkan peluang bertahan hidup.
6. Prognosis#
Sebelum adanya vaksin dan ventilator (era 1920-30an), perawatan dan pemantauan yang cermat terbukti meningkatkan kelangsungan hidup. Jika pasien dapat dipertahankan hidup melewati 1 hingga 2 minggu masa spasme dan komplikasi, peluang pemulihan total sangat besar, terutama pada pasien muda dan yang sebelumnya sehat.