Clinical Library
Panduan

2011 WHO Manajemen Demam Tifoid

Terbit: 2011
Download PDF

Ringkasan Panduan: Manajemen Demam Tifoid (WHO 2011)#

Sumber: World Health Organization & Kementerian Kesehatan Zimbabwe (2011)


1. Latar Belakang & Definisi#

Demam Tifoid adalah penyakit sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi. Penyakit ini menular melalui rute fekal-oral (makanan atau air yang terkontaminasi feses penderita/karier).

Definisi Kasus#

  • Kasus Suspek: Setiap orang dengan demam bertahap (step-ladder fever) suhu $\ge$ 38°C selama 3 hari atau lebih, disertai gejala seperti sakit kepala, malaise, kehilangan nafsu makan, sembelit atau diare, dan batuk kering tanpa sebab lain yang jelas.
  • Kasus Konfirmasi: Kasus suspek yang dikonfirmasi melalui isolasi S. Typhi dari darah, sumsum tulang, atau tinja.

2. Diagnosis Klinis & Laboratorium#

Gejala Klinis Utama#

  • Minggu ke-1: Demam naik perlahan (step-ladder), sakit kepala, nyeri otot, mual, batuk kering.
  • Minggu ke-2: Demam tinggi terus-menerus (39–40°C), perut kembung, pembesaran limpa (splenomegali), bradikardia relatif (nadi lambat saat demam tinggi), bintik merah di kulit (rose spots).
  • Minggu ke-3: Komplikasi serius dapat terjadi jika tidak diobati (perdarahan usus, perforasi usus, ensefalopati).

Pemeriksaan Laboratorium#

  1. Kultur Darah: Standar baku (Gold Standard). Paling efektif diambil pada minggu pertama demam (sensitivitas 60-80%).
  2. Kultur Tinja: Berguna pada minggu ke-2 dan ke-3, serta untuk mendeteksi karier kronis.
  3. Uji Widal: Sering digunakan namun memiliki keterbatasan (banyak positif palsu/negatif palsu). Kenaikan titer 4x lipat pada sampel serum berpasangan (akut dan konvalesen) lebih bermakna diagnostik daripada tes tunggal.

3. Penatalaksanaan Medis#

Pengobatan dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakit dan kondisi pasien.

A. Prinsip Pengobatan#

  • Pemberian antibiotik yang tepat secara dini.
  • Terapi suportif (cairan, nutrisi, antipiretik).
  • Pemantauan komplikasi.

B. Protokol Antibiotik#

Berikut adalah rekomendasi rejimen antibiotik untuk Demam Tifoid:

Kategori PasienPilihan ObatDosis & Cara PemberianDurasi
Penyakit Ringan<br>(Rawat Jalan)CiprofloxacinDewasa: 500 mg (2x sehari)<br>Anak: 15 mg/kg (2x sehari)5 – 7 hari
Alternatif: AzithromycinDewasa: 1 g (hari 1), lalu 500 mg/hari<br>Anak: 20 mg/kg (hari 1), lalu 10 mg/kg5 – 7 hari
Penyakit Berat<br>(Rawat Inap)CeftriaxoneDewasa: 2 – 3 gram (1x sehari, IV)<br>Anak: 100 mg/kg (1x sehari, IV)10 – 14 hari
Alternatif: Ciprofloxacin (IV)Dewasa: 400 mg (2x sehari, IV)<br>Anak: 10 mg/kg (2x sehari, IV)10 – 14 hari
Ibu HamilCeftriaxone2 gram (1x sehari, IV/IM)10 – 14 hari
Alternatif: Amoxicillin1 gram (3x sehari, Oral)14 hari
Karier KronisCiprofloxacin750 mg (2x sehari)4 – 6 minggu
Alternatif: Amoxicillin1 gram (3x sehari)6 minggu

> Catatan: Ciprofloxacin dikontraindikasikan (tidak disarankan) untuk ibu hamil. Gunakan Ceftriaxone atau Amoxicillin.

C. Terapi Suportif#

  1. Cairan: Rehidrasi oral (Oralit) atau infus IV (Ringer Laktat/Normal Saline) untuk mencegah dehidrasi akibat demam dan diare.
  2. Nutrisi: Diet lunak tinggi kalori dan protein. Makan porsi kecil tapi sering. Hindari makanan berserat tinggi/kasar untuk mengurangi risiko perforasi usus.
  3. Antipiretik: Parasetamol untuk menurunkan demam (hindari aspirin/NSAID karena risiko perdarahan).

4. Komplikasi#

Komplikasi biasanya muncul pada minggu ke-2 atau ke-3 jika pengobatan terlambat:

  1. Perdarahan Intestinal: Ditandai dengan tinja berwarna hitam (melena) atau darah segar, kulit pucat, nadi cepat, tekanan darah turun.
  2. Perforasi Usus (Usus Jebol): Nyeri perut hebat mendadak, perut kaku seperti papan (board-like rigidity). Memerlukan tindakan bedah segera.
  3. Ensefalopati Tifoid: Penurunan kesadaran, delirium, stupor.

5. Pencegahan dan Pengendalian Wabah#

Strategi utama pencegahan berfokus pada penyediaan air bersih, sanitasi, dan kebersihan makanan (WASH).

Tindakan Pencegahan Utama#

  • Air Minum Aman: Klorinasi air di tingkat rumah tangga atau merebus air hingga mendidih (minimal 1 menit).
  • Cuci Tangan: Wajib cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah dari toilet dan sebelum makan/menyiapkan makanan.
  • Keamanan Pangan:
    • Masak makanan hingga matang sempurna (suhu inti $\ge$ 70°C).
    • Makan selagi panas.
    • Kupas buah-buahan sendiri (Cook it, boil it, peel it, or leave it).
  • Sanitasi: Pembuangan tinja yang aman (penggunaan jamban/latrine) untuk memutus rantai penularan.

Vaksinasi#

Vaksinasi tifoid direkomendasikan sebagai tindakan pelengkap, terutama di daerah endemis tinggi atau saat wabah.

  1. Vaksin Vi Polosakarida (Suntik): Dosis tunggal, perlindungan sekitar 60-70% selama 3 tahun.
  2. Vaksin Oral Ty21a: Kapsul (3-4 dosis), perlindungan hingga 5-7 tahun.

6. Surveilans Kesehatan Masyarakat#

Dalam situasi wabah:

  • Setiap kasus suspek harus segera dilaporkan ke otoritas kesehatan setempat.
  • Investigasi sumber penularan (sumber air, penjaja makanan) harus dilakukan.
  • Pembuatan line list kasus (daftar baris) mencakup nama, umur, lokasi, tanggal onset, dan status vaksinasi.