Clinical Library
Buku Ajar

2024 PAPDI Demam Tifoid

Terbit: 2024
Download PDF

Ringkasan Lengkap: Demam Tifoid (Tifus Abdominalis)#

Sumber: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (PAPDI) Penulis: Djoko Widodo, Adityo Susilo


1. Pendahuluan & Epidemiologi#

Demam tifoid (demam enterik) adalah penyakit sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan endemik di Indonesia dan berkaitan erat dengan kualitas sanitasi lingkungan serta penyediaan air bersih.

  • Insiden: Bervariasi antar daerah. Lebih tinggi di daerah urban (perkotaan) dibandingkan rural (pedesaan) karena kepadatan dan masalah sanitasi.
  • Kelompok Usia: Data tahun 2008 menunjukkan prevalensi tinggi pada anak usia 2-15 tahun, namun tetap dapat menyerang usia dewasa ($\ge$ 16 tahun).
  • Case Fatality Rate (CFR): Diperkirakan sekitar 0,6 – 5%.

2. Patogenesis#

Infeksi terjadi melalui makanan/minuman yang terkontaminasi (fekal-oral).

  1. Masuknya Kuman: Kuman masuk ke lambung (sebagian mati oleh asam lambung), lalu ke usus halus.
  2. Invasi: Menembus dinding usus melalui sel M di Peyer’s patch ileum distal.
  3. Penyebaran (Bakteremia Primer): Kuman difagosit oleh makrofag, masuk ke kelenjar getah bening mesenterika, lalu ke sirkulasi darah (bakteremia asimtomatik) menyebar ke organ retikuloendotelial (hati & limpa).
  4. Replikasi & Bakteremia Sekunder: Kuman berkembang biak di hati/limpa, lalu masuk kembali ke darah (bakteremia kedua). Saat inilah gejala sistemik (demam) muncul.
  5. Siklus Enterohepatik: Kuman masuk ke kandung empedu, diekskresikan kembali ke usus, menyebabkan re-infeksi pada Peyer’s patch yang memicu reaksi inflamasi, nekrosis, hingga risiko perdarahan atau perforasi usus.

3. Gambaran Klinis#

Masa inkubasi berlangsung 10–14 hari. Gejala bervariasi dari ringan hingga berat.

PeriodeGejala & Tanda Klinis
Minggu Pertama• Demam meningkat perlahan (step-ladder), terutama sore/malam.<br>• Nyeri kepala, pusing, nyeri otot.<br>• Anoreksia, mual, muntah.<br>• Gangguan BAB (obstipasi atau diare).<br>• Batuk dan mimisan (epistaksis).
Minggu Kedua• Demam menetap tinggi.<br>Bradikardia relatif (peningkatan suhu tidak diikuti peningkatan nadi yang sesuai).<br>Lidah tifoid (kotor di tengah, tepi/ujung merah, tremor).<br>• Hepatomegali & Splenomegali (pembesaran hati & limpa).<br>• Gangguan mental (somnolen, delirium, hingga koma).

4. Pemeriksaan Penunjang#

Laboratorium Rutin#

  • Darah Tepi: Sering ditemukan leukopenia (leukosit rendah), namun bisa normal/leukositosis. Anemia ringan dan trombositopenia sering terjadi.
  • Enzim Hati: SGOT dan SGPT sering meningkat (akan normal setelah sembuh).

Pemeriksaan Serologis & Mikrobiologis#

MetodeDeskripsi & Keterangan
Kultur (Biakan)Standar Baku (Gold Standard). Kultur darah positif memastikan diagnosis, tapi hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis (bisa karena antibiotik sebelumnya atau volume darah kurang).
Uji WidalMendeteksi antibodi aglutinin O dan H. Memiliki kelemahan (reaksi silang/positif palsu). Kenaikan titer 4x lipat pada pemeriksaan serial lebih bermakna daripada pemeriksaan tunggal.
Uji TyphidotMendeteksi antibodi IgM dan IgG spesifik terhadap protein membran luar S. typhi. Sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi.
IgM DipstickMendeteksi IgM spesifik. Mudah dan cepat, akurat bila diperiksa 1 minggu setelah gejala muncul.

5. Penatalaksanaan#

Prinsip penanganan terdiri dari tiga pilar utama (Trilogi Penatalaksanaan):

A. Istirahat & Perawatan#

  • Tirah baring (bed rest) untuk mencegah komplikasi.
  • Menjaga kebersihan perseorangan dan posisi pasien untuk mencegah dekubitus.

B. Diet & Terapi Penunjang#

  • Tujuan: Mengembalikan nutrisi optimal.
  • Diet: Dulu bubur saring, namun kini nasi lunak/padat dini dengan lauk pauk rendah selulosa (serat) diperbolehkan dan aman, serta mempercepat pemulihan.

C. Pemberian Antimikroba (Antibiotik)#

Berikut adalah pilihan antibiotik yang umum digunakan:

Golongan ObatDosis DewasaKeterangan
Kloramfenikol4 x 500 mg (Oral/IV)Obat pilihan klasik di Indonesia. Diberikan sampai 7 hari bebas demam.
Tiamfenikol4 x 500 mgEfek samping hematologi lebih rendah dari kloramfenikol.
Kotrimoksazol2 x 2 tabletKombinasi Sulfametoksazol & Trimetoprim. Durasi 2 minggu.
Ampisilin / Amoksisilin50-150 mg/kgBBKemampuan menurunkan demam lebih lambat dibanding kloramfenikol.
Sefalosporin Gen-3Seftriakson: 3-4 gram (IV) sekali sehariSangat efektif, diberikan selama 3–5 hari.
FluorokuinolonSiprofloksasin: 2 x 500 mg<br>Levofloksasin: 1 x 500 mgSangat efektif mengurangi durasi rawat.
Azitromisin1 gram (hari 1) lalu 500 mgEfektif untuk kasus resisten (MDR) dan mengurangi angka relaps.

Catatan Khusus Kehamilan:

  • DILARANG: Fluorokuinolon, Kotrimoksazol, Tiamfenikol (Trimester 1), Kloramfenikol (Trimester 3).
  • AMAN: Ampisilin, Amoksisilin, Seftriakson.

6. Komplikasi#

Komplikasi terjadi pada 10-15% pasien, biasanya pada minggu ke-3 atau lebih.

Komplikasi Intestinal (Usus)#

  1. Perdarahan Intestinal: Akibat tukak pada Peyer's patch menembus pembuluh darah. Bisa masif hingga syok.
  2. Perforasi Usus: Tukak menembus dinding usus. Gejala: Nyeri perut hebat kuadran kanan bawah, bising usus hilang, udara bebas di rongga perut (foto BNO). Perlu tindakan bedah darurat dan antibiotik spektrum luas.

Komplikasi Ekstra-Intestinal#

  • Hematologi: Koagulasi Intravaskular Diseminata (KID), trombositopenia.
  • Kardiovaskular: Miokarditis (penyebab kematian yang sering pada kasus berat), syok kardiogenik.
  • Neuropsikiatrik (Toksik Tifoid): Kesadaran menurun, delirium, gejala psikosis. Diterapi dengan kombinasi antibiotik + Deksametason (kortikosteroid) dosis tinggi (3 x 5 mg).
  • Lainnya: Hepatitis tifosa, pankreatitis, pneumonia, nefritis.

7. Demam Tifoid Karier#

Definisi: Ditemukannya kuman S. typhi pada feses atau urin selama lebih dari 1 tahun pasca sakit tanpa gejala klinis. Sering berhubungan dengan batu empedu (kolelitiasis) atau infeksi saluran kemih kronis.

Tabel Pengobatan Karier:

KondisiPilihan Terapi
Tanpa Batu Empedu• Ampisilin (100 mg/kg) + Probenesid (30 mg/kg)<br>• Amoksisilin (100 mg/kg) + Probenesid (30 mg/kg)<br>• Kotrimoksazol (2 x 2 tablet)<br>(Durasi terapi: 3 bulan)
Dengan Batu EmpeduKolesistektomi (Operasi angkat kandung empedu) + Antibiotik.<br>• Jika tanpa operasi: Siprofloksasin 2 x 750 mg atau Norfloksasin 2 x 400 mg.
Dengan Schistosoma• Eradikasi Schistosoma (Prazikuantel) terlebih dahulu, baru terapi antibiotik tifoid.

8. Pencegahan & Vaksinasi#

Strategi pencegahan meliputi sanitasi air, kebersihan makanan, dan identifikasi karier (terutama penjamah makanan).

Vaksinasi Tifoid#

Vaksinasi dianjurkan untuk pengunjung ke daerah endemik atau kontak erat dengan karier.

  1. Vaksin Oral (Ty21a): Vaksin hidup yang dilemahkan.
  2. Vaksin Parenteral (ViCPS): Vaksin polisakarida kapsul. Proteksi sekitar 60-77% selama 3 tahun. Efek samping biasanya ringan (nyeri lokal, demam ringan).

Kontraindikasi Vaksin Oral:

  • Wanita hamil.
  • Imunokompromais (HIV/AIDS).
  • Sedang mengonsumsi antibiotik atau antimalaria (harus diberi jeda waktu).