Rangkuman Guidelines Penggunaan Antiretroviral pada Dewasa dan Remaja dengan HIV#
Sumber utama: Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in Adults and Adolescents With HIV
Penyusun: U.S. Department of Health and Human Services (HHS), Panel on Antiretroviral Guidelines for Adults and Adolescents
Versi pada dokumen: diperbarui/direviu 27 Mei 2026
Dokumen sumber: 652 halaman
Catatan penting: Rangkuman ini disusun berdasarkan dokumen yang diberikan dan mempertahankan kerangka serta rekomendasi utama sumber. Dokumen HHS merupakan pedoman Amerika Serikat; penerapan klinis di Indonesia tetap perlu disesuaikan dengan pedoman nasional, ketersediaan obat, formularium, resistensi lokal, serta kondisi individual pasien.
1. Pesan Utama#
- ART direkomendasikan untuk semua orang dengan HIV, tanpa bergantung pada jumlah CD4 atau viral load.
- ART sebaiknya dimulai pada saat diagnosis atau sesegera mungkin bila memungkinkan.
- Tujuan utama ART adalah:
- mencapai dan mempertahankan supresi HIV RNA secara maksimal dan berkelanjutan;
- memulihkan dan mempertahankan fungsi imun;
- menurunkan morbiditas terkait HIV dan memperpanjang kualitas serta lama hidup;
- mencegah transmisi HIV.
- Supresi viral load yang berkelanjutan merupakan target terpenting keberhasilan terapi.
- Pemilihan regimen harus mempertimbangkan resistensi, komorbiditas, interaksi obat, toksisitas, kemudahan penggunaan, akses, biaya, dan kemampuan mempertahankan kepatuhan.
- ART tidak eradikatif; penghentian/interupsi ART dapat menyebabkan rebound viremia, penurunan fungsi imun, dan peningkatan risiko morbiditas/mortalitas.
2. Perubahan Penting pada Pembaruan 2026#
Dokumen mencantumkan pembaruan 27 Mei 2026.
2.1 Penyakit kardiovaskular dan metabolik#
Bab baru mengenai:
- inflamasi dan aktivasi imun pada HIV yang mendapat ART;
- komplikasi kardiovaskular;
- peningkatan berat badan pada HIV yang mendapat terapi;
- komplikasi metabolik dan isu penuaan.
Dengan keberhasilan ART, harapan hidup semakin mendekati populasi tanpa HIV sehingga penyakit kronis terkait usia menjadi semakin penting.
2.2 Statin#
Pedoman HHS menyatakan bahwa bagian khusus mengenai statin untuk pencegahan primer ASCVD akan mengacu pada pedoman dislipidemia ACC/AHA/Multisociety 2026 karena rekomendasi tersebut telah diperbarui secara khusus untuk populasi HIV.
2.3 Monitoring laboratorium#
Frekuensi monitoring:
- CD4;
- basic metabolic panel;
- enzim hati;
- profil lipid;
diperbarui.
Ditambahkan pula tabel khusus mengenai monitoring laboratorium bila ART ditunda.
2.4 Viral load bila ART ditunda#
Jika ART ditunda, HIV RNA kini direkomendasikan diperiksa setiap 3–6 bulan.
2.5 Early/acute HIV#
Bab mengenai acute/recent HIV diperkuat dengan penekanan:
- ART dimulai sesegera mungkin;
- fase early HIV merupakan periode dengan infektivitas tinggi;
- ART dini memberikan manfaat imunologis dan menurunkan transmisi.
2.6 ART pada pasien rawat inap#
Jika diagnosis HIV ditemukan selama hospitalisasi, ART dianjurkan dimulai selama rawat inap bila memungkinkan, dan pasien harus mendapat persediaan obat yang cukup sampai kunjungan rawat jalan.
2.7 Elite controllers#
ART direkomendasikan pada elite controllers dengan komplikasi terkait HIV, penurunan CD4, viral load yang intermiten terdeteksi, komorbiditas tertentu, atau kehamilan. Pedoman juga merekomendasikan ART pada elite controllers lainnya.
3. Evaluasi Awal / Baseline#
Setiap pasien HIV yang masuk ke dalam perawatan perlu menjalani:
- anamnesis lengkap;
- pemeriksaan fisik;
- pemeriksaan laboratorium;
- edukasi mengenai HIV dan transmisinya;
- diskusi manfaat ART;
- strategi meningkatkan keterlibatan dalam perawatan dan kepatuhan.
Pemeriksaan laboratorium penting#
| Pemeriksaan | Tujuan utama |
|---|---|
| HIV antigen/antibodi | Konfirmasi bila dokumentasi diagnosis belum tersedia |
| CD4 | Status imun dan kebutuhan profilaksis OI |
| HIV RNA / viral load | Baseline dan monitoring respons ART |
| Darah lengkap | Baseline dan keamanan terapi |
| Kreatinin/fungsi ginjal | Pemilihan dan monitoring ARV |
| AST/ALT/bilirubin | Baseline dan keamanan hati |
| Glukosa | Risiko/metabolik |
| Urinalisis | Baseline ginjal |
| Serologi HAV/HBV/HCV | Identifikasi koinfeksi |
| Lipid | Risiko kardiometabolik |
| HLA-B*5701 | Bila abacavir dipertimbangkan |
| Genotip resistensi | Membantu memilih regimen awal |
| Skrining IMS | Identifikasi dan tata laksana koinfeksi |
| Skrining OI | Berdasarkan kondisi klinis/CD4 |
| Skrining kanker | Sesuai usia dan faktor risiko |
Prinsip rapid/same-day ART#
Hasil CD4 dan HIV RNA tidak harus tersedia sebelum ART dimulai.
Jika tersedia, hasil keamanan seperti:
- darah lengkap;
- fungsi ginjal;
- enzim hati;
sebaiknya direview, tetapi ART dapat dimulai sebelum hasil tersedia dengan review hasil sesegera mungkin.
Genotip resistensi sebaiknya diambil sebelum ART, tetapi terapi tidak perlu ditunda sampai hasil tersedia.
4. Drug-Resistance Testing#
Prinsip utama#
Genotypic resistance testing:
- direkomendasikan saat pasien masuk ke perawatan HIV;
- lebih disukai daripada phenotypic testing;
- digunakan untuk membantu memilih regimen ART awal.
Pada pasien ARV-naive, pemeriksaan genotip standar terutama mencakup:
- reverse transcriptase (RT);
- protease (PR).
Kapan pemeriksaan INSTI ditambahkan?#
Pertimbangkan/pastikan pemeriksaan gen resistensi integrase bila:
- terdapat kecurigaan resistensi INSTI;
- pasien pernah menggunakan long-acting cabotegravir (CAB-LA) sebagai PrEP;
- pasien pernah menerima regimen berbasis INSTI sebagai PEP;
- terdapat keadaan lain yang meningkatkan kemungkinan resistensi INSTI.
Prinsip penting#
Jangan menunda ART hanya karena menunggu hasil resistance testing.
Setelah hasil tersedia, regimen dapat disesuaikan bila diperlukan.
5. Monitoring Viral Load dan CD4#
5.1 Viral load#
HIV RNA adalah indikator paling penting untuk menilai keberhasilan ART.
Setelah memulai ART#
- ukur saat ART dimulai;
- ulangi dalam 4–8 minggu;
- ulangi setiap 4–8 minggu sampai tercapai supresi sesuai batas deteksi assay.
Pada pasien yang responsnya baik, banyak pasien mencapai supresi sekitar 8–12 minggu, walaupun sebagian dapat memerlukan waktu lebih lama.
Pasien dengan regimen stabil dan viral suppression#
- umumnya setiap 3–4 bulan;
- interval dapat diperpanjang menjadi 6 bulan pada pasien yang:
- adherent;
- sudah suppressed >1 tahun;
- klinis dan imunologis stabil;
- tidak memiliki risiko kepatuhan yang buruk.
Bila ART diubah karena virologic failure#
- periksa viral load sebelum perubahan;
- ulangi dalam 4–8 minggu;
- lanjutkan setiap 4–8 minggu sampai suppressed.
5.2 Definisi virologis penting#
Virologic suppression#
HIV RNA terkonfirmasi di bawah lower limit of detection assay.
Virologic failure#
Ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan supresi HIV RNA <200 copies/mL.
Incomplete virologic response#
Dua hasil HIV RNA berturut-turut ≥200 copies/mL setelah 24 minggu terapi pada pasien yang belum pernah terdokumentasi suppressed dengan regimen tersebut.
Virologic rebound#
Setelah sebelumnya suppressed, HIV RNA terkonfirmasi kembali ≥200 copies/mL.
Virologic blip#
HIV RNA terdeteksi secara terisolasi kemudian kembali suppressed.
Low-level viremia#
HIV RNA terkonfirmasi di atas batas deteksi tetapi <200 copies/mL.
6. Monitoring CD4#
CD4:
- diperiksa pada saat masuk perawatan;
- membantu menentukan kebutuhan profilaksis OI;
- digunakan untuk menilai respons imun;
- membantu menentukan kapan profilaksis OI dapat dihentikan.
Setelah ART#
Pada pasien dengan CD4 awal <300 sel/mm³:
- ulang sekitar 3 bulan setelah ART;
- pada 1–2 tahun pertama terapi yang suppressive: sekitar setiap 3–4 bulan.
Jika CD4 ≥300 sel/mm³ dan viral load suppressed:
- umumnya setiap 6 bulan.
Setelah 1–2 tahun terapi suppressive:
- pada CD4 ≥300 sel/mm³, monitoring CD4 dapat menjadi opsional kecuali ada indikasi klinis;
- pada CD4 <300 sel/mm³, interval 6 bulan dapat dipertimbangkan.
Poor CD4 recovery dengan viral suppression biasanya bukan alasan untuk mengganti regimen ART.
7. Regimen ART Awal#
Pedoman menempatkan second-generation INSTI sebagai komponen utama terapi awal untuk sebagian besar pasien.
Regimen yang direkomendasikan untuk kebanyakan pasien#
Pilihan 1#
BIC/TAF/FTC
Pilihan 2#
DTG + TAF/FTC
atau
DTG + TDF/FTC
atau
DTG + TDF/3TC
Pilihan 3#
DTG/3TC
tetapi tidak digunakan pada:
- HIV RNA >500.000 copies/mL;
- koinfeksi HBV;
- kondisi ketika ART dimulai sebelum hasil genotip RT atau pemeriksaan HBV tersedia.
8. Bila Pernah Menggunakan CAB-LA sebagai PrEP#
Riwayat CAB-LA sangat penting karena dapat berhubungan dengan resistensi INSTI.
Jika seseorang mengalami HIV setelah menggunakan CAB-LA sebagai PrEP:
- lakukan INSTI genotypic resistance testing;
- bila hasil belum tersedia, hindari memulai regimen INSTI;
- gunakan regimen berbasis boosted darunavir + dua NRTI sambil menunggu hasil.
Contoh:
DRV/c atau DRV/r + TAF/TDF + FTC/3TC
Setelah sensitivitas terhadap INSTI dipastikan, regimen dapat disesuaikan.
9. Pemilihan TAF vs TDF#
TAF#
Keuntungan utama:
- toksisitas ginjal dan tulang umumnya lebih rendah dibanding TDF.
TDF#
Keuntungan/karakteristik:
- berhubungan dengan profil lipid yang lebih rendah dibanding TAF;
- juga aktif terhadap HBV.
Pemilihan harus mempertimbangkan:
- fungsi ginjal;
- kesehatan tulang;
- profil lipid;
- komorbiditas;
- biaya;
- akses obat.
10. Abacavir dan HLA-B*5701#
Jika abacavir (ABC) akan digunakan:
- lakukan pemeriksaan HLA-B*5701;
- jika positif, jangan gunakan abacavir;
- hasil positif harus dicatat sebagai alergi/kontraindikasi.
HLA-B*5701 sangat berkaitan dengan risiko hypersensitivity reaction terhadap abacavir.
11. Pertimbangan Klinis Saat Memilih Regimen#
Pemilihan regimen harus individual.
Pertimbangkan:
- viral load awal;
- CD4;
- hasil resistance test;
- koinfeksi HBV;
- fungsi ginjal;
- fungsi hati;
- risiko penyakit kardiovaskular;
- kesehatan tulang;
- kehamilan/kemungkinan hamil;
- obat lain yang digunakan;
- potensi drug–drug interaction;
- efek samping;
- pill burden;
- frekuensi pemberian;
- kemampuan adherence;
- biaya dan akses.
Contoh skenario penting#
| Kondisi | Pertimbangan |
|---|---|
| CD4 <200 | Hindari regimen RPV-based |
| HIV RNA >100.000 | Hindari regimen RPV-based |
| HIV RNA >500.000 | Hindari DTG/3TC dan RPV/TAF/FTC |
| HLA-B*5701 positif/tidak diketahui | Jangan gunakan ABC |
| HBV/HIV | Regimen harus mengandung aktivitas terhadap HBV |
| Riwayat CAB-LA PrEP | Perhatikan resistensi INSTI |
| Gangguan ginjal | Evaluasi TDF dan penyesuaian dosis |
| Risiko osteoporosis | Pertimbangkan dampak TDF |
| Polypharmacy | Periksa interaksi obat secara sistematis |
12. Early / Acute / Recent HIV#
Early HIV meliputi:
- acute HIV: fase segera setelah transmisi;
- recent HIV: sekitar 6 bulan pertama setelah infeksi.
Fase ini memiliki:
- infektivitas tinggi;
- peluang transmisi tinggi;
- manfaat imunologis dari ART dini.
Rekomendasi#
ART dimulai sesegera mungkin.
Resistance testing:
- diambil sebelum ART;
- tetapi tidak boleh menunda ART.
Jika acute HIV sangat dicurigai dan pemeriksaan konfirmasi masih berjalan, ART dapat dimulai tanpa menunggu seluruh hasil.
13. Treatment as Prevention / U=U#
Supresi HIV dengan ART memiliki manfaat individual dan pencegahan transmisi.
Viral suppression yang berkelanjutan menjadi dasar konsep:
Undetectable = Untransmittable (U=U).
Pada early HIV, karena risiko transmisi sangat tinggi sebelum suppression tercapai, pasien perlu menggunakan strategi pencegahan tambahan sampai viral load terdokumentasi suppressed.
14. Virologic Failure#
Penyebab utama#
Faktor virus#
- transmitted resistance;
- acquired resistance;
- riwayat kegagalan terapi;
- viral load awal tinggi.
Faktor regimen#
- barrier to resistance rendah;
- potensi virologis tidak optimal;
- absorpsi/metabolisme tidak optimal;
- interaksi obat;
- interaksi obat–makanan;
- efek samping;
- pill burden.
Faktor pasien/sistem#
- adherence buruk;
- masalah psikososial;
- penggunaan zat;
- masalah kesehatan mental;
- missed appointments;
- akses obat tidak konsisten;
- biaya obat.
15. Pendekatan Bila Terjadi Virologic Failure#
Sebelum mengganti regimen:
- pastikan virologic failure;
- evaluasi adherence;
- telaah seluruh riwayat ART;
- review seluruh hasil resistance test lama;
- lakukan resistance testing bila sesuai;
- evaluasi drug–drug interaction;
- evaluasi drug–food interaction;
- evaluasi tolerabilitas;
- tentukan obat yang masih aktif;
- bila perlu konsultasikan kepada ahli HIV/resistensi.
Prinsip pergantian regimen#
Regimen baru harus dibangun berdasarkan:
- riwayat ART;
- mutasi resistensi saat ini;
- mutasi resistensi sebelumnya;
- jumlah obat aktif;
- barrier to resistance;
- kemampuan pasien mempertahankan adherence.
Jangan menghentikan ART hanya karena terjadi virologic failure.
16. Resistance Testing pada Virologic Failure#
Resistance testing direkomendasikan pada pasien ART dengan:
- HIV RNA >1.000 copies/mL: rekomendasi kuat;
- HIV RNA 501–1.000 copies/mL: direkomendasikan;
- HIV RNA 201–500 copies/mL: dapat dipertimbangkan meskipun keberhasilan pemeriksaan lebih rendah.
Sebaiknya dilakukan:
- saat pasien masih menggunakan ART; atau
- dalam 4 minggu setelah penghentian ARV non-long-acting bila penghentian tidak dapat dihindari.
Jika pasien pernah menggunakan LA CAB/RPV dan mengalami failure, resistance testing termasuk INSTI testing perlu dipertimbangkan tanpa bergantung pada waktu sejak dosis terakhir.
17. HBV/HIV Coinfection#
Ini merupakan salah satu kondisi yang paling penting dalam pemilihan ART.
Prinsip utama#
Semua pasien HIV perlu skrining hepatitis A, B, dan C.
Pada HBsAg positif:
- periksa HBV DNA kuantitatif;
- ART harus mengandung obat aktif terhadap HIV dan HBV.
Backbone yang direkomendasikan#
TAF atau TDF + FTC atau 3TC
Karena:
- TAF aktif terhadap HIV dan HBV;
- TDF aktif terhadap HIV dan HBV;
- FTC aktif terhadap HIV dan HBV;
- 3TC aktif terhadap HIV dan HBV.
Jangan gunakan 3TC atau FTC sebagai satu-satunya obat anti-HBV#
Monoterapi HBV dengan 3TC/FTC dapat menyebabkan resistensi HBV.
Bila tenofovir tidak dapat digunakan#
Entecavir dapat digunakan sebagai terapi HBV, tetapi:
- harus diberikan bersama regimen ART yang fully suppressive;
- jangan diberikan sebagai monoterapi pada pasien HIV karena aktivitas terhadap HIV yang lemah dapat memilih resistensi M184V.
Jangan menghentikan terapi anti-HBV secara sembarangan#
Penghentian TAF/TDF/obat anti-HBV dapat memicu:
- HBV reactivation;
- hepatitis flare;
- cedera hepatoseluler serius.
Hal ini sangat penting ketika melakukan switch ke regimen long-acting.
18. HCV/HIV Coinfection#
Semua pasien HIV perlu skrining HCV.
Jika HCV antibody positif:
- lakukan HCV RNA kuantitatif untuk menentukan infeksi aktif.
Pada HCV/HIV:
- ART tetap direkomendasikan;
- pasien merupakan kandidat terapi HCV kuratif;
- staging penyakit hati diperlukan;
- periksa kemungkinan HBV;
- perhatikan drug–drug interaction antara ARV dan DAA.
Jika terdapat HBV aktif, terapi HIV harus mengandung agen aktif terhadap HBV sebelum/selama terapi HCV karena risiko reaktivasi HBV.
19. TB/HIV Coinfection#
Semua pasien HIV dengan TB aktif yang belum mendapat ART perlu memulai ART.
Berdasarkan CD4#
| CD4 | Waktu memulai ART |
|---|---|
| <50 sel/mm³ | sesegera mungkin, dalam 2 minggu setelah mulai terapi TB |
| ≥50 sel/mm³ | 2–8 minggu setelah mulai terapi TB |
| TB meningitis | setelah TB meningitis terkontrol dan minimal 2 minggu terapi TB |
| Kehamilan | ART sedini mungkin, tanpa bergantung CD4 |
Drug–drug interaction antara ARV dan obat TB harus diperhatikan secara khusus.
Rifamycin dapat memengaruhi konsentrasi beberapa ARV sehingga regimen/dosis perlu disesuaikan.
20. HIV pada Kehamilan / Perempuan Usia Reproduktif#
Sebelum ART:
- lakukan pregnancy test;
- diskusikan rencana kehamilan;
- targetkan viral suppression maksimal sebelum konsepsi.
Pada kehamilan:
- genotypic resistance testing direkomendasikan;
- ART tidak boleh ditunda hanya karena menunggu hasil resistance testing;
- regimen harus mengikuti pedoman perinatal yang berlaku.
Tujuan:
- kesehatan ibu;
- viral suppression;
- mencegah transmisi seksual;
- mencegah transmisi perinatal.
21. Adolescents dan Young Adults#
Masalah utama selain pemilihan ART adalah:
- adherence;
- transisi layanan pediatrik ke dewasa;
- dukungan psikososial;
- kerahasiaan;
- keterlibatan dalam perawatan;
- konsistensi kunjungan.
Pedoman menyediakan strategi khusus untuk memperbaiki adherence dan transisi perawatan.
Untuk remaja prepubertal dengan sexual maturity rating rendah, pedoman pediatrik harus digunakan; pedoman dewasa terutama ditujukan untuk remaja postpubertal.
22. Older People With HIV#
Dengan bertambahnya usia pasien HIV, perhatian harus lebih besar pada:
- ASCVD;
- penyakit ginjal;
- penyakit hati;
- tulang;
- metabolik;
- sistem saraf;
- polypharmacy.
Review seluruh obat:
- resep;
- OTC;
- suplemen;
- herbal;
diperlukan secara berkala.
TDF dan boosted PI berhubungan dengan perhatian lebih besar terhadap kesehatan tulang pada populasi lanjut usia.
23. HIV-2#
HIV-2 berbeda dari HIV-1 dalam respons terhadap obat.
Poin penting:
- HIV-2 secara intrinsik resisten terhadap NNRTI;
- NNRTI-based regimens tidak direkomendasikan;
- LA CAB/RPV tidak digunakan untuk HIV-2;
- regimen harus aktif terhadap HIV-2;
- monitoring HIV-2 RNA dan CD4 diperlukan.
Bila terjadi kegagalan terapi HIV-2, konsultasi dengan ahli HIV-2 sangat dianjurkan.
24. Adverse Effects ART#
ART modern umumnya jauh lebih ditoleransi dibanding regimen generasi awal.
Namun efek jangka panjang tetap perlu diperhatikan.
Area utama:
- kardiovaskular;
- metabolik;
- berat badan;
- ginjal;
- tulang;
- hati;
- neuropsikiatri;
- interaksi obat.
INSTI#
BIC dan DTG:
- memiliki barrier resistensi tinggi;
- umumnya sangat efektif;
- interaksi obat relatif rendah.
Namun perlu diperhatikan:
- peningkatan berat badan;
- insomnia;
- sakit kepala;
- efek neuropsikiatri pada sebagian pasien;
- peningkatan kreatinin serum karena efek terhadap sekresi tubular kreatinin, terutama pada DTG, tanpa harus menunjukkan penurunan GFR.
25. Interaksi Obat#
Interaksi obat merupakan komponen penting dalam pemilihan regimen.
Perhatian khusus pada:
- ritonavir;
- cobicistat;
- protease inhibitors;
- NNRTIs;
- INSTIs;
- obat TB;
- antasida/kation;
- obat transplantasi;
- terapi HCV;
- obat kardiovaskular;
- obat psikiatri;
- obat antikonvulsan;
- suplemen/herbal.
Contoh penting: DTG dan kation#
Absorpsi DTG dapat berkurang bila diberikan bersama kation polyvalent.
DTG:
- diberikan ≥2 jam sebelum atau ≥6 jam sesudah antasida/laksatif yang mengandung kation;
atau
- suplemen kalsium/besi dapat diberikan bersamaan dengan DTG bila diminum bersama makanan.
26. Cardiovascular & Metabolic Complications#
ART telah mengubah HIV menjadi penyakit kronis dengan survival jauh lebih panjang.
Akibatnya, fokus klinis bergeser dari sekadar mengontrol HIV menjadi juga mencegah:
- ASCVD;
- dislipidemia;
- peningkatan berat badan;
- resistensi insulin;
- diabetes;
- metabolic syndrome;
- penyakit hati metabolik;
- kanker terkait virus;
- penyakit terkait usia.
Tiga faktor yang berkontribusi:
- faktor risiko tradisional lebih tinggi pada populasi HIV;
- efek kardiometabolik obat tertentu;
- inflamasi dan aktivasi imun kronis yang tidak sepenuhnya hilang meskipun viral load suppressed.
27. Weight Gain#
Beberapa studi menunjukkan peningkatan berat badan lebih besar pada regimen berbasis INSTI, termasuk DTG.
Analisis gabungan delapan randomized controlled trials pada ART-naive menunjukkan peningkatan berat badan sekitar 3,5 kg pada 96 minggu pada regimen berbasis BIC dan DTG, dengan makna klinis yang masih perlu dipertimbangkan dalam konteks individual.
Peningkatan berat badan harus dinilai bersama:
- BMI;
- pola makan;
- aktivitas fisik;
- risiko diabetes;
- lipid;
- risiko kardiovaskular;
- regimen ART;
- faktor metabolik lain.
28. Adherence#
Adherence merupakan komponen fundamental keberhasilan ART.
Penyebab adherence buruk dapat berasal dari:
- regimen kompleks;
- efek samping;
- masalah psikososial;
- gangguan mental;
- penggunaan zat;
- akses obat;
- biaya;
- stigma;
- masalah transportasi;
- keterputusan layanan;
- missed appointment.
Strategi:
- regimen sederhana;
- edukasi;
- dukungan psikososial;
- memastikan akses obat;
- follow-up teratur;
- identifikasi hambatan sejak awal;
- dukungan adherence sebelum dan setelah pergantian regimen.
29. Discontinuation / Interruption ART#
Secara umum:
ART tidak dianjurkan untuk dihentikan atau diinterupsi.
Interupsi dapat menyebabkan:
- peningkatan cepat HIV RNA;
- penurunan CD4;
- rebound virus;
- peningkatan risiko progresi klinis.
Pada HBV/HIV, penghentian obat yang aktif terhadap HBV juga dapat menyebabkan HBV flare berat.
30. Long-Acting Injectable ART#
Cabotegravir + rilpivirine long-acting dapat digunakan sebagai strategi penggantian pada pasien tertentu yang telah memiliki viral suppression dan memenuhi kriteria.
Hal yang harus diperhatikan:
- riwayat resistensi;
- virologic suppression;
- adherence terhadap jadwal injeksi;
- interaksi dan karakteristik obat;
- risiko resistensi jika terjadi failure;
- pada HBV/HIV, tetap harus ada perlindungan terhadap HBV.
Riwayat CAB-LA sebagai PrEP memiliki implikasi berbeda karena dapat meningkatkan kekhawatiran resistensi INSTI.
31. Algoritme Praktis Klinis#
CodeDIAGNOSIS HIV TERKONFIRMASI │ ▼ Evaluasi baseline ├─ CD4 ├─ HIV RNA ├─ Genotip resistensi ├─ CBC + fungsi ginjal + hati ├─ HBV/HCV/HAV ├─ HLA-B*5701 bila ABC dipertimbangkan ├─ IMS/OI/kanker sesuai indikasi └─ Pregnancy test bila relevan │ ▼ ART segera / rapid ART │ ├── Riwayat CAB-LA PrEP? │ ├─ Ya → INSTI genotype │ │ └─ bila hasil belum ada → boosted DRV + 2 NRTI │ └─ Tidak → regimen INSTI sesuai kondisi │ ▼ Pilih regimen berdasarkan: ├─ HBV ├─ viral load ├─ CD4 ├─ ginjal ├─ tulang ├─ kardiovaskular ├─ kehamilan ├─ interaksi obat ├─ resistensi └─ adherence │ ▼ Monitoring HIV RNA 4–8 minggu │ ├─ Suppressed → lanjut + monitoring berkala │ └─ Tidak suppressed │ ▼ Evaluasi adherence Evaluasi interaksi Review riwayat ART Resistance testing │ ▼ Susun regimen baru │ ▼ HIV RNA 4–8 minggu
32. Ringkasan Regimen Berdasarkan Situasi#
| Situasi | Prinsip |
|---|---|
| Kebanyakan pasien ART-naive | BIC/TAF/FTC atau DTG + TAF/TDF + FTC/3TC |
| DTG/3TC | Hanya pada pasien terpilih |
| HIV RNA >500.000 | Hindari DTG/3TC |
| HBV/HIV | TAF/TDF + FTC/3TC sebagai backbone |
| HLA-B*5701 positif | Hindari ABC |
| Riwayat CAB-LA PrEP | Periksa INSTI resistance |
| CAB-LA PrEP + hasil INSTI belum ada | Boosted DRV + TAF/TDF + FTC/3TC |
| Virologic failure | Cari penyebab + resistance testing + regimen dengan obat aktif |
| TB + CD4 <50 | ART dalam 2 minggu setelah terapi TB |
| TB + CD4 ≥50 | ART dalam 2–8 minggu |
| TB meningitis | Tunda sampai TB terkendali dan ≥2 minggu terapi TB |
| Acute/recent HIV | ART sesegera mungkin |
| Kehamilan | ART segera; gunakan pedoman perinatal |
| HIV-2 | Hindari NNRTI; gunakan regimen aktif terhadap HIV-2 |
33. Poin "High-Yield" untuk Praktik Klinis#
- Semua pasien HIV → ART.
- Jangan menunggu CD4 atau viral load untuk memulai ART pada rapid-start yang sesuai.
- Resistance testing dilakukan sebelum ART, tetapi jangan menunda ART hanya karena menunggu hasil.
- BIC dan DTG adalah INSTI utama untuk terapi awal pada kebanyakan pasien.
- HBV harus selalu dipikirkan sebelum memilih regimen.
- Pada HBV/HIV, jangan mengandalkan 3TC/FTC sebagai satu-satunya obat aktif HBV.
- Riwayat CAB-LA PrEP mengubah strategi pemilihan ART karena risiko resistensi INSTI.
- HIV RNA adalah parameter utama keberhasilan ART.
- Virologic failure menggunakan ambang ≥200 copies/mL.
- Failure bukan otomatis berarti resistance; evaluasi adherence dan interaksi obat terlebih dahulu.
- Review semua resistance test lama dan baru sebelum menyusun regimen salvage.
- Jangan menghentikan ART tanpa alasan klinis yang kuat.
- Pada TB/HIV, waktu mulai ART dipengaruhi CD4 dan lokasi TB.
- Acute HIV → ART segera.
- Dengan viral suppression, fokus klinis semakin bergeser ke komorbiditas kronis, ASCVD, metabolik, kanker, tulang, ginjal, dan kualitas hidup.
34. Kekuatan dan Sistem Grading Rekomendasi#
Pedoman menggunakan kombinasi huruf dan angka Romawi.
Kekuatan rekomendasi#
- A = rekomendasi kuat
- B = rekomendasi moderat
- C = rekomendasi lemah
Kualitas bukti#
- I = satu atau lebih randomized trial dengan outcome klinis dan/atau endpoint laboratorium tervalidasi.
- II = trial nonrandomized yang dirancang baik atau studi kohort observasional dengan outcome klinis jangka panjang.
- III = expert opinion.
Contoh:
AI = rekomendasi kuat dengan bukti dari randomized trial/endpoint tervalidasi.
35. Struktur Isi Pedoman#
Pedoman sumber mencakup:
- Introduction
- Baseline Evaluation
- Laboratory Testing
- Treatment Goals
- Initiation of ART
- Treatment as Prevention
- What to Start
- Management of Treatment-Experienced Patients
- Cardiovascular and Metabolic Complications
- Adolescents and Young Adults
- Acute/Recent HIV
- HIV-2
- Older People
- Substance Use Disorders
- Transplantation
- Women With HIV
- HBV/HIV
- HCV/HIV
- TB/HIV
- Adherence
- Adverse Effects
- Cost Considerations
- Drug–Drug Interactions
- Drug Characteristics
- Dosing pada gangguan ginjal/hati
- Key to Acronyms
36. Kesimpulan#
Pedoman HHS 2026 menunjukkan bahwa manajemen HIV modern berpusat pada ART sedini mungkin, viral suppression berkelanjutan, pencegahan transmisi, individualisasi regimen, dan pemantauan jangka panjang.
Perubahan penting dalam era ART modern adalah bahwa keberhasilan terapi tidak lagi hanya dinilai dari survival atau kontrol HIV. Setelah viral suppression tercapai, perhatian klinis semakin diarahkan pada:
- pemulihan dan pemeliharaan fungsi imun;
- pencegahan OI;
- adherence;
- resistensi;
- komorbiditas kardiovaskular dan metabolik;
- kesehatan ginjal dan tulang;
- interaksi obat;
- kualitas hidup;
- pencegahan transmisi.
Prinsip praktis paling penting:
Start ART early → choose an effective, tolerable, resistance-aware regimen → monitor HIV RNA → address adherence and interactions → preserve future treatment options.
Referensi Utama#
Panel on Antiretroviral Guidelines for Adults and Adolescents. Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in Adults and Adolescents With HIV. U.S. Department of Health and Human Services. Updated and reviewed May 27, 2026.
Dokumen sumber yang digunakan untuk rangkuman ini adalah PDF pedoman HHS yang dilampirkan pada percakapan.