Rangkuman Bahasa Indonesia#
WHO Updated Recommendations on HIV Clinical Management — 2025#
Sumber utama: World Health Organization. WHO updated recommendations on HIV clinical management: recommendations for a public health approach. Geneva: WHO; 2025.
ISBN: 978-92-4-011946-8 (electronic version).
Dokumen sumber: 108 halaman.
Fokus: optimalisasi terapi antiretroviral (ART), pencegahan transmisi vertikal HIV, pemberian makan bayi, dan pencegahan tuberkulosis (TB) pada orang yang hidup dengan HIV.
Catatan: Dokumen ini merupakan rangkuman isi dokumen WHO 2025 yang diunggah. Rangkuman tidak dimaksudkan menggantikan guideline asli, pedoman nasional, atau penilaian klinis individual.
1. Inti Guideline#
WHO menerbitkan pembaruan rekomendasi HIV tahun 2025 untuk mendukung pendekatan kesehatan masyarakat menuju penghentian AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030.
Pada akhir 2024, hampir 40 juta orang diperkirakan hidup dengan HIV dan lebih dari 30 juta telah menerima terapi. WHO menekankan bahwa optimalisasi ARV, penyederhanaan regimen, peningkatan kepatuhan, pencegahan transmisi, serta integrasi pencegahan TB merupakan komponen penting dalam keberlanjutan program HIV.
Empat perubahan/penekanan utama:
-
Optimalisasi ART
- Darunavir/ritonavir (DRV/r) menjadi pilihan boosted protease inhibitor (PI) yang diprioritaskan.
- TDF atau TAF + 3TC/FTC dipertahankan sebagai backbone NRTI pilihan pada orang dewasa, remaja, dan anak >30 kg, termasuk pada regimen berikutnya.
- Pada anak <30 kg, ABC atau TAF + 3TC/FTC dapat digunakan sebagai backbone ART berikutnya.
- Regimen dua obat DTG + 3TC dapat digunakan untuk simplifikasi pada pasien tertentu yang sudah stabil dan tersupresi.
- CAB + RPV long-acting injectable dapat menjadi pilihan switching pada kondisi tertentu.
-
Pencegahan transmisi vertikal HIV
- Profilaksis pascanatal tetap diberikan kepada seluruh bayi terpajan HIV.
- Bayi yang tidak berisiko tinggi: 6 minggu profilaksis satu obat, dengan NVP sebagai pilihan utama.
- Bayi berisiko tinggi: 6 minggu enhanced triple-drug prophylaxis.
- Pada bayi yang menyusu, profilaksis satu obat dapat diperpanjang sampai supresi virus maternal tercapai atau menyusui berhenti.
-
Pemberian makan bayi
- WHO mempertahankan rekomendasi menyusui eksklusif selama 6 bulan, kemudian makanan pendamping yang sesuai sambil melanjutkan menyusui.
- Bila kebijakan nasional mendukung menyusui, ibu dengan HIV dapat menyusui setidaknya 12 bulan dan dapat melanjutkan sampai 24 bulan atau lebih dengan dukungan kepatuhan ART.
- Di setting yang sebelumnya menganjurkan replacement feeding, ibu yang menggunakan ART dan tersupresi secara virologis harus diberi pilihan menyusui dan didukung dalam keputusan tersebut.
-
Pencegahan TB pada orang dengan HIV
- 3HP (isoniazid + rifapentine mingguan selama 3 bulan) menjadi regimen TPT yang disarankan sebagai pilihan utama pada orang dewasa dan remaja dengan HIV yang memenuhi syarat TPT.
- 6H atau 9H tetap menjadi alternatif.
- Regimen lebih pendek diprioritaskan karena dapat meningkatkan penyelesaian terapi dan menyederhanakan pelayanan.
2. Struktur Guideline#
Dokumen terdiri dari:
- Pendahuluan
- Tujuan, dampak yang diharapkan, target pengguna, dan prinsip panduan
- Optimalisasi terapi antiretroviral
- Darunavir/ritonavir dan PI lainnya
- Tenofovir dan abacavir
- Regimen ART oral dua obat
- Regimen ART injeksi long-acting
- Manajemen transmisi vertikal HIV
- Profilaksis pascanatal bayi
- HIV dan pemberian makan bayi
- Pencegahan TB pada orang dengan HIV
- Rencana diseminasi, adaptasi, implementasi, dan evaluasi
- Lampiran dan web annex
Dokumen membedakan rekomendasi menjadi:
- Not changed: rekomendasi sebelumnya yang tidak diubah.
- Updated: rekomendasi lama yang ditinjau dan diperbarui berdasarkan bukti baru.
- New: rekomendasi baru yang belum ada pada guideline sebelumnya.
3. Optimalisasi Terapi Antiretroviral#
3.1 Darunavir/Ritonavir sebagai Boosted PI Pilihan#
Rekomendasi WHO 2025#
Darunavir/ritonavir (DRV/r) adalah boosted protease inhibitor yang dipilih sebagai opsi utama untuk terapi antiretroviral.
- Kekuatan: Strong
- Kepastian bukti: Moderate
Atazanavir/ritonavir (ATV/r) atau lopinavir/ritonavir (LPV/r) tetap dapat digunakan sebagai alternatif.
- Kekuatan: Conditional
- Kepastian bukti: Moderate
Makna klinis#
Rekomendasi ini terutama penting pada pasien yang memerlukan regimen berikutnya setelah kegagalan regimen berbasis dolutegravir.
Perubahan dari guideline sebelumnya didukung oleh:
- tersedianya studi pembanding langsung antara DRV/r dan PI lain;
- tersedianya formulasi generik DRV/r dengan biaya lebih rendah;
- meningkatnya penggunaan DRV/r dalam program HIV di negara berpendapatan rendah dan menengah.
WHO mencatat bahwa penggunaan PI secara keseluruhan makin menurun karena semakin luasnya penggunaan regimen berbasis DTG, tetapi DRV/r diperkirakan semakin menggantikan LPV/r pada regimen berbasis PI.
Hal yang perlu diperhatikan:
- Data pada kehamilan dan menyusui masih lebih terbatas.
- Ketersediaan formulasi DRV/r untuk anak masih menjadi isu.
- Dosis pada kehamilan dapat berbeda menurut guideline/setting dan perlu mengikuti rekomendasi yang berlaku.
Sumber dokumen: Bab 3.1, sekitar halaman 10–15.
4. Tenofovir dan Abacavir sebagai Backbone NRTI#
4.1 Dewasa, Remaja, dan Anak >30 kg#
WHO 2025 merekomendasikan:
TDF atau TAF + 3TC atau FTC
sebagai backbone NRTI pilihan untuk ART awal maupun ART berikutnya pada:
- orang dewasa;
- remaja;
- anak dengan berat >30 kg.
Rekomendasi ini juga berlaku pada individu yang sebelumnya sudah pernah mendapatkan atau terpajan tenofovir.
- Kekuatan: Strong
- Kepastian bukti: Moderate
Implikasi penting#
WHO mengubah paradigma lama yang cenderung mengganti backbone tenofovir dengan AZT ketika regimen sebelumnya gagal.
Data yang tersedia mendukung penggunaan kembali tenofovir pada regimen berikutnya, terutama ketika komponen anchor regimen diganti.
Pendekatan ini:
- menyederhanakan sequencing ART;
- mengurangi kebutuhan mengganti backbone;
- mempertahankan regimen yang sudah dikenal pasien;
- berpotensi menurunkan toksisitas dan biaya dibanding backbone berbasis AZT.
4.2 TDF versus TAF#
TAF merupakan alternatif TDF.
Dokumen WHO menekankan bahwa pilihan TDF versus TAF harus mempertimbangkan:
- kondisi klinis;
- fungsi ginjal;
- kesehatan tulang;
- karakteristik pasien;
- ketersediaan;
- biaya;
- aspek programatik.
TAF pada beberapa studi menunjukkan dampak yang lebih kecil terhadap marker fungsi ginjal dan mineral tulang dibanding TDF. Namun, TAF masih dapat lebih mahal di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah.
4.3 Anak <30 kg#
Untuk ART berikutnya pada anak <30 kg:
ABC atau TAF + 3TC/FTC
dapat digunakan sebagai backbone.
- ABC + 3TC:
- Conditional
- Kepastian bukti: Low
- TAF + 3TC/FTC:
- Conditional
- Kepastian bukti: Very low
Rekomendasi ini mencakup anak yang sebelumnya sudah menerima ABC atau AZT.
Pesan praktis#
WHO 2025 semakin menekankan recycling NRTI yang efektif dan dapat ditoleransi, daripada mengganti backbone secara otomatis hanya karena regimen sebelumnya gagal.
Sumber dokumen: Bab 3.2, sekitar halaman 24–33.
5. Regimen ART Oral Dua Obat#
DTG + 3TC#
WHO 2025 memberikan rekomendasi baru bahwa:
Dolutegravir (DTG) + lamivudine (3TC) dapat digunakan untuk simplifikasi terapi pada orang dewasa dan remaja yang:
- sudah menggunakan regimen tiga obat;
- memiliki viral load HIV yang tidak terdeteksi;
- stabil secara klinis/virologis;
- tidak memiliki hepatitis B aktif.
- Kekuatan: Conditional
- Kepastian bukti: Moderate
Mengapa hepatitis B penting?#
Regimen DTG + 3TC tidak memberikan backbone aktivitas HBV yang sama seperti regimen yang mengandung tenofovir + 3TC/FTC.
Karena itu, pasien dengan hepatitis B aktif bukan kandidat yang sesuai untuk simplifikasi ini berdasarkan rekomendasi WHO tersebut.
Prinsip penting#
Regimen dua obat bukan rekomendasi universal untuk memulai ART.
Dalam dokumen ini, penggunaannya ditempatkan sebagai strategi simplifikasi pada pasien yang sudah stabil dan tersupresi, dengan pemilihan pasien yang tepat.
Risiko yang perlu dipertimbangkan#
WHO menekankan perlunya memperhatikan:
- risiko resistensi;
- status hepatitis B;
- riwayat terapi;
- stabilitas virologis;
- pemantauan viral load.
Sumber dokumen: Bab 3.3, sekitar halaman 38–42.
6. Long-Acting Injectable ART#
CAB + RPV#
WHO 2025 memberikan rekomendasi baru:
Long-acting injectable cabotegravir (CAB) + rilpivirine (RPV) dapat digunakan sebagai pilihan switching alternatif pada orang dewasa dan remaja yang:
-
sudah menggunakan ART oral;
-
memiliki viral load HIV tidak terdeteksi;
-
tidak mempunyai hepatitis B aktif.
-
Kekuatan: Conditional
-
Kepastian bukti: Moderate
Kandidat yang dapat memperoleh manfaat#
Strategi ini terutama relevan untuk pasien yang:
- mengalami kesulitan mempertahankan kepatuhan terhadap obat oral harian;
- menginginkan frekuensi pemberian yang lebih jarang;
- memiliki masalah terkait kenyamanan, privasi, atau beban tablet.
Keterbatasan penting#
CAB + RPV tidak cocok untuk semua pasien.
Perlu diperhatikan:
- tidak mengandung obat yang aktif terhadap hepatitis B;
- RPV memiliki interaksi penting dengan regimen TB berbasis rifampisin;
- data jangka panjang di LMIC masih terbatas;
- data pada kehamilan masih terbatas;
- terdapat pertimbangan resistensi jika terjadi kegagalan virologis;
- akses dan biaya dapat menjadi hambatan.
Sumber dokumen: Bab 3.4, sekitar halaman 45–50.
7. Pencegahan Transmisi Vertikal HIV#
WHO menekankan bahwa meskipun ART maternal telah sangat menurunkan transmisi HIV, infeksi baru pada bayi masih terjadi terutama pada periode postpartum/breastfeeding.
Faktor yang dapat menyebabkan risiko meningkat antara lain:
- ibu belum mendapatkan ART;
- diagnosis HIV terlambat;
- viral load maternal tidak tersupresi;
- pemantauan viral load tidak optimal;
- kepatuhan ART kurang;
- infeksi maternal baru setelah persalinan.
Karena itu, profilaksis bayi tetap penting.
8. Profilaksis Pascanatal pada Bayi Terpajan HIV#
8.1 Bayi Tidak Berisiko Tinggi#
Bayi yang lahir dari ibu yang menggunakan ART dan tidak termasuk kelompok berisiko tinggi:
Profilaksis selama 6 minggu dengan satu obat.
Pilihan utama:
Nevirapine (NVP)
Alternatif:
- dolutegravir (DTG);
- lamivudine (3TC).
Untuk NVP:
- Strong recommendation
- Moderate certainty
Untuk DTG atau 3TC:
- Conditional recommendation
- Very low certainty
8.2 Bayi Berisiko Tinggi#
Bayi berisiko tinggi mendapatkan:
Enhanced triple-drug prophylaxis selama 6 minggu.
WHO menyukai regimen yang mengandung:
ABC + 3TC + DTG
bila tersedia dan sesuai usia.
- Kekuatan: Strong
- Kepastian bukti: Low
Regimen tiga obat pada bayi berisiko tinggi juga berfungsi sebagai terapi presumtif sampai infeksi HIV dapat disingkirkan.
Tindakan penting#
Pada bayi berisiko tinggi:
- lakukan pengambilan sampel untuk nucleic acid testing (NAT);
- pastikan hasil tersedia secepat mungkin;
- ibu harus dimulai atau dimulai kembali ART bila diperlukan;
- profilaksis dapat dihentikan bila infeksi tersingkirkan dan supresi maternal telah dipastikan atau kepatuhan maternal dapat diyakini.
Sumber dokumen: Bab 4.1, sekitar halaman 54–60.
9. Profilaksis Bayi yang Menyusu#
Pada bayi yang telah mendapatkan 6 minggu regimen tiga obat karena risiko tinggi:
Dilanjutkan dengan profilaksis satu obat selama menyusui sampai:
- supresi viral load maternal tercapai; atau
- breastfeeding dihentikan,
mana yang lebih dahulu sesuai konteks rekomendasi.
NVP merupakan pilihan utama; DTG atau 3TC dapat menjadi alternatif sesuai rekomendasi.
Prinsip utama#
Tujuannya adalah menghindari:
- paparan obat yang tidak perlu pada bayi berisiko rendah;
sekaligus memastikan:
- perlindungan tambahan ketika risiko maternal masih ada karena viral load belum tersupresi.
WHO menekankan pentingnya risk stratification, karena pemberian enhanced prophylaxis kepada semua bayi dapat menyebabkan paparan obat yang tidak diperlukan pada sebagian besar bayi.
10. HIV dan Pemberian Makan Bayi#
10.1 Menyusui#
WHO mempertahankan prinsip:
- ASI eksklusif selama 6 bulan.
- Setelah 6 bulan: berikan makanan pendamping yang sesuai dan lanjutkan menyusui.
- Dalam setting yang mendukung breastfeeding, ibu dengan HIV dianjurkan menyusui setidaknya 12 bulan.
- Menyusui dapat dilanjutkan sampai 24 bulan atau lebih, seperti populasi umum, dengan dukungan kepatuhan ART.
Rekomendasi ini menempatkan kesehatan ibu dan bayi sebagai pusat keputusan.
10.2 Bila kebijakan nasional mendukung replacement feeding#
WHO 2025 memberikan rekomendasi baru:
Jika kebijakan nasional menganjurkan replacement feeding, ibu dengan HIV yang:
- menerima ART; dan
- mengalami supresi viral,
harus diberikan pilihan untuk menyusui dan didukung dalam pilihan pemberian makan bayinya.
- Strong recommendation
- Low certainty
10.3 Dukungan berbasis komunitas dan fasilitas#
WHO juga merekomendasikan intervensi tambahan berbasis komunitas dan fasilitas untuk ibu yang menyusui dengan HIV guna:
-
meningkatkan kepatuhan ART;
-
meningkatkan retensi ibu-bayi dalam pelayanan;
-
mengoptimalkan breastfeeding.
-
Conditional recommendation
-
Very low certainty
Sumber dokumen: Bab 4.2, sekitar halaman 64–70.
11. Pencegahan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV#
TB tetap menjadi penyebab utama kematian pada orang yang hidup dengan HIV.
WHO menyatakan bahwa TPT bersama ART dapat menurunkan kejadian TB dan mortalitas akibat TB.
Pendekatan baru menekankan:
- regimen lebih pendek;
- simplifikasi;
- peningkatan completion rate;
- integrasi dengan layanan ART;
- pilihan regimen yang feasible dan dapat diterapkan secara luas.
12. Regimen TPT Pilihan: 3HP#
Rekomendasi WHO 2025#
Pada orang dewasa dan remaja dengan HIV yang memenuhi syarat TPT:
3HP = isoniazid + rifapentine sekali seminggu selama 3 bulan
merupakan regimen TPT yang disarankan sebagai pilihan utama.
- Kekuatan: Conditional
- Kepastian bukti: Low
Alternatif:
- 6H: isoniazid setiap hari selama 6 bulan
- 9H: isoniazid setiap hari selama 9 bulan
Regimen lain dapat digunakan pada kondisi tertentu, termasuk:
- 1HP: 1 bulan isoniazid + rifapentine setiap hari
- 4R: 4 bulan rifampisin setiap hari
- 3HR: 3 bulan isoniazid + rifampisin setiap hari
- 6Lfx: 6 bulan levofloxacin dalam keadaan khusus sesuai rekomendasi terkait.
13. Mengapa 3HP Diprioritaskan?#
Dalam systematic review/meta-analysis yang menjadi dasar guideline:
- 20 studi;
- 13 randomized controlled trials;
- 7 studi observasional prospektif;
- total 12.731 peserta.
Completion rate:
| Regimen | Completion rate |
|---|---|
| 1HP | 97% |
| 3HP | 92% |
| 6H | 72% |
Grade 3–4 adverse events:
- 3HP: sekitar 5%
- 1HP: sekitar 7%
Data tersebut mendukung keuntungan regimen pendek dari sisi penyelesaian terapi dan tolerabilitas dibanding regimen isoniazid jangka panjang.
Pesan praktis#
Regimen lebih pendek bukan hanya lebih nyaman, tetapi berpotensi meningkatkan keberhasilan program TPT melalui peningkatan completion rate dan simplifikasi pelayanan.
Sumber dokumen: Bab 5.1, sekitar halaman 76–82.
14. Prinsip Integrasi ART dan TPT#
WHO menekankan pendekatan programatik:
Standardisasi → simplifikasi → prioritisasi regimen efektif → integrasi pelayanan
ART dan TPT sebaiknya tidak dipandang sebagai dua program yang terpisah.
Integrasi dapat:
- mengurangi kunjungan yang tidak perlu;
- mempermudah pengadaan obat;
- meningkatkan cakupan TPT;
- meningkatkan completion;
- mengurangi mortalitas TB pada orang dengan HIV.
15. Ringkasan Rekomendasi Utama WHO 2025#
| Area | Rekomendasi WHO 2025 | Kekuatan | Kepastian |
|---|---|---|---|
| Boosted PI | DRV/r sebagai boosted PI pilihan | Strong | Moderate |
| Alternatif PI | ATV/r atau LPV/r | Conditional | Moderate |
| Backbone ART dewasa/remaja/anak >30 kg | TDF atau TAF + 3TC/FTC | Strong | Moderate |
| Backbone ART berikutnya anak <30 kg | ABC atau TAF + 3TC/FTC | Conditional | Low–Very low |
| Simplifikasi oral | DTG + 3TC pada pasien stabil, VL tidak terdeteksi, tanpa HBV aktif | Conditional | Moderate |
| Long-acting ART | CAB + RPV pada pasien dewasa/remaja tersupresi, tanpa HBV aktif | Conditional | Moderate |
| Bayi risiko tidak tinggi | 6 minggu single-drug prophylaxis, NVP pilihan utama | Strong untuk NVP | Moderate |
| Bayi risiko tinggi | 6 minggu triple-drug prophylaxis | Strong | Low |
| Breastfeeding | 12 bulan; dapat sampai 24 bulan atau lebih dengan dukungan ART | Strong | Low–Very low |
| Breastfeeding di setting replacement feeding | Pilihan menyusui bagi ibu ART + virally suppressed | Strong | Low |
| Dukungan breastfeeding | Intervensi komunitas + fasilitas | Conditional | Very low |
| TPT dewasa/remaja HIV | 3HP pilihan utama; 6H/9H alternatif | Conditional | Low |
16. Perubahan Paradigma yang Penting#
16.1 Dari “ganti backbone” menjadi “recycle backbone”#
WHO 2025 semakin mendukung penggunaan kembali tenofovir pada regimen berikutnya pada dewasa, remaja, dan anak >30 kg.
Intinya:
Kegagalan regimen tidak otomatis berarti backbone NRTI harus diganti.
16.2 Dari ART tiga obat sebagai satu-satunya strategi simplifikasi#
WHO kini membuka ruang untuk:
- DTG + 3TC pada pasien terpilih;
- CAB + RPV long-acting pada pasien terpilih.
Namun kedua strategi tersebut bukan pendekatan universal.
16.3 Dari prophylaxis bayi yang seragam menuju risk-stratified prophylaxis#
WHO berupaya:
- memberikan profilaksis cukup intensif pada bayi berisiko tinggi;
- menghindari paparan obat yang tidak diperlukan pada bayi risiko rendah;
- menggunakan status ART dan supresi maternal untuk stratifikasi risiko.
16.4 Dari TPT panjang menuju TPT pendek yang lebih mudah diselesaikan#
3HP diprioritaskan karena:
- durasi pendek;
- completion lebih tinggi;
- dapat diintegrasikan dengan layanan HIV;
- berpotensi meningkatkan cakupan program.
17. Poin yang Sangat Relevan untuk Praktik Klinis#
ART#
- DTG tetap menjadi anchor penting dalam terapi HIV.
- Bila diperlukan regimen PI setelah kegagalan regimen berbasis DTG, DRV/r menjadi boosted PI pilihan WHO 2025.
- Jangan otomatis mengganti TDF dengan AZT pada regimen berikutnya.
- TAF merupakan alternatif TDF dan dapat dipertimbangkan berdasarkan faktor klinis dan programatik.
Simplifikasi#
- DTG + 3TC hanya untuk pasien yang sesuai kriteria.
- Pastikan tidak ada hepatitis B aktif.
- CAB + RPV memerlukan viral suppression dan tidak boleh diperlakukan sebagai pengganti langsung ART oral pada pasien dengan kondisi yang tidak sesuai.
Transmisi vertikal#
- Profilaksis bayi dimulai segera sesuai protokol.
- Bedakan bayi risiko tinggi dan tidak tinggi.
- Pada risiko tinggi, triple-drug prophylaxis selama 6 minggu menjadi rekomendasi kuat.
- NAT dan tindak lanjut ibu-bayi tetap sangat penting.
Breastfeeding#
- ART maternal dan viral suppression merupakan faktor kunci.
- WHO mendukung breastfeeding dalam setting yang sesuai.
- Keputusan harus mempertimbangkan kebijakan nasional, keamanan pemberian makan, kemampuan mempertahankan ART, dan viral suppression.
TB#
- Pada pasien HIV yang eligible untuk TPT, 3HP menjadi regimen pilihan yang disarankan WHO 2025.
- Regimen 6H/9H tetap merupakan alternatif.
- Regimen lain dapat digunakan sesuai keadaan klinis/programatik.
18. Keterbatasan dan Research Gaps yang Disoroti WHO#
WHO masih mengidentifikasi sejumlah area yang memerlukan penelitian lebih lanjut:
- Efektivitas strategi resuppression menggunakan regimen oral seperti TLD pada kasus kegagalan terapi.
- Cost-effectiveness ART yang berbeda pada berbagai setting.
- Strategi monitoring terapi yang lebih baik.
- Farmakokinetik, keamanan, dan efektivitas CAB + RPV pada anak.
- Data jangka panjang long-acting ART di LMIC.
- Data CAB + RPV pada kehamilan dan menyusui.
- Pengembangan long-acting ARV generasi berikutnya.
- Strategi TPT pendek pada berbagai populasi khusus.
WHO juga mencatat bahwa beberapa agen long-acting baru, termasuk lenacapavir dalam konteks regimen long-acting tertentu, masih memerlukan evaluasi randomized trial yang lebih luas sebelum dapat menjadi dasar rekomendasi pengobatan long-acting yang lebih luas.
19. Take-Home Messages#
10 Pesan Utama#
- DRV/r adalah boosted PI pilihan WHO 2025.
- TDF atau TAF + 3TC/FTC tetap menjadi backbone NRTI pilihan pada dewasa, remaja, dan anak >30 kg.
- Tenofovir dapat digunakan kembali pada regimen berikutnya, termasuk setelah paparan sebelumnya.
- DTG + 3TC dapat digunakan untuk simplifikasi pada pasien stabil dengan viral load tidak terdeteksi dan tanpa HBV aktif.
- CAB + RPV merupakan opsi long-acting switching pada pasien dewasa/remaja terpilih yang tersupresi dan tanpa HBV aktif.
- Bayi risiko tidak tinggi: 6 minggu single-drug prophylaxis, NVP pilihan utama.
- Bayi risiko tinggi: 6 minggu enhanced triple-drug prophylaxis.
- Breastfeeding tetap didukung dalam setting yang sesuai, dengan perhatian utama pada ART dan viral suppression maternal.
- 3HP menjadi regimen TPT pilihan yang disarankan untuk dewasa dan remaja dengan HIV yang eligible.
- Arah besar guideline adalah simplifikasi, standardisasi, optimasi, integrasi pelayanan, dan pendekatan yang berpusat pada pasien.
20. Tabel Singkat untuk Pengambilan Keputusan#
ART#
CodePasien HIV │ ├── ART awal / regimen berbasis DTG │ └── Bila perlu regimen berikutnya │ ├── Backbone NRTI dewasa/remaja/anak >30 kg │ → TDF atau TAF + 3TC/FTC │ └── Bila membutuhkan boosted PI → DRV/r pilihan → ATV/r atau LPV/r alternatif
Simplifikasi#
CodePasien ART stabil │ ├── Viral load tidak terdeteksi? │ └── Ya │ ├── HBV aktif? │ └── Tidak │ └── Pertimbangkan: → DTG + 3TC atau → CAB + RPV long-acting (pada kandidat yang sesuai)
Bayi terpajan HIV#
CodeBayi terpajan HIV │ ├── Risiko tidak tinggi │ → 6 minggu single drug │ → NVP pilihan utama │ └── Risiko tinggi → 6 minggu triple-drug prophylaxis → NAT → maternal ART segera/diinisiasi kembali
TPT#
CodePLHIV dewasa/remaja eligible TPT │ └── 3HP preferred │ ├── 3 bulan └── INH + rifapentine mingguan Alternatif: → 6H → 9H Kondisi khusus: → 1HP / 4R / 3HR / 6Lfx
21. Kesimpulan#
WHO 2025 membawa HIV management semakin menuju ART yang lebih sederhana, lebih tahan terhadap keterbatasan program, dan lebih berorientasi pada kebutuhan pasien.
Perubahan paling penting adalah:
- DRV/r menjadi boosted PI pilihan;
- recycling TDF/TAF semakin diterima sebagai strategi regimen berikutnya;
- DTG + 3TC menjadi opsi simplifikasi pada pasien yang memenuhi kriteria;
- CAB + RPV menjadi opsi long-acting switching pada populasi terpilih;
- profilaksis bayi semakin menggunakan risk stratification;
- breastfeeding tetap dapat didukung dengan ART dan viral suppression maternal;
- 3HP menjadi pilihan utama TPT pada dewasa dan remaja dengan HIV.
Secara keseluruhan, guideline ini menggeser fokus dari sekadar “memilih obat” menjadi mengoptimalkan seluruh sistem terapi HIV: regimen, adherence, viral suppression, pencegahan transmisi, kesehatan bayi, pencegahan TB, dan keberlanjutan program.
Referensi Utama#
- World Health Organization. WHO updated recommendations on HIV clinical management: recommendations for a public health approach. Geneva: World Health Organization; 2025. ISBN 978-92-4-011946-8.
- WHO. Consolidated guidelines on HIV prevention, testing, treatment, service delivery and monitoring: recommendations for a public health approach. 2021.
- WHO. WHO consolidated guidelines on tuberculosis preventive treatment. 2024.
- WHO. Global Tuberculosis Report 2025. Geneva: WHO; 2025.
Catatan: Referensi di atas dicantumkan sesuai konteks dokumen yang dirangkum; untuk keputusan klinis, gunakan dokumen WHO asli dan pedoman nasional yang berlaku.