Clinical Library
Panduan

2025 WHO guidelines for malaria

Terbit: 2025
Download PDF

1. Gambaran umum#

WHO Guidelines for Malaria -- 13 August 2025 merupakan konsolidasi rekomendasi WHO mengenai:

  1. Pencegahan malaria.
  2. Pengendalian vektor.
  3. Kemoprofilaksis/kemoprevensi.
  4. Vaksin malaria.
  5. Diagnosis.
  6. Tata laksana malaria tanpa komplikasi.
  7. Tata laksana malaria berat.
  8. Penatalaksanaan kelompok khusus.
  9. Pencegahan relaps pada P. vivax dan P. ovale.
  10. Intervensi pada fase eliminasi dan pencegahan reintroduksi.
  11. Surveilans malaria.

Dokumen terdiri dari 478 halaman dan menggunakan pendekatan berbasis bukti dengan klasifikasi kekuatan rekomendasi serta kepastian bukti.


2. Pesan kunci klinis#

2.1 Diagnosis#

  • Malaria perlu dipertimbangkan pada pasien demam atau riwayat demam tanpa penyebab jelas di daerah endemis.
  • Diagnosis malaria sebaiknya dikonfirmasi secara parasitologis dengan:
    • mikroskopi, atau
    • rapid diagnostic test (RDT).
  • Hasil pemeriksaan idealnya tersedia dalam waktu singkat, yaitu <2 jam setelah pasien datang.
  • Mikroskopi dan RDT harus didukung program quality assurance.
  • Bila hasil tes negatif, pasien perlu dievaluasi untuk penyebab demam lainnya.
  • Pada pasien yang sangat dicurigai malaria berat, keterlambatan atau tidak tersedianya pemeriksaan parasitologis tidak boleh menunda terapi antimalaria segera. Implikasi praktis: diagnosis malaria bukan sekadar "demam + terapi empiris". Bila fasilitas memungkinkan, konfirmasi parasitologis merupakan bagian penting dari tata laksana dan stewardship antimalaria.

3. Pencegahan malaria#

3.1 Kelambu berinsektisida (ITN/LLIN)#

WHO merekomendasikan long-lasting insecticidal nets (LLINs) untuk pencegahan malaria pada anak dan dewasa yang tinggal di wilayah dengan transmisi malaria.

Pyrethroid-only LLIN#

  • Tetap direkomendasikan untuk penggunaan luas pada wilayah transmisi malaria.
  • Kelambu yang digunakan sebaiknya merupakan produk yang telah WHO-prequalified.
  • Efektivitas paling tinggi ketika vektor terutama menggigit pada malam hari setelah orang berada di bawah kelambu.

Pyrethroid-PBO ITN#

Dapat digunakan menggantikan kelambu pyrethroid-only di daerah dengan resistensi piretroid. Pertimbangan: - biaya lebih tinggi; - efektivitas tambahan dapat menurun sepanjang umur kelambu; - keputusan harus mempertimbangkan pola resistensi vektor lokal dan kemampuan pembiayaan.

Pyrethroid-chlorfenapyr ITN#

WHO merekomendasikan penggunaannya dibandingkan pyrethroid-only LLIN pada daerah dengan resistensi piretroid. Dapat juga dipertimbangkan dibandingkan pyrethroid-PBO ITN, tetapi rekomendasi tersebut bersifat kondisional dan bukti terutama berasal dari satu uji coba di Afrika.

Pyrethroid-pyriproxyfen ITN#

  • Dapat digunakan dibandingkan pyrethroid-only LLIN di daerah dengan resistensi piretroid.
  • Namun tidak direkomendasikan menggantikan pyrethroid-PBO ITN.
  • Salah satu pertimbangan utama adalah cost-effectiveness.

4. Indoor Residual Spraying (IRS)#

IRS direkomendasikan untuk pencegahan dan pengendalian malaria pada populasi yang hidup di daerah transmisi malaria. IRS paling sesuai bila: - mayoritas vektor makan dan beristirahat di dalam rumah; - penduduk terutama tidur di dalam rumah; - pola transmisi memungkinkan perlindungan melalui satu atau dua putaran IRS per tahun; - sebagian besar bangunan dapat disemprot. Produk insektisida harus berasal dari kelas yang direkomendasikan WHO dan WHO-prequalified, dengan mempertimbangkan susceptibilitas vektor lokal.

ITN versus IRS#

WHO tidak merekomendasikan secara rutin menggabungkan ITN dan IRS hanya untuk mengompensasi cakupan yang buruk. Prioritas: > mencapai cakupan optimal dan implementasi berkualitas tinggi dari salah satu intervensi, yaitu ITN atau IRS. Kombinasi dapat dipertimbangkan dalam konteks khusus, termasuk pengelolaan resistensi insektisida, bila sumber daya memadai.


5. Intervensi tambahan pengendalian vektor#

Larviciding#

Dapat digunakan sebagai intervensi tambahan bila habitat larva: - sedikit; - menetap; - mudah ditemukan. Larviciding bukan pengganti ITN atau IRS. Potensi penggunaan lebih sesuai antara lain: - daerah perkotaan dengan breeding site terbatas; - daerah arid dengan habitat larva yang relatif menetap.

Spatial emanators#

Dalam guideline 2025, spatial emanators dapat digunakan sebagai intervensi tambahan. Hal penting: - cakupan harus tinggi dan berkelanjutan; - sebaiknya digunakan bersama intervensi utama seperti ITN atau IRS; - pertimbangkan biaya dan durasi efektivitas; - rekomendasi saat ini mencakup penggunaan indoor; - produk yang dipilih harus WHO-prequalified.

Topical repellents#

Tidak direkomendasikan sebagai strategi pengendalian malaria pada tingkat komunitas karena bukti dampak komunitas belum memadai.

Insecticide-treated clothing#

Tidak direkomendasikan sebagai strategi komunitas rutin, walaupun mungkin memberikan perlindungan individual pada kelompok tertentu.

Space spraying#

Tidak direkomendasikan untuk pengendalian malaria komunitas; ITN atau IRS harus diprioritaskan.

House screening#

Screening rumah dapat digunakan sebagai intervensi pencegahan malaria, dengan mempertimbangkan: - karakteristik bangunan; - kemampuan pemeliharaan; - biaya; - kelayakan implementasi skala besar.


6. Kemoprevensi malaria#

6.1 IPTp -- Intermittent Preventive Treatment in Pregnancy#

Di wilayah endemis malaria:

  • ibu hamil dari semua graviditas perlu mendapat obat antimalaria pada interval yang telah ditentukan;
  • IPTp-SP dimulai sedini mungkin pada trimester kedua, tetapi tidak sebelum minggu ke-13;
  • dosis diberikan dengan jarak minimal 1 bulan;
  • tujuan program adalah agar ibu menerima setidaknya 3 dosis. ANC merupakan platform penting untuk pemberian IPTp.

7. Perennial Malaria Chemoprevention (PMC)#

PMC dapat diberikan pada anak dalam kelompok usia yang berisiko tinggi terhadap malaria berat di wilayah dengan transmisi malaria perennial sedang hingga tinggi. Pemilihan jadwal harus mempertimbangkan: - pola usia kasus malaria berat; - lama proteksi obat; - kelayakan; - keterjangkauan program. WHO mencatat bahwa PMC sebelumnya berfokus pada bayi dan kini konsepnya diperluas sesuai kelompok usia yang paling berisiko.


8. Seasonal Malaria Chemoprevention (SMC)#

Pada daerah dengan transmisi malaria musiman:

  • anak dalam kelompok usia berisiko tinggi terhadap malaria berat dapat menerima obat antimalaria pada musim puncak transmisi;
  • manfaat paling besar diperkirakan pada wilayah dengan transmisi yang sangat musiman. Regimen sulfadoxine-pyrimethamine + amodiaquine (SP+AQ) telah banyak digunakan untuk SMC pada anak <5 tahun di Afrika.

9. IPT pada anak usia sekolah#

Intermittent preventive treatment in school-aged children (IPTsc) dapat diberikan pada anak usia sekolah yang tinggal di wilayah endemis dengan transmisi sedang--tinggi, baik perennial maupun seasonal. Pertimbangan: - bukti terutama tersedia pada anak sekitar 5--15 tahun; - manfaat dapat berbeda menurut kelompok umur; - jangan sampai program mengurangi akses intervensi untuk kelompok dengan beban malaria berat tertinggi; - sekolah dapat menjadi platform delivery, tetapi alternatif diperlukan bila kalender sekolah tidak sesuai dengan musim transmisi.


10. Post-discharge malaria chemoprevention (PDMC)#

Anak yang dirawat di rumah sakit karena anemia berat di wilayah dengan transmisi malaria sedang--tinggi dapat diberikan regimen antimalaria setelah pulang untuk menurunkan risiko: - readmission; - kematian. PDMC perlu disesuaikan dengan pola kasus lokal, durasi proteksi obat, kelayakan dan biaya.


11. Mass Drug Administration (MDA)#

Untuk menurunkan beban penyakit#

MDA dapat digunakan pada wilayah dengan transmisi P. falciparum sedang--tinggi untuk menghasilkan penurunan jangka pendek beban malaria. Namun: - efek dapat menghilang dalam 1--3 bulan; - MDA harus menjadi salah satu komponen program pengendalian yang komprehensif; - tidak boleh menggantikan diagnosis, terapi kasus, surveilans dan pengendalian vektor.

Untuk menurunkan transmisi#

Pada transmisi P. falciparum sangat rendah--rendah, MDA dapat digunakan dalam konteks eliminasi tertentu. Syarat penting: - risiko importasi rendah; - sistem surveilans dan diagnosis kuat; - akses terhadap terapi efektif; - intervensi pencegahan lainnya tetap berjalan. Pada transmisi P. falciparum sedang--tinggi, MDA tidak direkomendasikan khusus untuk tujuan menurunkan transmisi, karena bukti tidak menunjukkan efek yang memadai.

MDA pada P. vivax#

MDA dapat dipertimbangkan untuk menurunkan transmisi P. vivax, tetapi harus terintegrasi dengan: - surveilans; - diagnosis parasitologis; - pengobatan efektif; - terapi hipnozoit untuk mencegah relaps; - strategi pencegahan lainnya.


12. Vaksin malaria#

WHO merekomendasikan vaksin malaria untuk pencegahan malaria P. falciparum pada anak yang tinggal di wilayah endemis malaria, terutama daerah dengan transmisi sedang--tinggi. Vaksin yang menjadi dasar rekomendasi WHO: - RTS,S/AS01 - R21/Matrix-M

Jadwal umum#

  • Seri vaksin dimulai pada anak sekitar 5 bulan menurut rekomendasi WHO.
  • Minimal interval antardosis: 4 minggu.
  • Dosis keempat idealnya diberikan 6--18 bulan setelah dosis ketiga untuk memperpanjang perlindungan.
  • Dosis kelima dapat diberikan pada konteks tertentu, terutama daerah dengan transmisi sangat musiman atau risiko malaria tetap tinggi.

Prinsip penting#

Vaksin bukan pengganti intervensi lain. Strategi terbaik adalah kombinasi intervensi yang disesuaikan dengan epidemiologi lokal: - vaksin; - ITN; - kemoprevensi; - diagnosis dan pengobatan; - surveilans; - pengendalian vektor. Jika produk vaksin sebelumnya tidak tersedia atau tidak diketahui, seri dapat dilanjutkan dengan vaksin malaria WHO-recommended yang tersedia; seri tidak perlu diulang dari awal.


13. Tata laksana malaria tanpa komplikasi#

13.1 P. falciparum#

Pasien dewasa dan anak dengan malaria P. falciparum tanpa komplikasi harus diterapi dengan artemisinin-based combination therapy (ACT). Pilihan ACT WHO mencakup:

  1. Artemether + lumefantrine (AL)
  2. Artesunate + amodiaquine (AS+AQ)
  3. Artesunate + mefloquine (ASMQ)
  4. Dihydroartemisinin + piperaquine (DHAP)
  5. Artesunate + sulfadoxine-pyrimethamine (AS+SP)
  6. Artesunate + pyronaridine (ASPY) Pemilihan obat nasional perlu mempertimbangkan: - pola resistensi lokal; - efikasi; - keamanan; - biaya; - ketersediaan formulasi pediatrik; - ketersediaan fixed-dose combination. Fixed-dose combination lebih disukai dibandingkan tablet lepas atau co-blister.

14. Durasi ACT#

ACT harus memberikan terapi dengan komponen artemisinin selama 3 hari. Prinsip farmakologis: - derivat artemisinin bekerja cepat menurunkan jumlah parasit; - obat partner dengan eliminasi lebih panjang membersihkan parasit yang tersisa; - obat partner juga membantu memberikan post-treatment prophylaxis dan mengurangi risiko berkembangnya resistensi terhadap artemisinin.


15. Artesunate--pyronaridine#

Artesunate--pyronaridine merupakan salah satu pilihan ACT untuk malaria P. falciparum tanpa komplikasi. Hal yang perlu diperhatikan: - hindari pada pasien dengan penyakit hati yang nyata secara klinis; - dapat menyebabkan peningkatan transaminase; - pharmacovigilance perlu diperkuat bila digunakan.


16. Kehamilan#

Trimester pertama#

Guideline 2025 menegaskan pentingnya tidak menunda terapi malaria pada kehamilan. Untuk malaria P. falciparum tanpa komplikasi pada trimester pertama: - artemether--lumefantrine direkomendasikan. Data terhadap ACT lain semakin meyakinkan, tetapi artemether--lumefantrine memiliki basis pengalaman yang lebih luas. ACT alternatif dapat dipertimbangkan bila artemether--lumefantrine tidak tersedia atau tidak menjadi ACT yang direkomendasikan dalam kebijakan nasional.

Trimester kedua dan ketiga#

ACT digunakan untuk malaria P. falciparum tanpa komplikasi sesuai kebijakan nasional dan pola resistensi.

Malaria berat pada kehamilan#

Parenteral artesunate adalah terapi pilihan pada semua trimester. Terapi malaria berat tidak boleh ditunda karena status kehamilan atau trimester.


17. Bayi dan anak kecil#

Bayi <5 kg dengan malaria P. falciparum tanpa komplikasi tetap mendapat ACT dengan target dosis berbasis berat badan sebagaimana anak. Untuk dihydroartemisinin--piperaquine, guideline mencatat bahwa anak kecil memerlukan perhatian terhadap target dosis mg/kg karena formulasi/dosis standar dapat menyebabkan underdosing pada kelompok tertentu.


18. Koinfeksi HIV#

Pada pasien HIV dengan malaria P. falciparum tanpa komplikasi:

  • artesunate + sulfadoxine-pyrimethamine tidak direkomendasikan bila pasien menerima co-trimoxazole;
  • artesunate + amodiaquine tidak direkomendasikan bila pasien menerima efavirenz atau zidovudine. Pemilihan terapi perlu mempertimbangkan interaksi obat.

19. Koinfeksi tuberkulosis#

Rifamisin, terutama rifampisin, dapat menurunkan paparan sejumlah antimalaria melalui induksi enzim. Guideline menekankan bahwa pasien malaria yang menerima rifampisin memiliki risiko lebih tinggi terhadap recrudescence dan perlu dipantau secara ketat.


20. P. vivax, P. ovale, P. malariae dan P. knowlesi#

Bila spesies tidak dapat dipastikan, pasien perlu ditangani seperti malaria P. falciparum tanpa komplikasi. Untuk P. vivax, P. ovale, P. malariae atau P. knowlesi: - pada wilayah dengan infeksi sensitif klorokuin, dapat digunakan ACT atau chloroquine; - pada wilayah dengan resistensi klorokuin, gunakan ACT.


21. Pencegahan relaps P. vivax dan P. ovale#

Komponen penting terapi adalah eliminasi bentuk hipnozoit di hati. Pemilihan primaquine atau tafenoquine harus dipandu oleh status G6PD.

Prinsip G6PD#

  • <30% aktivitas normal: dianggap defisiensi.
  • 30--70%: intermediate.
  • 70%: normal menurut ambang yang digunakan untuk keputusan terapi

    tertentu. Tes kualitatif dekat pasien dapat membedakan defisiensi berat (<30%) tetapi tidak dapat secara andal mengidentifikasi perempuan dengan aktivitas intermediate 30--70%. Tes kuantitatif atau semikuantitatif lebih informatif bila keputusan terapi memerlukan batas 30% dan 70%.


22. Primaquine#

Pada individu yang diklasifikasikan tidak defisien G6PD, guideline mencantumkan regimen:

  • 0,5 mg/kg/hari selama 14 hari, atau
  • 0,5 mg/kg/hari selama 7 hari dalam konteks yang sesuai. Pada pasien dengan defisiensi G6PD, primaquine dapat dipertimbangkan:
  • 0,75 mg/kg sekali seminggu selama 8 minggu,
  • dengan pengawasan medis ketat terhadap hemolisis dan akses terhadap fasilitas yang mampu menangani komplikasi. Pemilihan regimen harus mempertimbangkan: - derajat defisiensi; - jenis tes G6PD; - kemampuan monitoring; - risiko hemolisis; - kemungkinan adherence.

23. Tafenoquine#

Guideline 2025 memberikan rekomendasi kondisional untuk tafenoquine sebagai alternatif primaquine pada kondisi tertentu. Tafenoquine: - dapat digunakan pada pasien ≥2 tahun; - membutuhkan aktivitas G6PD ≥70%; - memerlukan pemeriksaan G6PD kuantitatif atau semikuantitatif sebelum pemberian; - tidak direkomendasikan pada kehamilan dan menyusui; - tidak direkomendasikan bila pasien sedang mendapatkan ACT untuk terapi P. vivax; - rekomendasi yang ada terutama berlaku untuk Amerika Selatan karena basis bukti berasal terutama dari wilayah tersebut. Tafenoquine tidak boleh digunakan bila pemeriksaan G6PD kuantitatif/semi-kuantitatif yang akurat tidak tersedia.


24. Malaria berat#

Prinsip utama#

Malaria berat adalah kegawatdaruratan medis. Artesunate parenteral adalah terapi pilihan. WHO merekomendasikan: - artesunate IV atau IM; - diberikan setidaknya 24 jam; - kemudian, setelah pasien mampu menerima obat oral, terapi diselesaikan dengan ACT selama 3 hari. Rekomendasi berlaku untuk: - dewasa; - anak; - bayi; - ibu hamil semua trimester; - ibu menyusui.

Dosis artesunate pada anak#

WHO merekomendasikan: - anak <20 kg: 3 mg/kg/dosis; - anak ≥20 kg dan dewasa: 2,4 mg/kg/dosis.


25. Jika artesunate tidak tersedia#

Urutan pilihan: 1. Artesunate parenteral → pilihan utama. 2. Jika tidak tersedia: artemether IM. 3. Jika keduanya tidak tersedia: quinine. Artemether lebih disukai dibandingkan quinine sebagai alternatif ketika artesunate tidak tersedia.


26. Pre-referral treatment malaria berat#

Bila pasien harus dirujuk dan terapi lengkap belum dapat diberikan:

  • dewasa dan anak: berikan satu dosis artesunate IM sebelum rujukan jika tersedia;
  • bila artesunate IM tidak tersedia: artemether IM;
  • bila keduanya tidak tersedia: quinine IM;
  • pada anak <6 tahun, bila injeksi artesunate tidak tersedia, dapat diberikan artesunate rektal 10 mg/kg sebelum rujukan. Tujuan utamanya adalah menghindari keterlambatan terapi karena risiko kematian malaria berat sangat tinggi pada fase awal penyakit.

27. Monitoring malaria berat#

Pasien malaria berat memerlukan perawatan intensif dan monitoring ketat, termasuk: - tanda vital; - status neurologis/koma; - produksi urine; - glukosa darah. Glukosa darah sebaiknya diperiksa berkala, terutama pada pasien tidak sadar. Bila terdapat kecurigaan sepsis/meningitis atau diagnosis banding berat lainnya, terapi terhadap kondisi tersebut tidak boleh ditunda.


28. Delayed haemolysis setelah artesunate#

Hemolisis tertunda dapat muncul lebih dari satu minggu setelah terapi artesunate, terutama pada pasien dengan parasitemia sangat tinggi. Mekanisme berkaitan dengan pembersihan eritrosit yang sebelumnya terinfeksi dan memiliki masa hidup yang lebih pendek. Pasien dengan hyperparasitaemia perlu follow-up untuk mendeteksi anemia/hemolisis yang muncul terlambat.


29. Malaria berat P. vivax#

P. vivax tidak selalu merupakan penyakit ringan. Manifestasi berat dapat mencakup: - anemia berat; - trombositopenia; - edema paru; - malaria serebral; - ikterus; - gagal ginjal akut; - syok; - hemoglobinuria; - ruptur limpa. Tata laksana fase berat mengikuti prinsip malaria berat: - artesunate parenteral; - dilanjutkan terapi oral lengkap; - setelah pulih, terapi radikal untuk hipnozoit diperlukan.


30. Fase eliminasi dan pencegahan re-establishment#

Pada wilayah yang mendekati eliminasi, strategi bergeser dari sekadar menurunkan beban menjadi:

mendeteksi setiap infeksi, menginvestigasi sumbernya, menemukan infeksi terkait, dan mencegah transmisi lanjutan.

Intervensi yang dibahas WHO antara lain:

  • Mass testing and treatment (MTaT)
  • Targeted drug administration (TDA)
  • Targeted testing and treatment (TTaT)
  • Testing and treatment at points of entry
  • Reactive drug administration (RDA)
  • Reactive case detection and treatment (RACDT)
  • Reactive indoor residual spraying (reactive IRS)

31. Reactive case detection and treatment (RACDT)#

RACDT dipandang sebagai strategi penting pada program eliminasi untuk memastikan tidak ada kasus lain yang tersisa di sekitar atau berhubungan dengan kasus indeks. Keberhasilan RACDT bergantung pada: - ketersediaan RDT/mikroskopi; - tenaga surveilans; - investigasi kasus; - contact testing; - tindak lanjut; - bila melibatkan terapi radikal P. vivax, kemampuan pemeriksaan G6PD dan pharmacovigilance.


32. Surveilans#

Surveilans merupakan komponen inti pengendalian hingga eliminasi malaria. Data surveilans harus mendukung: - identifikasi kasus; - klasifikasi kasus; - investigasi sumber infeksi; - pemetaan lokasi transmisi; - pemantauan resistensi obat; - pemantauan resistensi insektisida; - evaluasi efektivitas intervensi; - deteksi dini peningkatan transmisi; - pencegahan re-establishment.


33. Prinsip pemilihan intervensi#

WHO menekankan bahwa tidak ada satu intervensi yang memberikan perlindungan lengkap. Pemilihan kombinasi intervensi perlu disesuaikan dengan:

  • intensitas transmisi;
  • seasonality;
  • spesies Plasmodium;
  • usia yang paling berisiko malaria berat;
  • perilaku vektor;
  • resistensi insektisida;
  • resistensi antimalaria;
  • kapasitas sistem kesehatan;
  • akses pelayanan;
  • biaya;
  • equity;
  • kemungkinan importasi kasus.

34. Prinsip antimicrobial/antimalarial stewardship#

Beberapa prinsip stewardship yang dapat ditarik langsung dari guideline:

  1. Konfirmasi diagnosis bila memungkinkan.
  2. Hindari penggunaan antimalaria tanpa indikasi ketika tes negatif dan malaria tidak mungkin.
  3. Gunakan ACT yang efektif sesuai pola resistensi lokal.
  4. Pastikan regimen ACT berlangsung 3 hari.
  5. Jangan menggunakan regimen artemisinin monoterapi oral yang tidak sesuai rekomendasi.
  6. Pilih fixed-dose combination bila tersedia.
  7. Pantau treatment efficacy dan resistensi.
  8. Gunakan pharmacovigilance untuk obat baru/ACT tertentu.
  9. Sesuaikan terapi dengan kehamilan, HIV, TB dan komorbiditas.
  10. Untuk P. vivax/P. ovale, jangan melupakan terapi hipnozoit.
  11. Pastikan keputusan primaquine/tafenoquine memperhatikan status G6PD.

35. Poin yang sangat relevan untuk praktik klinis di Indonesia#

Bila guideline ini digunakan sebagai dasar pembelajaran atau pengembangan protokol klinis, beberapa isu perlu mendapat perhatian khusus:

A. Spesies dan resistensi#

Indonesia memiliki epidemiologi malaria yang heterogen. Pemilihan ACT, chloroquine, dan terapi anti-relaps perlu mengikuti pedoman nasional dan data resistensi lokal, bukan hanya rekomendasi generik WHO.

B. P. vivax dan G6PD#

Karena P. vivax merupakan masalah penting di berbagai wilayah Indonesia, kemampuan: - diagnosis spesies; - pemeriksaan G6PD; - pemberian primaquine secara aman; - monitoring hemolisis menjadi sangat penting.

C. Malaria berat#

Artesunate parenteral perlu menjadi komponen utama tata laksana malaria berat, termasuk pada kehamilan.

D. Laboratorium#

Laboratorium memegang peranan penting dalam: - konfirmasi parasitologis; - identifikasi spesies; - kuantifikasi parasitemia bila tersedia; - quality assurance mikroskopi; - G6PD testing; - surveillance resistance; - therapeutic efficacy studies.

E. Sistem surveilans#

Pada wilayah menuju eliminasi, pendekatan harus semakin berorientasi pada case-based surveillance dan respons terhadap setiap kasus.


36. Ringkasan "high-yield"#


Topik Pesan WHO 2025


Diagnosis Konfirmasi dengan mikroskopi/RDT bila memungkinkan

Malaria berat Artesunate IV/IM adalah pilihan utama

Durasi parenteral malaria berat Minimal 24 jam dan sampai mampu terapi oral

Follow-up malaria berat Lengkapi dengan ACT 3 hari

ACT uncomplicated falciparum ACT merupakan terapi utama

Durasi ACT 3 hari

P. vivax Perhatikan terapi darah + eradikasi hipnozoit

G6PD Status G6PD memandu primaquine/tafenoquine

Tafenoquine Membutuhkan G6PD kuantitatif/semi-kuantitatif ≥70% untuk rekomendasi tertentu

ITN Intervensi utama pengendalian vektor

IRS Intervensi utama sesuai konteks epidemiologi/vector

ITN + IRS Tidak rutin digabung hanya untuk mengompensasi cakupan buruk

IPTp SP dimulai trimester II, tidak sebelum minggu ke-13; interval ≥1 bulan

SMC Untuk anak berisiko di wilayah transmisi musiman

PMC Untuk kelompok anak berisiko tinggi di wilayah transmisi perennial

MDA Dampak cepat tetapi umumnya sementara; harus menjadi bagian paket program

Vaksin RTS,S/AS01 dan R21/Matrix-M direkomendasikan untuk anak di daerah endemis

Eliminasi Fokus pada case-based surveillance, investigasi, targeted/reactive interventions#


37. Algoritme konseptual tata laksana#

Code
PASIEN DEMAM / RIWAYAT DEMAM
          |
          v
     CURIGA MALARIA?
          |
          +--------------------+
          |                    |
         YA                  TIDAK
          |                    |
          v                    v
  Pemeriksaan parasitologis   Evaluasi penyebab
  (mikroskopi / RDT)          demam lainnya
          |
          v
     POSITIF?
      /     \
    YA       TIDAK
    |          |
    v          v
Tentukan      Evaluasi diagnosis
spesies +     alternatif
derajat
keparahan
    |
    +-------------------------+
    |                         |
  BERAT                   TANPA KOMPLIKASI
    |                         |
    v                         v
ARTESUNATE                  P. falciparum
IV/IM                       → ACT 3 hari
    |                         |
≥24 jam + mampu              +------------------+
oral                          |                 |
    |                       P. vivax        spesies lain
    v                          |                 |
ACT 3 hari                 ACT/chloroquine   sesuai
    |                       sesuai resistensi  resistensi
    v                          |
Monitoring                  G6PD testing
    |                          |
    v                          v
Follow-up                 Primaquine/
                          tafenoquine sesuai
                          status G6PD

38. Kesimpulan#

WHO Guidelines for Malaria 2025 menempatkan pengendalian malaria sebagai strategi terintegrasi, bukan intervensi tunggal.

Lima pesan terpenting:

  1. Diagnosis parasitologis tetap fundamental, tetapi malaria berat harus segera diterapi tanpa menunggu hasil bila penundaan membahayakan pasien.
  2. Artesunate parenteral adalah terapi pilihan malaria berat, minimal 24 jam, kemudian dilanjutkan ACT lengkap.
  3. ACT selama 3 hari merupakan dasar terapi malaria P. falciparum tanpa komplikasi.
  4. P. vivax membutuhkan perhatian terhadap hipnozoit dan G6PD, karena terapi anti-relaps harus aman dan efektif.
  5. Pencegahan membutuhkan kombinasi pengendalian vektor, kemoprevensi, vaksin, diagnosis-terapi efektif, dan surveilans, yang dipilih berdasarkan epidemiologi lokal.

Referensi utama#

World Health Organization. WHO guidelines for malaria. 13 August 2025. Geneva: World Health Organization; 2025. DOI: 10.2471/B09514.

Bagian penting dalam dokumen sumber#

  • Executive summary: hlm. 29--31
  • Prevention: hlm. 36--162
  • Diagnosis: hlm. 163--165
  • Uncomplicated malaria: hlm. 166--209
  • Severe malaria: hlm. 210--224
  • Elimination/re-establishment: hlm. 228--252
  • Surveillance: hlm. 253--258
  • References: hlm. 295--312
  • Evidence profiles: hlm. 313--478

Disclaimer: Rangkuman ini dibuat untuk pembelajaran dan orientasi klinis. Untuk keputusan pasien individual, dosis spesifik, kebijakan program nasional, dan kondisi epidemiologi lokal, gunakan guideline WHO terbaru serta pedoman nasional yang berlaku.