1. Pendahuluan#
Panduan ini menyintesis bukti terkini mengenai pengujian dan diagnostik laboratorium virus dengue (DENV) untuk merespons darurat dengue global yang dideklarasikan oleh WHO. Insiden dengue global meningkat pesat akibat kombinasi faktor lingkungan, sosial, perubahan iklim, serta mobilitas populasi. Mengingat ketiadaan terapi spesifik, pengujian yang akurat dan cepat sangat penting untuk manajemen pasien, investigasi wabah, dan surveilans genomik.
2. Gambaran Klinis dan Prioritas Pengujian#
Pasien dengan suspek dengue harus segera mendapatkan penanganan klinis tanpa perlu menunggu hasil tes laboratorium. Infeksi DENV bervariasi dari asimtomatik hingga disfungsi multiorgan yang parah. Prioritas pengujian harus diberikan kepada kelompok rentan yang berisiko tinggi mengalami penyakit parah, antara lain:
- Bayi dan anak kecil.
- Wanita hamil.
- Individu dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (komorbiditas).
- Wisatawan yang kembali dari daerah endemik ortoflavivirus.
3. Jenis dan Penanganan Sampel#
DENV dapat dideteksi dari berbagai jenis sampel. Pemilihan sampel bergantung pada jenis tes dan fase infeksi:
- Serum: Merupakan jenis sampel yang paling disukai dan andal untuk deteksi RNA DENV, NS1, dan antibodi IgM/IgG.
- Darah utuh (Whole blood), Plasma, dan Darah kapiler: Sering digunakan, terutama darah kapiler dalam pengaturan sumber daya terbatas atau untuk anak-anak.
- Urine dan Cairan Serebrospinal (CSF): Urine dapat digunakan dalam fase infeksi selanjutnya. CSF hanya diambil pada kasus ensefalitis oleh personel berpengalaman.
- Sampel Jaringan: Digunakan terutama untuk pemeriksaan histologis atau autopsi.
Kondisi Transportasi & Penyimpanan: Penanganan sampel yang benar sangat penting. Sampel DENV dikategorikan sebagai Bahan Biologis Kategori B (UN3373), sedangkan kultur virus DENV diklasifikasikan sebagai Bahan Menular Kategori A (UN2814). Jika tidak segera diuji, sampel serum harus didinginkan (2-8°C) untuk jangka pendek, atau dibekukan pada suhu -20°C (atau -70°C untuk RNA/CSF) untuk penyimpanan jangka panjang.
4. Metode Pengujian Laboratorium#
Kinerja alat diagnostik dipengaruhi oleh jenis sampel, waktu pengujian (fase infeksi), keberadaan koinfeksi, dan riwayat vaksinasi.
A. Fase Akut (0-7 hari pasca onset gejala)#
Pada fase ini, deteksi difokuskan pada virus atau komponen virus itu sendiri:
- Nucleic Acid Amplification Tests (NAAT): Seperti RT-PCR, sangat sensitif dan spesifik untuk mendeteksi RNA virus. Dapat mendeteksi dan membedakan keempat serotipe DENV.
- Deteksi Antigen NS1: Menggunakan ELISA atau Rapid Diagnostic Tests (RDT). NS1 adalah glikoprotein yang terdeteksi hingga 9 hari pada infeksi primer, dan menurun lebih cepat (hari ke-6/7) pada infeksi sekunder.
B. Fase Lanjut / Konvalesen (>7 hari pasca onset gejala)#
Pada fase ini, respons imun tubuh menjadi indikator utama:
- Serologi (IgM dan IgG): Menggunakan ELISA atau RDT untuk mendeteksi antibodi. Pengambilan sampel berpasangan (akut dan konvalesen, dengan interval 10-14 hari) meningkatkan akurasi diagnostik (misalnya, mencari peningkatan titer/serokonversi).
- Tes Kombinasi (NS1 & IgM): RDT yang menggabungkan deteksi NS1 dan IgM (+/- IgG) dapat meningkatkan sensitivitas prediktif secara signifikan, berguna baik di fase akut maupun awal fase konvalesen.
C. Karakterisasi Lanjut dan Surveilans#
- Plaque Reduction Neutralization Tests (PRNT): Standar emas untuk mengkuantifikasi antibodi penetral spesifik serotipe.
- Kultur Virus: Untuk karakterisasi genotipik dan fenotipik (membutuhkan BSL-3).
- Next-Generation Sequencing (NGS): Untuk surveilans genomik guna melacak varian dan mutasi.
5. Dinamika Infeksi Primer vs. Sekunder#
Membedakan infeksi primer dan sekunder sangat penting karena infeksi sekunder memiliki risiko keparahan yang lebih tinggi.
- Infeksi Primer: RNA virus dan NS1 terdeteksi sejak awal. IgM muncul sekitar hari ke 3-5, memuncak pada dua minggu, lalu menurun. IgG muncul lebih lambat.
- Infeksi Sekunder: Tingkat antibodi IgG meningkat sangat tajam dan cepat, mendominasi respons imun. Karena antibodi yang sudah ada membentuk kompleks dengan antigen, deteksi NS1 dan RNA virus bersihan tubuh menjadi lebih cepat. IgM seringkali berkurang atau bahkan tidak terdeteksi.
6. Algoritma Diagnostik yang Diusulkan#
WHO mengusulkan algoritma diagnostik yang diadaptasi berdasarkan waktu onset gejala:
- ≤ 7 hari pasca onset gejala: Gunakan tes NAAT (RNA), atau ELISA/RDT untuk NS1, atau tes kombinasi NS1+IgM. Hasil positif dari tes-tes ini mengonfirmasi infeksi dengue akut.
- > 7 hari pasca onset gejala: Gunakan ELISA/RDT untuk IgM. Karena IgM dapat bereaksi silang dengan ortoflavivirus lain, hasil negatif tidak secara definitif menyingkirkan kemungkinan dengue. Konfirmasi lebih lanjut mungkin memerlukan pengujian serokonversi dengan sampel konvalesen (diambil 10-14 hari kemudian).
7. Jejaring Laboratorium Berjenjang#
Pengujian harus diintegrasikan di seluruh tingkat sistem kesehatan:
- Fasilitas Perawatan Primer: Penggunaan RDT untuk deteksi awal.
- Laboratorium Tingkat Distrik/Provinsi: Menggunakan RDT, ELISA, dan NAAT dengan kompleksitas sedang.
- Laboratorium Rujukan Nasional/Pusat: Menangani teknik yang kompleks seperti NAAT lanjutan, ELISA, Kultur Virus, NGS, dan PRNT.
8. Manajemen Mutu dan Keamanan Hayati (Biosafety)#
- Sampel klinis harus ditangani dengan protokol Biosafety Level 2 (BSL-2).
- Kultur virus hidup memerlukan protokol yang ditingkatkan setara dengan Biosafety Level 3 (BSL-3).
- Evaluasi kualitas reagen dan validasi sistem manajemen mutu (ISO 13485) sangat direkomendasikan sebelum pengadaan tes diagnostik, mengingat alat tes dengue saat ini belum diprakualifikasi oleh WHO.