Clinical Library
PNPK

2020 Tata Laksana Infeksi Dengue pada Dewasa

Terbit: 2020
Download PDF

Rangkuman Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Infeksi Dengue Pada Dewasa#

Referensi File: 17001183546555bf5250af30.46055725.pdf

Dokumen ini merupakan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang mengatur pedoman standar pelayanan kedokteran untuk menangani infeksi dengue pada orang dewasa [cite: 1]. Berikut adalah rangkuman rinci yang dikelompokkan berdasarkan bab:

BAB I: Pendahuluan#

  • Latar Belakang: Infeksi dengue disebabkan oleh virus dengue (DENV-1 hingga DENV-4) yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus [cite: 1]. Angka morbiditas masih dipengaruhi oleh curah hujan, perubahan iklim, serta mobilitas penduduk [cite: 1].
  • Tujuan Pedoman: Memberikan acuan bagi fasilitas pelayanan kesehatan dan pembuat keputusan klinis dalam menyusun protokol/standar prosedur operasional penanganan dengue untuk menurunkan angka mortalitas dan morbiditas [cite: 1].

BAB II: Metodologi#

  • Pedoman ini disusun menggunakan penelusuran kepustakaan secara manual dan elektronik dengan kata kunci terkait dengue [cite: 1].
  • Evaluasi pedoman menggunakan klasifikasi bukti ilmiah (Level I - IV) dan derajat rekomendasi (Rekomendasi A - D) berdasarkan telaah kritis dari para pakar [cite: 1].

BAB III: Hasil dan Pembahasan#

A. Etiologi, Patogenesis, dan Perjalanan Klinis#

  • Patogenesis: Proses utama infeksi dengue ("medan pertempuran") terjadi di endotel kapiler pembuluh darah [cite: 1]. Aktivasi sitokin memicu pelebaran celah antar endotel yang menyebabkan kebocoran plasma (kehilangan cairan intravaskular) [cite: 1].
  • Perjalanan Klinis (3 Fase Utama):
    1. Fase Demam (Hari 1-3): Demam tinggi mendadak yang sering disertai gejala penyerta seperti sakit kepala, nyeri tubuh, mialgia, dan anoreksia [cite: 1].
    2. Fase Kritis (Hari 4-6): Ditandai dengan penurunan suhu (fase defervesens). Pada fase ini, risiko tertinggi terjadi kebocoran plasma yang bisa memicu hemokonsentrasi, penumpukan cairan di pleura/abdomen, dan Sindroma Syok Dengue (SSD) [cite: 1].
    3. Fase Konvalesens (Pemulihan): Kebocoran plasma berhenti dan cairan diserap kembali ke intravaskular. Ruam penyembuhan (bercak putih di tengah area kemerahan) sering muncul pada fase ini [cite: 1].

B. Diagnosis dan Manifestasi Klinis#

  • Klasifikasi Penyakit: Asimtomatik (tanpa gejala) dan Simtomatik (Sindroma infeksi virus/demam tidak jelas, Demam Dengue/DD, Demam Berdarah Dengue/DBD, serta Expanded Dengue Syndrome) [cite: 1].
  • Pemeriksaan Penunjang: Deteksi dini optimal dilakukan lewat uji Antigen NS1 pada fase akut (hari 1-3) [cite: 1]. Uji serologi IgM/IgG digunakan pada fase konvalesen untuk mengetahui respons antibodi dan membedakan infeksi primer atau sekunder [cite: 1]. Peningkatan hematokrit ≥ 20% menjadi bukti objektif adanya kebocoran plasma pada kasus DBD [cite: 1].

C. Protokol Tatalaksana Infeksi Dengue Dewasa#

Prinsip utama terapi adalah asuhan suportif (manajemen cairan), tidak ada obat spesifik [cite: 1]. Protokol tatalaksana dibagi menjadi 6 kategori:

  1. Protokol 1 (Tersangka Demam Dengue): Evaluasi triase untuk menentukan penderita rawat jalan atau rawat inap berdasarkan ada/tidaknya tanda kedaruratan (syok, muntah, nyeri perut, Ht naik) dan jumlah trombosit (Rawat inap jika Trombosit ≤ 100.000/μl) [cite: 1].
  2. Protokol 2 (Pemberian Cairan Ruang Rawat Inap): Pemberian infus kristaloid dengan rumus dasar rumatan cairan berdasarkan berat badan, serta pemantauan Hematokrit (Ht) dan Trombosit secara berkala (tiap 12-24 jam) [cite: 1].
  3. Protokol 3 (DBD dengan Tanda Peringatan): Tanda peringatan seperti Ht naik ≥20% menandakan defisit cairan 5%. Terapi awal adalah bolus cairan kristaloid 5-7 ml/kgBB/jam yang kemudian diturunkan secara bertahap seiring perbaikan hemodinamik [cite: 1].
  4. Protokol 4 (Perdarahan Spontan): Untuk kasus epistaksis berat, hematemesis, atau melena tanpa syok. Tindakan mencakup transfusi komponen darah seperti PRC (bila Hb < 10 g/dL), FFP (bila ada gangguan koagulasi/aPTT memanjang), dan Trombosit (TC) jika trombosit < 100.000 disertai perdarahan masif [cite: 1].
  5. Protokol 5 (Syok Terkompensasi): Bila tekanan sistolik normal namun perfusi memburuk. Cairan resusitasi awal 5-10 ml/kgBB/jam. Jika hematokrit masih tinggi setelah cairan pertama, tingkatkan menjadi 10-20 ml/kgBB/jam [cite: 1].
  6. Protokol 6 (Sindroma Syok Dengue / Syok Berat): Kedaruratan medis yang membutuhkan oksigenasi dan guyuran cairan kristaloid/koloid 10-20 ml/kgBB/jam dengan cepat (kurang dari 10-30 menit) [cite: 1]. Jika syok gagal teratasi dan hematokrit menurun, dicurigai terjadi perdarahan internal dan dianjurkan transfusi darah segar (WB) [cite: 1].

BAB IV: Simpulan dan Rekomendasi#

  • Infeksi dengue sangat dinamis dan terapi difokuskan pada manajemen keseimbangan cairan untuk mencegah syok hipovolemik serta menghindari komplikasi fluid overload (kelebihan cairan) saat fase penyembuhan [cite: 1].
  • Kriteria Pulang dari Rawat Inap: Penderita boleh dipulangkan bila bebas demam 24 jam tanpa antipiretik, nafsu makan/klinis membaik, hemodinamik stabil dengan diuresis adekuat, melewati fase kritis minimal 2 hari setelah syok, tidak ada distres napas akibat efusi, dan nilai trombosit telah meningkat melebihi 50.000/mm³ [cite: 1].