1. Pendahuluan#
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica serovar Typhi . Penyakit ini merupakan masalah endemik di Indonesia dengan prevalensi mencapai 500 kasus per 100.000 penduduk per tahun . Penularan utamanya terjadi melalui air atau makanan yang terkontaminasi oleh tinja orang yang terinfeksi .
2. Klasifikasi#
- Berdasarkan Kapasitas Fasilitas Kesehatan:
- Suspek: Gejala demam dan gangguan saluran cerna .
- Probabel: Klinis tifoid disertai gambaran laboratorium pendukung (misal: leukopenia) atau serologi positif .
- Terkonfirmasi: Klinis tifoid dengan hasil kultur positif S. Typhi (atau pemeriksaan serologi/RDT jika kultur tidak tersedia) .
- Karier Kronik: Ekskresi Salmonella spp. di feses/urin lebih dari 12 bulan setelah infeksi akut .
- Berdasarkan Keparahan: Demam tifoid tanpa komplikasi dan dengan komplikasi .
- Berdasarkan Respon Antibiotik: Sensitif, Multi-Drug Resistant (MDR), dan Quinolon resistance .
3. Diagnosis#
- Manifestasi Klinis: Gejala utama meliputi demam >= 5 hari dengan pola naik bertahap seperti anak tangga (step-ladder fever), sakit kepala frontal, gangguan pencernaan (konstipasi atau diare), mual, dan muntah . Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan bradikardia relatif, lidah kotor (typhoid tongue), rose spot di dada/perut, dan pembesaran hati/limpa (hepatosplenomegali) .
- Sistem Skoring: Evaluasi gejala dapat menggunakan "Skor Nelwan" . Skor total >= 10 memiliki nilai diagnostik tinggi untuk mencurigai demam tifoid dan mengindikasikan perlunya pemeriksaan penunjang .
- Pemeriksaan Penunjang:
- Baku Emas: Kultur (darah pada minggu pertama/kedua, sumsum tulang, feses, atau urin) .
- Darah Perifer: Sering ditemukan leukopenia, limfositosis relatif, aneosinofilia, hingga trombositopenia .
- Serologi/RDT: Tes Widal, IgM dipstick, atau Rapid Diagnostic Test (RDT) Antigen/Antibodi Dot-EIA . Uji Widal dinilai bermakna jika titer O minimal 1/320 atau terjadi kenaikan titer 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5-7 hari .
4. Tata Laksana di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama (FPKTP)#
Bagi pasien tanpa komplikasi dengan kesadaran baik dan toleransi asupan oral yang baik, perawatan dapat dilakukan secara rawat jalan atau di FPKTP .
- Terapi Non-Farmakologis: Tirah baring, pemenuhan kebutuhan cairan 30-40 ml/kg/hari, serta terapi gizi berupa makanan lunak rendah serat untuk mencegah perdarahan dan perforasi usus .
- Terapi Farmakologis:
- Simptomatik (antipiretik dan antiemetik) .
- Antibiotik empiris oral selama 7-14 hari, dengan pilihan antara lain Kloramfenikol, Ampisilin, Amoksisilin, Kotrimoksazol (TMP-SMX), Sefiksim, atau Tiamfenikol .
5. Tata Laksana di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjut (FPKTL)#
Pasien memerlukan rujukan ke FPKTL jika terdapat indikasi berikut:
- Tidak ada perbaikan klinis setelah 5 hari mendapat terapi antibiotik .
- Usia lanjut (>= 60 tahun) .
- Terdapat komorbid berat, gizi buruk, atau imunodefisiensi .
- Terdapat Komplikasi: Tifoid toksik (ensefalopati), syok septik, perdarahan usus, perforasi intestinal (peritonitis), hepatitis tifosa, atau pneumonia .
Di FPKTL, pasien dapat diberikan terapi cairan parenteral, nutrisi enteral/parenteral sesuai kondisi, serta Antibiotik Parenteral/Lini Lanjut seperti Seftriakson (1-2 gram/hari), Siprofloksasin, Levofloksasin, Azitromisin, atau Meropenem untuk kasus komplikasi/sepsis .
6. Penanganan Kondisi Khusus#
- Demam Tifoid pada Kehamilan: Pilihan utama antibiotik adalah sefalosporin generasi ketiga (Seftriakson) karena terbukti aman bagi janin . Penggunaan golongan fluorokuinolon (seperti Siprofloksasin) sangat tidak dianjurkan karena berisiko mengganggu perkembangan tulang dan sendi janin .
- Karier Kronik Tifoid: Tata laksana ditujukan untuk eradikasi S. Typhi dengan pemberian antibiotik jangka panjang (selama 3 bulan) menggunakan Ampisilin, Amoksisilin, atau Kotrimoksazol . Jika pasien memiliki batu empedu (kolelitiasis), sangat direkomendasikan tindakan kolesistektomi yang disertai dengan regimen antibiotik selama 28 hari .