Ringkasan Terstruktur#
Buku Saku Tata Laksana Kasus Malaria 2026#
Sumber: Buku Saku Tata Laksana Kasus Malaria 2026, Direktorat Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Tahun 2026.
Catatan: Dokumen ini merupakan ringkasan terstruktur dari buku sumber.
Cara membaca tabel: kolom dibuat singkat dan angka penting ditebalkan. Tabel dosis berdasarkan BB dipisahkan dari tabel kriteria/monitoring agar tetap nyaman dibaca di layar. Angka dosis, kriteria, interval pemantauan, dan algoritma dipertahankan sedetail mungkin. Untuk keputusan klinis, gunakan buku sumber sebagai rujukan utama.
1. Identitas, Tujuan, dan Posisi Buku#
Buku saku ini diterbitkan oleh Direktorat Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Tahun 2026. Buku merupakan cetakan ke-4 dari buku revisi edisi 2023.
Perubahan pada edisi 2026 yang disebutkan dalam buku meliputi: - perubahan tabel pengobatan; - perubahan tata laksana malaria tanpa komplikasi pada anak; - penambahan obat pencegahan malaria; - penambahan/pembaruan pemantauan pengobatan malaria; - penyesuaian dengan pedoman tata laksana kasus malaria WHO 2025.
Buku dimaksudkan sebagai buku standar/pedoman praktik dokter dalam tata laksana malaria dan menjadi panduan bagi tenaga medis serta petugas kesehatan lainnya.
Strategi penting yang ditekankan adalah Early Diagnosis and Prompt Treatment, yaitu penemuan dini kasus dan pengobatan yang tepat serta cepat agar penularan dapat dihentikan.
2. Gambaran Situasi Malaria di Indonesia#
- Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di wilayah terpencil dan wilayah dengan endemisitas tinggi.
- Data Kementerian Kesehatan tahun 2024 yang dicantumkan buku: 543.965 kasus malaria, sekitar 93% terkonsentrasi di wilayah Papua.
- Dampak malaria:
- meningkatkan morbiditas dan mortalitas;
- menyebabkan anemia;
- menurunkan produktivitas ekonomi;
- mobilitas penduduk meningkatkan risiko munculnya kembali kasus di wilayah dengan transmisi yang sudah menurun.
- RPJMN 2025--2029 melalui Perpres No. 12 Tahun 2025 menempatkan malaria sebagai salah satu penyakit prioritas, dengan target penurunan penyakit menular dan eliminasi malaria tingkat kabupaten/kota.
- Tantangan pengendalian malaria antara lain menurunnya efikasi obat dan resistansi.
- Resistansi luas terhadap klorokuin menjadi salah satu alasan perubahan kebijakan pengobatan.
- Indonesia menetapkan ACT sebagai terapi lini pertama malaria falciparum sejak 2004, kemudian memperluas penggunaannya untuk seluruh jenis malaria sejak 2010.
- ACT dipilih karena:
- bekerja cepat;
- poten menurunkan biomassa parasit;
- membantu mengurangi transmisi melalui eliminasi gametosit.
- Tahun 2025, wilayah dengan endemisitas tertinggi yang disebutkan adalah Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, dan wilayah Papua.
- Peta endemisitas malaria tahun 2025 dirujuk dalam buku dan dapat
diakses melalui .Code
malaria.kemkes.go.id
3. STANDAR TATA LAKSANA MALARIA#
3.1 Standar Diagnosis#
Siapa yang harus diduga malaria?#
- Tinggal di daerah endemis malaria
- demam; atau
- riwayat demam dalam 72 jam terakhir; atau
- tampak pucat.
- Penyebab demam lain tetap harus dipertimbangkan.
- Di daerah endemis tinggi: semua balita sakit yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan diperiksa malaria.
- Tinggal di daerah non-endemis
- demam dalam 7 hari terakhir; dan
- mempunyai risiko tertular malaria.
- Faktor risiko meliputi:
- bepergian ke daerah endemis;
- ada individu dari daerah endemis yang berkunjung ke lingkungan tempat tinggal pasien;
- riwayat transfusi darah.
- Riwayat malaria sebelumnya
- setiap individu dengan demam dan riwayat sakit malaria sebelumnya harus diduga malaria.
Pemeriksaan diagnostik#
Setiap pasien yang diduga malaria harus menjalani pemeriksaan darah: - mikroskopis; atau - Rapid Diagnostic Test (RDT).
Target waktu: - hasil diagnosis malaria harus diperoleh <24 jam sejak pasien datang/memeriksakan diri, agar pengobatan dapat diberikan cepat.
3.2 Standar Pengobatan#
- Pengobatan radikal mengikuti kebijakan nasional pengobatan malaria Indonesia.
- ACT hanya diberikan pada pasien dengan pemeriksaan darah malaria yang terkonfirmasi positif.
- ACT diberikan segera setelah hasil pemeriksaan darah diperoleh.
- Malaria tanpa komplikasi:
- ACT + Primakuin sesuai spesies Plasmodium.
- ACT yang disediakan pemerintah:
- Dihidroartemisinin-Piperakuin (DHP);
- diberikan selama 3 hari, berdasarkan berat badan.
- Primakuin tidak diberikan menurut bagian standar buku pada:
- bayi <6 bulan;
- ibu hamil;
- ibu menyusui bayi usia <1 bulan;
- pasien dengan defisiensi G6PD.
- Dosis optimum Primakuin ditentukan berdasarkan pemeriksaan G6PD semi-kuantitatif.
- Malaria berat/komplikasi:
- Artesunat intravena;
- minimal 24 jam, pada jam 0, 12, dan 24;
- kemudian DHP + Primakuin oral sesuai spesies setelah kondisi klinis membaik dan pasien mampu menerima obat oral.
- Tenaga kesehatan harus memastikan:
- pasien minum obat dengan benar;
- bila memungkinkan dosis pertama diminum di depan petugas;
- obat diminum sampai habis;
- pasien mendapatkan edukasi/konseling untuk mencegah kegagalan terapi dan resistansi.
- Bila malaria berat akan dirujuk:
- dosis awal Artesunat IV atau IM diberikan sebelum rujukan.
3.3 Standar Pemantauan Pengobatan#
Rawat jalan#
Evaluasi klinis dan mikroskopis: - hari ke-3; - hari ke-7; - hari ke-14; - hari ke-28.
Rawat inap#
- evaluasi klinis dan pemeriksaan darah malaria setiap hari
sampai:
- kondisi klinis membaik; dan
- parasit tidak ditemukan pada sediaan darah.
- Setelah itu dilanjutkan dengan jadwal evaluasi seperti pasien rawat jalan.
3.4 Tanggung Jawab Kesehatan Masyarakat#
Petugas kesehatan harus: - mengetahui tingkat endemisitas malaria terkini di wilayah kerjanya melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan; - membangun jejaring dengan fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta; - memantau kesesuaian tata laksana dengan standar terkini; - melaporkan seluruh kasus malaria dan hasil pengobatannya kepada Dinas Kesehatan sesuai ketentuan.
4. BAB II --- MALARIA#
4.1 Penyebab#
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.
Lima spesies yang menginfeksi manusia: 1. Plasmodium falciparum 2. P. vivax 3. P. ovale 4. P. malariae 5. P. knowlesi
4.2 Jenis Malaria dan Gambaran Klinis#
Spesies Karakteristik utama menurut buku
P. falciparum Malaria tropika; demam dapat intermiten maupun kontinu; paling sering menjadi malaria berat dan menyebabkan kematian
P. vivax Malaria tersiana; demam berulang dengan interval bebas demam 2 hari; dapat menyebabkan malaria berat
P. ovale Umumnya ringan; pola demam seperti vivax
P. malariae Malaria kuartana; demam berulang dengan interval bebas demam 3 hari
P. knowlesi Gejala menyerupai falciparum#
4.3 Gejala#
Gejala utama adalah demam.
Pada fase awal demam dapat tidak teratur. Pola klasik: 1. stadium dingin/menggigil; 2. demam tinggi; 3. berkeringat banyak.
Gejala tambahan: - sakit kepala; - mual; - muntah; - diare; - pegal-pegal; - nyeri otot.
Pada penduduk daerah endemis: - gejala klasik tidak selalu ditemukan; - manifestasi dapat tidak spesifik karena status imun.
4.4 Bahaya Malaria#
Jika tidak ditangani: - dapat berkembang menjadi malaria berat dan menyebabkan kematian; - tetap dapat menularkan penyakit melalui gigitan nyamuk; - dapat menyebabkan anemia; - pada ibu hamil dapat menyebabkan: - keguguran; - kelahiran prematur; - berat badan lahir rendah (BBLR); - lahir mati.
5. BAB III --- DIAGNOSIS BANDING DAN DIAGNOSIS#
5.1 Prinsip Diagnosis#
Diagnosis berdasarkan: 1. anamnesis; 2. pemeriksaan fisik; 3. pemeriksaan laboratorium.
Malaria berat didiagnosis berdasarkan kriteria WHO pada Bab V.
Malaria dapat menyerupai: - tifoid; - dengue; - leptospirosis; - hepatitis akut; - chikungunya; - infeksi saluran napas.
Contoh jebakan klinis: - trombositopenia dapat disangka dengue, leptospirosis, atau tifoid; - demam + ikterus dapat disangka hepatitis atau leptospirosis; - demam + penurunan kesadaran dapat disangka ensefalitis, sepsis, atau kejang demam pada anak.
Karena itu, pada setiap pasien demam perlu ditanyakan terutama: - riwayat perjalanan; - riwayat tinggal; - riwayat bermalam di daerah endemis malaria.
5.2 Pendekatan pada Balita#
Menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
Daerah endemis tinggi#
- setiap balita sakit harus diperiksa darah untuk malaria.
Daerah non-endemis serta endemis rendah/sedang#
Pemeriksaan darah pada balita dengan demam bila: - pernah bepergian/tinggal di daerah fokus atau daerah endemis tinggi; atau - memiliki riwayat transfusi darah.
Fokus malaria = daerah reseptif malaria.
5.3 Diagnosis Pasti#
- Pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopis dan/atau RDT.
- Untuk P. knowlesi, diagnosis dikonfirmasi dengan pemeriksaan molekuler.
6. ANAMNESIS#
Hal yang harus digali:
- Demam, menggigil, berkeringat.
- Sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot, pegal-pegal.
- Riwayat demam dalam 1--2 minggu sebelumnya.
- Riwayat malaria sebelumnya.
- Riwayat konsumsi obat malaria sebelumnya.
- Riwayat transfusi darah.
- Riwayat berkunjung ke daerah fokus/endemis tinggi.
- Riwayat tinggal di daerah fokus/endemis tinggi.
Pesan praktis: setiap pasien dengan demam/riwayat demam harus ditanya apakah pernah berkunjung atau bermalam di daerah endemis malaria.
Semua pasien yang datang dari atau tinggal di daerah endemis malaria dengan gejala apa pun harus diperiksa darah malaria.
7. PEMERIKSAAN FISIK#
Hal yang dicari: - suhu aksiler ≥37,5°C; - konjungtiva/telapak tangan pucat; - sklera ikterik; - splenomegali; - hepatomegali.
8. PEMERIKSAAN LABORATORIUM#
8.1 Mikroskopis#
Sediaan darah: - tebal; - tipis.
Merupakan gold standard.
Tujuan: 1. menentukan ada/tidaknya parasit; 2. menentukan spesies dan stadium Plasmodium; 3. menentukan kepadatan/jumlah parasit.
8.2 RDT#
RDT mendeteksi antigen parasit melalui imunokromatografi, antara lain: - HRP-2; - PAN-LDH; - PvLDH; - PAN-Aldolase.
Ketentuan: - RDT untuk diagnosis harus memenuhi standar WHO Prequalification (WHO PQ). - Digunakan terutama pada fasilitas yang tidak mampu melakukan mikroskopis, baik pelayanan rutin maupun emergensi. - Sebelum digunakan harus memeriksa petunjuk penggunaan dan tanggal kedaluwarsa. - RDT tidak digunakan untuk evaluasi hasil pengobatan, karena antigen malaria masih dapat beredar sampai 28 hari.
8.3 Pemeriksaan G6PD#
- Pemeriksaan G6PD semi-kuantitatif dengan alat yang direkomendasikan WHO harus dilakukan sebelum pemberian Primakuin dosis optimum.
9. BAB IV --- MALARIA TANPA KOMPLIKASI#
Terapi utama: - ACT berupa DHP; - dikombinasikan dengan Primakuin sesuai spesies.
Tujuan kombinasi ACT: - meningkatkan efektivitas; - mencegah resistansi.
Peran Primakuin: - gametosidal; - hipnozoidal.
10. REGIMEN BERDASARKAN SPESIES#
10.1 P. falciparum#
- DHP selama 3 hari.
- Primakuin hanya hari pertama.
- Primakuin: 0,25 mg/kgBB/hari dosis tunggal.
Tabel DHP tablet 40/320 mg + Primakuin 15 mg#
| BB | DHP/hari (hari 0–2) | Primakuin hari 0 |
|---|---|---|
| <8 kg | ½ tablet | — |
| 8–<11 kg | ¾ tablet | ¼ tablet |
| 11–<17 kg | 1 tablet | ¼ tablet |
| 17–<25 kg | 1½ tablet | ½ tablet |
| 25–<36 kg | 2 tablet | ¾ tablet |
| 36–<60 kg | 3 tablet | 1 tablet |
| 60–<80 kg | 4 tablet | 1 tablet |
| ≥80 kg | 5 tablet | 1 tablet |
Catatan: Primakuin pada tabel diberikan hanya pada anak usia ≥6 bulan.
Catatan: - Primakuin pada tabel diberikan hanya pada anak usia ≥6 bulan.
10.2 P. vivax#
- DHP selama 3 hari.
- Primakuin sesuai status G6PD.
Dosis Primakuin berdasarkan G6PD#
| Status G6PD | Aktivitas G6PD | Regimen Primakuin |
|---|---|---|
| Normal | ≥6,1 U/g Hb | 1 mg/kgBB/hari × 7 hari |
| Intermediet/sedang | 4,1–6,0 U/g Hb | 0,5 mg/kgBB/hari × 14 hari |
| Defisiensi/rendah | ≤4,0 U/g Hb | 0,75 mg/kgBB/minggu × 8 minggu |
Jika: - pemeriksaan G6PD tidak tersedia; atau - hasil G6PD tidak valid,
maka buku menyebutkan: - Primakuin 0,25 mg/kgBB/hari selama 14 hari.
Primakuin tidak boleh diberikan pada: - bayi <6 bulan; - ibu hamil; - ibu menyusui bayi <1 bulan.
DHP tablet 40/320 mg + Primakuin 15 mg#
| BB | DHP/hari (hari 0–2) | Primakuin hari 0–13 |
|---|---|---|
| <8 kg | ½ tablet | — |
| 8–<11 kg | ¾ tablet | ¼ tablet |
| 11–<17 kg | 1 tablet | ¼ tablet |
| 17–<25 kg | 1½ tablet | ½ tablet |
| 25–<36 kg | 2 tablet | ¾ tablet |
| 36–<60 kg | 3 tablet | 1 tablet |
| 60–<80 kg | 4 tablet | 1 tablet |
| ≥80 kg | 5 tablet | 1 tablet |
10.3 DHP Dispersibel pada Anak#
DHP dispersibel 20/160 mg merupakan pilihan utama untuk: - anak <5 tahun; dan - anak yang tidak dapat menelan tablet.
Jika tidak tersedia: - dapat diberikan DHP tablet 40/320 mg.
DHP dispersibel tidak disarankan untuk dewasa, kecuali saat stock-out tablet DHP.
CodeBB DHP dispersibel 20/160 mg hari 0--2 Air pelarut
Code\<8 kg 1 tablet ±10 mL 8--\<11 kg 1 1/2 tablet ±15 mL 11--\<17 kg 2 tablet ±20 mL 17--\<25 kg 3 tablet ±30 mL 25--\<36 kg 4 tablet ±40 mL 36--\<60 kg 6 tablet ±60 mL
Primakuin 15 mg pada tabel anak: - <8 kg: ---; - 8--<11 kg: 1/4 tablet; - 11--<17 kg: 1/4 tablet; - 17--<25 kg: 1/2 tablet; - 25--<36 kg: 3/4 tablet; - 36--<60 kg: 1 tablet.
11. DOSIS PRIMAKUIN OPTIMUM BERDASARKAN G6PD#
Jumlah tablet Primakuin 15 mg#
G6PD Durasi <6 kg 6--11 12--20 21--25 26--35 36--50 ≥51 kg
Normal ≥6,1 1×/hari, 7 --- 1/2 1 1 1/2 2 3 4 U/g Hb hari
Intermediet 1×/hari, 14 --- 1/4 1/2 3/4 1 1 1/2 2
4,1--6,0 U/g hari
Hb
Defisiensi 1×/minggu, 8 --- 1/2 1 1 1/2 1 1/2 2 3 ≤4,0 U/g Hb minggu#
Catatan dosis#
DHP berdasarkan berat badan.
Pada anak obesitas: - gunakan berat badan ideal.
Rumus bedside yang dicantumkan: - usia 0--11 bulan: (usia dalam bulan + 9) / 2 - usia 1--6 tahun: (2 × usia dalam tahun) + 8 - usia 7--14 tahun: 4 × usia dalam tahun - usia >14 tahun: berat badan aktual.
Kecurigaan defisiensi G6PD: - riwayat urin coklat kehitaman setelah obat tertentu, termasuk sulfa, Primakuin, kina, klorokuin, dll.
Bila urin menjadi gelap: - hentikan Primakuin; - segera rujuk untuk evaluasi.
Obat malaria sebaiknya diminum setelah makan untuk mengurangi nyeri perut.
Catatan penting terhadap isi sumber: bagian standar pengobatan menyatakan Primakuin tidak diberikan pada pasien dengan defisiensi G6PD, sementara Tabel dosis optimum justru mencantumkan regimen untuk kategori defisiensi/rendah (≤4,0 U/g Hb). Ringkasan ini mempertahankan keduanya sebagaimana tertulis dalam buku dan tidak melakukan rekonsiliasi di luar sumber.
12. P. ovale#
- DHP selama 3 hari, dosis sama seperti malaria lainnya.
- Primakuin 0,25 mg/kgBB/hari selama 14 hari.
13. P. malariae#
- DHP selama 3 hari.
- Dosis sama dengan malaria lainnya.
- Tanpa Primakuin.
14. MALARIA MIX#
Infeksi campur: - P. falciparum + P. vivax; atau - P. falciparum + P. ovale.
Terapi: - DHP selama 3 hari; - Primakuin: - dosis optimum bila pemeriksaan G6PD tersedia; - 0,25 mg/kgBB/hari selama 14 hari bila pemeriksaan G6PD tidak tersedia.
Tabel DHP + Primakuin menggunakan skema berat badan yang sama seperti tabel malaria falciparum/vivax: - DHP 40/320 mg hari 0--2: 1/2; 3/4; 1; 1 1/2; 2; 3; 4; 5 tablet sesuai kategori BB. - Primakuin 15 mg hari 0--13: ---; 1/4; 1/4; 1/2; 3/4; 1; 1; 1 tablet sesuai kategori BB. - Primakuin hanya untuk anak ≥6 bulan.
15. P. knowlesi#
- DHP selama 3 hari.
- Dosis sama dengan malaria lainnya.
- Tanpa Primakuin.
- Diagnosis harus dikonfirmasi secara molekuler.
16. OBAT MALARIA ALTERNATIF#
Bila DHP stock-out, alternatif ACT: 1. Artemeter + Lumefantrine (AL). 2. Artesunate + Pyronaridine (ASPY).
16.1 Artemeter + Lumefantrine (AL)#
Sediaan: - 20 mg Artemeter + 120 mg Lumefantrine; - 80 mg Artemeter + 480 mg Lumefantrine.
Pemberian: - 2× sehari; - interval minimal 8 jam; - selama 3 hari.
Primakuin mengikuti jenis Plasmodium.
Dosis AL#
| BB | AL 20/120 mg | AL 80/480 mg |
|---|---|---|
| 5–<15 kg | 2×1 tablet | — |
| 15–<25 kg | 2×2 tablet | — |
| 25–<35 kg | 2×3 tablet | — |
| >35 kg | 2×4 tablet | 2×1 tablet |
16.2 Artesunate + Pyronaridine (ASPY)#
Sediaan: - anak: sachet Artesunate 20 mg + Pyronaridine tetraphosphate 60 mg; - dewasa: tablet Artesunate 60 mg + Pyronaridine tetraphosphate 180 mg.
Pemberian: - hari 0--2.
Dosis ASPY#
| BB | Sediaan | Jumlah per pemberian |
|---|---|---|
| 5–<8 kg | sachet 20/60 mg | 1 |
| 8–<15 kg | sachet 20/60 mg | 2 |
| 15–<20 kg | sachet 20/60 mg | 3 |
| 20–<24 kg | tablet 60/180 mg | 1 |
| 24–<45 kg | tablet 60/180 mg | 2 |
| 45–<65 kg | tablet 60/180 mg | 3 |
| ≥65 kg | tablet 60/180 mg | 4 |
17. MALARIA KAMBUH/BERULANG (REKURENS)#
Rekurens berarti parasit yang sebelumnya sudah negatif kembali ditemukan; bukan sekadar gejala yang masih tersisa.
17.1 Rekrudesensi#
Definisi: - parasit aseksual (ring, trofozoit, dan/atau skizon) ditemukan dalam 28 hari setelah terapi dimulai; - dengan asumsi obat diberikan sesuai dosis dan tidak dimuntahkan.
Makna: - terjadi pada semua Plasmodium; - dianggap kegagalan pengobatan.
Terapi: - ACT alternatif.
17.2 Reinfeksi/Infeksi Baru#
Menurut WHO 2025 dalam buku: - parasit ditemukan kembali setelah 28 hari pengobatan; - terjadi akibat gigitan baru Anopheles pada individu yang sudah sembuh.
Dapat terjadi pada semua Plasmodium.
Terapi: - ACT yang sama.
17.3 Relaps#
- reaktivasi hipnozoit P. vivax atau P. ovale;
- tanpa infeksi baru;
- secara praktik ditandai dengan ditemukannya kembali P. vivax/P. ovale secara mikroskopis >28 hari setelah pengobatan.
- Tidak terjadi pada spesies lain karena tidak mempunyai stadium hipnozoit.
Terapi: - ulang DHP 3 hari; - Primakuin dosis optimum setelah pemeriksaan G6PD.
18. MALARIA PADA IBU HAMIL#
Ibu hamil merupakan kelompok risiko tinggi.
Skrining#
- Skrining sedini mungkin dengan:
- mikroskop; atau
- RDT.
- Dianjurkan menggunakan kelambu antinyamuk.
- Tablet besi tetap diteruskan.
Pengobatan malaria#
- DHP sama seperti dewasa lainnya, sesuai BB saat diagnosis.
- Tidak diberikan Primakuin.
Semua trimester#
Usia kehamilan Terapi
Trimester I--III / 0--9 bulan DHP tablet selama 3 hari, dosis sesuai BB
Semua obat antimalaria: - tidak boleh diminum dalam keadaan perut kosong; - pasien harus makan terlebih dahulu karena obat dapat mengiritasi lambung.
19. BAB V --- MALARIA BERAT#
Malaria berat didefinisikan sebagai ditemukannya stadium aseksual: - P. falciparum; atau - P. vivax; atau - P. knowlesi;
dengan minimal satu manifestasi berat berikut.
19.1 Kriteria malaria berat#
-
Perubahan kesadaran
- GCS <11; atau
- Blantyre <3 pada anak yang belum dapat bicara.
-
Kelemahan otot
- tidak dapat duduk/berjalan.
-
Kejang berulang
- 2 episode dalam 24 jam.
-
Asidosis metabolik
- bikarbonat plasma <15 mmol/L.
-
Edema paru
- gambaran radiologi; atau
- saturasi O₂ <92% dan frekuensi napas >30/menit.
-
Gagal sirkulasi/syok
- capillary refill ≥3 detik;
- tekanan sistolik <80 mmHg dewasa;
- <70 mmHg anak.
-
Jaundice
- bilirubin >3 mg/dL dan:
-
kepadatan parasit >100.000/µL pada falciparum; atau
-
20.000/µL pada knowlesi.
-
- Pada vivax, kriteria berat tidak tergantung kepadatan parasit.
- bilirubin >3 mg/dL dan:
-
Perdarahan spontan abnormal.
-
Hipoglikemia
- GDS <40 mg/dL.
-
Anemia berat
- anak <12 tahun:
- Hb <5 g/dL atau Ht <15% di daerah endemis tinggi; atau
- Hb <7 g/dL atau Ht <21% di daerah endemis sedang-rendah.
- dewasa:
- Hb <7 g/dL atau Ht <21%.
- Hiperparasitemia
- daerah endemis rendah:
- 2% eritrosit atau >100.000 parasit/µL;
- daerah endemis tinggi:
- 5% eritrosit atau >250.000 parasit/µL.
- Hiperlaktatemia
- laktat >5 mmol/L atau >45 mg/dL.
- Gangguan fungsi ginjal
- kreatinin serum >3 mg/dL; atau
- ureum darah >120 mg/dL.
20. BAB VI --- PENGOBATAN MALARIA BERAT#
20.1 Lokasi perawatan#
Semua malaria berat: - ditangani di RS atau puskesmas perawatan.
Bila fasilitas/tenaga tidak memadai: - misalnya memerlukan dialisis; - pasien dirujuk ke RS yang lebih lengkap.
Prognosis sangat bergantung pada: - kecepatan diagnosis; - ketepatan pengobatan.
Terapi utama: Artesunat injeksi → DHP ± Primakuin sesuai spesies setelah dapat minum.
21. MALARIA BERAT DI FASILITAS TANPA RAWAT INAP#
Bila puskesmas/klinik tidak memiliki fasilitas rawat inap: - langsung rujuk; - berikan terapi pra-rujukan terlebih dahulu.
Pra-rujukan#
- Artesunat IV/IM dosis awal:
- dewasa dan anak ≥20 kg: 2,4 mg/kgBB;
- anak <20 kg: 3 mg/kgBB.
- Bila Artesunat injeksi tidak tersedia:
- dapat diberikan 1 dosis DHP sesuai BB.
22. ARTESUNAT PARENTERAL#
Artesunat adalah pilihan utama malaria berat.
22.1 Rekonstitusi sediaan 60 mg#
Vial: - 60 mg serbuk kering asam artesunik; - pelarut natrium bikarbonat 5%.
Langkah: 1. campurkan serbuk dengan 1 mL larutan bikarbonat; 2. kemudian encerkan: - IV: dengan 5 mL NaCl 0,9% atau Dextrose 5%; - IM: dengan 2 mL NaCl 0,9% atau Dextrose 5%.
Hasil: - IV: total 6 mL → 10 mg/mL; - IM: total 3 mL → 20 mg/mL.
Pemberian IV: - bolus pelan.
23. DOSIS ARTESUNAT#
Dewasa#
2,4 mg/kgBB per dosis.
Anak#
- BB <20 kg: 3 mg/kgBB per dosis.
- BB ≥20 kg: 2,4 mg/kgBB per dosis, seperti dewasa.
Jadwal#
Minimal: - jam 0; - jam 12; - jam 24.
Kemudian: - setiap 24 jam sampai kondisi klinis membaik; - maksimal 7 hari.
Setelah dapat minum: - DHP 3 hari; - Primakuin sesuai spesies dan pemeriksaan G6PD.
Terapi oral diberikan 8--12 jam setelah dosis Artesunat injeksi terakhir.
24. TABEL DOSIS ARTESUNAT IV#
Konsentrasi setelah rekonstitusi: 10 mg/mL.
Anak <20 kg --- 3 mg/kgBB#
CodeBB Dosis total Volume
Code6--7 kg 20 mg 2 mL 8--10 kg 30 mg 3 mL 11--13 kg 40 mg 4 mL 14--16 kg 50 mg 5 mL 17--19 kg 60 mg 6 mL
BB ≥20 kg --- 2,4 mg/kgBB#
CodeBB Dosis Volume
Code20--25 kg 60 mg 6 mL 26--29 kg 70 mg 7 mL 30--33 kg 80 mg 8 mL 34--37 kg 90 mg 9 mL 38--41 kg 100 mg 10 mL 42--45 kg 110 mg 11 mL 46--50 kg 120 mg 12 mL 51--54 kg 130 mg 13 mL 55--58 kg 140 mg 14 mL 59--62 kg 150 mg 15 mL 63--66 kg 160 mg 16 mL 67--70 kg 170 mg 17 mL 71--75 kg 180 mg 18 mL 76--79 kg 190 mg 19 mL 80--83 kg 200 mg 20 mL 84--87 kg 210 mg 21 mL 88--91 kg 220 mg 22 mL 92--95 kg 230 mg 23 mL 96--100 kg 240 mg 24 mL
25. TABEL DOSIS ARTESUNAT IM#
Konsentrasi: 20 mg/mL.
Anak <20 kg --- 3 mg/kgBB#
CodeBB Dosis Volume
Code6--7 kg 20 mg 1 mL 8--10 kg 30 mg 2 mL 11--13 kg 40 mg 2 mL 14--16 kg 50 mg 3 mL 17--19 kg 60 mg 3 mL
BB ≥20 kg --- 2,4 mg/kgBB#
CodeBB Dosis Volume
Code20--25 kg 60 mg 3 mL 26--29 kg 70 mg 4 mL 30--33 kg 80 mg 4 mL 34--37 kg 90 mg 5 mL 38--41 kg 100 mg 5 mL 42--45 kg 110 mg 6 mL 46--50 kg 120 mg 6 mL 51--54 kg 130 mg 7 mL 55--58 kg 140 mg 7 mL 59--62 kg 150 mg 8 mL 63--66 kg 160 mg 8 mL 67--70 kg 170 mg 9 mL 71--75 kg 180 mg 9 mL 76--79 kg 190 mg 10 mL 80--83 kg 200 mg 10 mL 84--87 kg 210 mg 11 mL 88--91 kg 220 mg 11 mL 92--95 kg 230 mg 12 mL 96--100 kg 240 mg 12 mL
Contoh#
BB 60 kg: - kebutuhan = 2,4 × 60 = 144 mg. - gunakan 3 vial; - setelah rekonstitusi total 18 mL; - berikan 15 mL IV.
Sisa obat dari vial yang sudah dibuka: - tidak dapat digunakan untuk pemberian berikutnya.
26. MALARIA BERAT PADA IBU HAMIL#
- Artesunat injeksi diberikan seperti pada pasien dewasa.
27. PEMBERIAN CAIRAN PADA MALARIA BERAT#
Malaria berat mempunyai risiko edema paru akibat akumulasi cairan. Karena itu cairan harus diberikan hati-hati.
Prinsip#
- Cairan yang direkomendasikan:
- NaCl 0,9%.
- Ringer Laktat tidak dianjurkan.
- Individualisasi cairan:
- bila masih dapat minum → cairan oral;
- bila tidak dapat makan/minum → NaCl 0,9% IV 1--2 mL/kgBB/jam;
- monitor tanda vital dan produksi urin.
- Oliguria:
- lakukan dialisis/RRT.
- Edema paru:
- batasi cairan;
- monitor ketat;
- bila gagal napas → ventilator.
- Syok dengan MAP <65 mmHg:
- NaCl 0,9% hati-hati 5 mL/kgBB selama 15 menit;
- tambah vasopressor.
- bolus cairan kristaloid maupun koloid tidak dianjurkan.
- Prinsip dewasa:
- "sedikit kering";
- total cairan sekitar 2000--2500 mL/24 jam.
- Anak dengan defisit cairan:
- NaCl 0,9% 3--5 mL/kgBB/jam selama 3--4 jam pertama;
- kemudian rumatan:
- D5% atau D5 1/2 NS;
- 2--3 mL/kgBB/jam.
28. ANTIBIOTIK PADA MALARIA BERAT ANAK#
Pada anak dengan malaria berat: - antibiotik diberikan segera setelah Artesunat.
Antibiotik dihentikan bila: - kondisi umum membaik; dan - bukti infeksi bakteri sudah dapat disingkirkan.
Evaluasi: - 48--72 jam.
29. BAB VII --- PEMANTAUAN PENGOBATAN#
29.1 Rawat jalan#
Evaluasi: - klinis; - parasitologis; - sediaan darah mikroskopis.
Jadwal: - hari 3; - 7; - 14; - 28.
Jika: - tidak ada perbaikan; atau - terjadi perburukan klinis,
pasien harus segera kembali.
29.2 Rawat inap#
- evaluasi klinis dan darah malaria setiap hari;
- sampai klinis membaik dan mikroskopis negatif;
- tetap dianjurkan evaluasi sampai setidaknya 28 hari seperti pasien rawat jalan.
29.3 Pemantauan Primakuin#
Hari ke-3 setelah Primakuin: - tanyakan warna urin.
Bila urin: - merah; - hitam; atau - skala ≥5 pada Hillmen chart,
maka: 1. hentikan Primakuin; 2. segera rujuk ke fasilitas kesehatan; 3. pasien dievaluasi oleh dokter.
Pemantauan dapat dilakukan oleh: - petugas kesehatan di fasilitas; - kader malaria; - petugas non-tenaga kesehatan yang terlatih.
30. BAB VIII --- PENCEGAHAN MALARIA#
Pencegahan tidak hanya dengan obat profilaksis karena tidak ada satu pun obat yang memberikan perlindungan mutlak.
Empat prinsip:
A --- Awareness#
Kewaspadaan terhadap risiko malaria.
B --- Bite prevention#
Mencegah gigitan nyamuk.
C --- Chemoprophylaxis#
Pemberian obat pencegahan malaria.
D --- Diagnosis and treatment#
Diagnosis dan pengobatan.
Pencegahan gigitan: - kelambu antinyamuk; - repelen; - kawat kasa nyamuk; - cara lain untuk mencegah gigitan.
31. KEMOPROFILAKSIS#
Kemoprofilaksis: - obat antimalaria sebelum bepergian ke daerah endemis.
Pedoman yang dirujuk: - WHO Guideline Edisi 13, Agustus 2025.
Diprioritaskan untuk: - individu berisiko tinggi karena pekerjaan; - perjalanan ke daerah endemis tinggi.
Pemilihan obat harus mempertimbangkan: - keamanan obat; - kebijakan negara tujuan.
31.1 Doksisiklin#
Dosis: - 100 mg/hari.
Waktu: - mulai 1--2 hari sebelum bepergian; - selama berada di daerah endemis; - sampai 4 minggu setelah kembali.
Tidak boleh: - ibu hamil; - anak <8 tahun.
Durasi maksimum penggunaan profilaksis: - 12 minggu.
31.2 Meflokuin#
Dosis: - 250 mg sekali seminggu.
Waktu: - mulai 1 minggu sebelum bepergian; - selama tinggal; - sampai 4 minggu setelah kembali.
Sebaiknya: - diminum pada hari dan jam yang sama setiap minggu.
Penggunaan yang disebutkan secara khusus dalam buku: - personel TNI dan POLRI yang mendapat penugasan ke daerah endemis tinggi.
Sebelum pemberian: - disarankan skrining skala depresi dan ansietas di klinik psikiatri/psikologi.
Selama penggunaan: - diperlukan pemantauan ketat efek samping.
Tabel kemoprofilaksis#
| Obat | Dosis dewasa | Frekuensi | Mulai sebelum paparan | Selesai setelah paparan |
|---|---|---|---|---|
| Meflokuin* | 250 mg | 1×/minggu | 1 minggu | 4 minggu |
| Doksisiklin** | 100 mg | setiap hari | 1–2 hari | 4 minggu |
* Khusus TNI/POLRI yang ditugaskan ke daerah endemis malaria.
** Maksimal pemberian 12 minggu.
Obat Dosis dewasa Frekuensi Mulai Selesai sebelum setelah paparan paparan
Meflokuin* 250 mg 1×/minggu 1 minggu 4 minggu
Doksisiklin** 100 mg setiap hari 1--2 hari 4 minggu#
* khusus TNI/POLRI yang ditugaskan ke daerah endemis malaria.
** maksimal 12 minggu.
32. CHEMOPREVENTION#
Berbeda dari kemoprofilaksis.
Kemoprofilaksis#
- dosis subterapi;
- menggunakan satu jenis obat;
- diberikan sebelum/dalam periode paparan sesuai regimen.
Chemoprevention#
- menggunakan dosis lengkap/dosis terapi;
- diberikan pada puncak transmisi atau periode risiko terbesar/waktu yang ditentukan;
- sasaran populasi rentan:
- bayi;
- balita;
- wanita hamil.
Contoh: - MDA (Mass Drug Administration): - DHP + Primakuin. - IPTp (Intermittent Preventive Treatment for pregnant women): - DHP tanpa Primakuin.
33. PENCEGAHAN MALARIA PADA IBU HAMIL#
33.1 Kabupaten/kota endemis tinggi#
Semua ibu hamil: - skrining malaria; - diberikan kelambu antinyamuk; - dilakukan saat kunjungan pertama pelayanan masa kehamilan.
Jika positif: - segera diobati sesuai pedoman.
33.2 Kabupaten/kota endemis rendah#
Skrining selektif pada ibu hamil yang memiliki gejala dan salah satu: 1. tinggal di desa endemis tinggi/"desa merah"; 2. riwayat berkunjung/tinggal di daerah endemis malaria dalam 1 bulan terakhir; 3. pernah sakit malaria dalam 2 tahun terakhir.
34. IPTp PADA IBU HAMIL#
Untuk ibu hamil sehat: - trimester 2 dan 3; - usia kehamilan ≥13 minggu; - di daerah endemis malaria dengan API >50; - menggunakan DHP; - disebutkan dalam buku dilakukan sampai tersedia obat ACT alternatif.
Dosis: - 3 tablet DHP per hari selama 3 hari, untuk semua berat badan ibu hamil. - Diulang setiap 4 minggu sampai persalinan.
Implementasi program: - di dalam gedung → ruang KIA; - di luar gedung → Posyandu.
Edukasi: - pentingnya minum DHP preventif; - keluhan yang biasanya muncul setelah minum DHP.
35. BAB IX --- PENUTUP#
Buku saku digunakan sebagai pedoman praktis tata laksana malaria.
Pedoman: - diperbarui secara rutin; - disesuaikan dengan pedoman manajemen kasus malaria WHO 2025.
36. LAMPIRAN --- ALGORITMA KLINIS#
Lampiran memuat 12 algoritma praktis.
Algoritma 1 --- Alur Penemuan Pasien Malaria#
Pasien datang dengan: - gejala klinis demam dan/atau riwayat demam dalam 7 hari; - dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, nyeri otot, pegal-pegal; - riwayat sakit malaria; - riwayat berkunjung/bermalam di daerah fokus/endemis; - riwayat transfusi darah.
→ Periksa darah malaria dengan mikroskop atau RDT.
Jika positif: → malaria.
Jika negatif: → ulang pemeriksaan setiap 24 jam hingga 48 jam.
Jika tetap negatif: → cari etiologi demam lain dan berikan terapi sesuai etiologi.
37. Algoritma 2 --- Tata Laksana Pasien Malaria#
Pasien positif malaria dibagi menjadi: - tanpa komplikasi; - malaria berat.
Tanpa komplikasi#
Jika dapat minum obat: - berikan obat oral sesuai jenis Plasmodium; - DHP/ACT sesuai regimen; - pastikan obat diminum sampai habis.
Jika obat oral tidak dapat diterima/dimuntahkan berulang: - pertimbangkan pemberian Artesunat injeksi.
Jika klinis membaik: - pemeriksaan mikroskopis darah pada hari ke-3, 7, 14, dan 28.
Jika tidak ada perbaikan atau klinis memburuk: - rujuk ke RS.
Malaria berat#
→ masuk Algoritma 3.
38. Algoritma 3 --- Malaria Berat di Pelayanan Primer/Sekunder#
Tanpa fasilitas rawat inap#
→ berikan pengobatan pra-rujukan
→ rujuk.
Dengan fasilitas rawat inap terbatas/perawatan#
→ berikan Artesunat IV atau IM, minimal 3 dosis
→ dilanjutkan DHP oral dosis lengkap.
Kemudian evaluasi adanya gangguan: - fungsi ginjal; - pernapasan; - perdarahan; - blackwater fever; - atau fasilitas pelayanan tidak memadai.
Jika tidak ada: - lanjutkan pengobatan sampai selesai; - evaluasi harian sampai sediaan darah negatif; - evaluasi ulang hari ke-7, 14, dan 28.
Jika ada gangguan organ atau fasilitas tidak memadai: - lakukan stabilisasi; - rujuk.
Sebelum rujuk, algoritma menekankan: - oksigen; - pertahankan jalan napas; - pasang infus; - berikan Dextrose bila hipoglikemia; - berikan antikonvulsan bila kejang; - pasang kateter urin.
39. Algoritma 4 --- Malaria Berat di RS Rujukan#
Pasien malaria berat dengan: - gagal ginjal; - distress/gagal napas; - penurunan kesadaran; - perdarahan; - atau gangguan organ berat
→ ruang perawatan intensif.
Tindakan awal: - berikan oksigen; - monitor tanda vital; - monitor masukan dan luaran cairan; - lanjutkan Artesunat injeksi sampai selesai; - lakukan pemeriksaan laboratorium sesuai kondisi.
Pemeriksaan yang dicantumkan algoritma: - darah lengkap: - Hb; - Ht; - trombosit; - hitung jenis leukosit; - gula darah; - fungsi hati: - AST; - ALT; - bilirubin total dan indirek; - fungsi ginjal: - ureum; - kreatinin; - elektrolit: - Na; - K; - Cl; - analisis gas darah; - Anti-HIV, HBsAg, Anti-HCV (terutama terkait kemungkinan hemodialisis); - urin rutin; - foto toraks; - EKG.
Kemudian kondisi pasien diarahkan ke algoritma khusus: 1. malaria serebral; 2. gagal napas; 3. acute kidney injury; 4. perdarahan/trombositopenia; 5. anemia berat; 6. hipoglikemia; 7. ikterus; 8. hipotensi/syok.
40. Algoritma 5 --- Malaria Serebral#
Pertama, singkirkan penyebab lain penurunan kesadaran: 1. hipoglikemia; 2. meningitis/ensefalitis --- pungsi lumbal bila tidak ada kontraindikasi; 3. asidosis metabolik.
Tata laksana suportif: - berikan oksigen; - pertahankan jalan napas; - monitor tanda vital; - pasang infus NaCl 0,9%; - lanjutkan Artesunat injeksi sampai selesai; - pasang NGT dan kateter urin; - berikan antikonvulsan bila kejang; - monitor masukan dan luaran cairan; - monitor gula darah berkala; - ubah posisi pasien setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus.
41. Algoritma 6 --- Malaria Berat dengan Gagal Napas#
Dibagi menjadi: - ARDS; - edema paru.
ARDS#
- pasang ventilator atau oksigen sungkup;
- posisi kepala ditinggikan sekitar 45°;
- pasang kateter vena perifer/sentral;
- teruskan Artesunat intravena;
- bila ada indikasi transfusi → PRC;
- pasang NGT dan kateter urin;
- monitor masukan/luaran cairan;
- periksa analisis gas darah;
- evaluasi foto toraks.
Edema paru#
- oksigen sungkup;
- posisi kepala ditinggikan sekitar 45°;
- teruskan Artesunat IV;
- berikan diuretik;
- bila tidak respons dengan dosis maksimal → lakukan hemodialisis;
- bila ada indikasi transfusi → PRC;
- NGT dan kateter urin;
- monitor cairan;
- analisis gas darah;
- evaluasi foto toraks.
42. Algoritma 7 --- Malaria Berat dengan Acute Kidney Injury#
Tindakan: 1. nilai status hidrasi; 2. bila dehidrasi → rehidrasi dengan cairan kristaloid; 3. catat masukan dan luaran cairan setiap 6 jam; 4. evaluasi produksi urin; 5. berikan diuretik: - setelah rehidrasi bila produksi urin <0,5 mL/kgBB/jam; atau - sejak awal bila sudah terdapat tanda overload cairan; 6. teruskan Artesunat IV; 7. periksa ureum dan kreatinin.
Bila membaik#
- produksi urin ≥0,5 mL/kgBB/jam;
- ureum/kreatinin menurun.
→ lanjutkan pemberian cairan sampai fungsi ginjal membaik.
Bila tidak membaik#
→ hemodialisis.
43. Algoritma 8 --- Malaria Berat dengan Ikterus#
Pertama, singkirkan kemungkinan penyebab lain: - hepatitis viral akut; - leptospirosis; - sepsis; - kolangitis; - kolesistitis; - kolelitiasis; - abses hepar.
Lakukan: - pemeriksaan serologi; - USG.
Jika tidak ditemukan penyebab lain: - lanjutkan Artesunat IV; - monitor: - sedimen/urinalisis dan PT; - fungsi hati: - AST; - ALT; - bilirubin total dan indirek; - Gamma-GT; - albumin; - gula darah sewaktu.
Jika ikterus karena: - hemolisis → transfusi; - gangguan fungsi hati → terapi suportif.
Jika terdapat penyebab lain: - tata laksana sesuai penyebab.
44. Algoritma 9 --- Malaria Berat dengan Anemia#
Transfusi PRC bila:
Anak <12 tahun#
- Hb <5 g/dL atau Ht <15% di daerah endemis tinggi; atau
- Hb <7 g/dL atau Ht <21% di daerah endemis sedang-rendah.
Dewasa#
- Hb <7 g/dL atau Ht <21% dengan tanda kompensasi.
Selain transfusi: - hati-hati terhadap overload cairan; - berikan diuretik (terutama pada edema paru); - monitor masukan dan luaran cairan; - periksa darah lengkap: - Hb; - Ht; - trombosit; - hitung jenis leukosit; - lanjutkan Artesunat injeksi sampai selesai.
45. Algoritma 10 --- Malaria Berat dengan Hipoglikemia#
Hipoglikemia: - gula darah <40 mg/dL.
Tindakan: 1. teruskan Artesunat intravena; 2. dewasa: - bolus Dextrose 40% 50 mL IV; - pengenceran 1:1; - lanjutkan dosis rumatan; 3. anak: - bolus Dextrose 10% 2 mL/kgBB; 4. rumatan: - Dextrose 5--10% untuk mencegah hipoglikemia berulang; 5. monitor gula darah secara berkala.
46. Algoritma 11 --- Perdarahan dan Trombositopenia#
Tindakan awal: - lanjutkan Artesunat injeksi sampai selesai; - evaluasi tanda perdarahan: - subkonjungtiva; - epistaksis; - hematemesis; - perdarahan saluran cerna; - melena; - dan tanda perdarahan lainnya; - periksa darah lengkap: - Hb; - Ht; - trombosit; - hitung jenis leukosit; - periksa faktor koagulasi: - PT; - aPTT; - fibrinogen; - D-dimer.
Trombositopenia#
Transfusi trombosit bila: - trombosit <20.000/µL; atau - trombosit <50.000/µL dengan tanda perdarahan.
Jika terdapat anemia berat: - masuk Algoritma 9.
47. Algoritma 12 --- Malaria Berat dengan Hipotensi#
Algoritma menggunakan: - malaria berat dengan hipotensi; - penilaian respons terhadap cairan; - MAP; - kondisi klinis seperti anemia, edema paru, gangguan ginjal, dan penyebab lain.
Prinsip yang terlihat pada algoritma: - nilai apakah terdapat perbaikan setelah pemberian cairan; - bila MAP tetap rendah, tata laksana syok secara hati-hati; - bila terdapat anemia berat → transfusi PRC sesuai algoritma anemia; - bila terdapat edema paru/overload → hindari pemberian cairan berlebihan dan tata laksana sesuai kondisi; - gangguan ginjal diarahkan ke algoritma AKI; - bila penyebab hipotensi lain ditemukan, tata laksana penyebab tersebut.
Bagian utama buku juga menetapkan: - MAP <65 mmHg sebagai kondisi syok; - NaCl 0,9% dapat diberikan hati-hati 5 mL/kgBB selama 15 menit; - disertai vasopressor; - bolus kristaloid maupun koloid tidak dianjurkan.
48. RINGKASAN PRAKTIS "ONE-PAGE"#
A. CURIGA MALARIA#
Demam + risiko epidemiologis → pikirkan malaria.
Risiko: - tinggal/berkunjung ke daerah endemis; - riwayat malaria; - transfusi; - kontak epidemiologis relevan.
B. KONFIRMASI#
→ mikroskop/RDT
→ target diagnosis <24 jam.
P. knowlesi → konfirmasi molekuler.
C. KLASIFIKASI#
Tanpa komplikasi#
→ DHP 3 hari + Primakuin sesuai spesies/G6PD.
Malaria berat#
→ Artesunat IV/IM segera
→ minimal jam 0, 12, 24
→ lanjut tiap 24 jam sampai membaik, maksimal 7 hari
→ setelah mampu oral: DHP 3 hari + Primakuin sesuai spesies/G6PD.
D. WASPADA KRITERIA BERAT#
- gangguan kesadaran;
- kelemahan;
- kejang berulang;
- asidosis;
- edema paru;
- syok;
- ikterus;
- perdarahan;
- hipoglikemia;
- anemia berat;
- hiperparasitemia;
- hiperlaktatemia;
- gangguan ginjal.
E. MONITOR#
Rawat jalan#
Hari 3, 7, 14, 28: - klinis; - mikroskopis.
Rawat inap#
- klinis + darah setiap hari sampai membaik dan mikroskopis negatif;
- lanjut evaluasi sampai minimal 28 hari.
Primakuin#
Hari ke-3: - tanya warna urin; - urin merah/hitam atau Hillmen ≥5 → hentikan dan rujuk.
49. ANGKA-ANGKA KUNCI UNTUK DIINGAT#
A. Diagnosis, terapi, dan follow-up#
| Parameter | Nilai kunci |
|---|---|
| Diagnosis harus tersedia | <24 jam |
| DHP | 3 hari |
| Primakuin falciparum | 0,25 mg/kgBB dosis tunggal hari 1 |
| Vivax — G6PD normal | 1 mg/kgBB/hari × 7 hari |
| Vivax — G6PD intermediet | 0,5 mg/kgBB/hari × 14 hari |
| Vivax — G6PD rendah | 0,75 mg/kgBB/minggu × 8 minggu |
| Vivax tanpa G6PD valid | 0,25 mg/kgBB/hari × 14 hari |
| Ovale | 0,25 mg/kgBB/hari × 14 hari |
| Artesunat dewasa/anak ≥20 kg | 2,4 mg/kgBB/dosis |
| Artesunat anak <20 kg | 3 mg/kgBB/dosis |
| Artesunat awal | jam 0, 12, 24 |
| Maksimal Artesunat injeksi | 7 hari |
| Transisi oral | 8–12 jam setelah dosis injeksi terakhir |
| Evaluasi rawat jalan | hari 3, 7, 14, 28 |
| RDT untuk evaluasi terapi | Tidak digunakan |
| Antigen RDT dapat bertahan | sampai 28 hari |
| Pemantauan Primakuin | hari ke-3 |
| Hillmen chart berbahaya | ≥5 |
B. Kriteria malaria berat dan tata laksana suportif#
| Parameter | Batas/nilai kunci |
|---|---|
| Edema paru / hipoksemia berat | SpO₂ <92% + RR >30/menit |
| Syok | MAP <65 mmHg |
| Hipoglikemia | GDS <40 mg/dL |
| Hiperlaktatemia | >5 mmol/L atau >45 mg/dL |
| Gangguan ginjal berat | kreatinin >3 mg/dL atau ureum >120 mg/dL |
| Hiperparasitemia — endemis rendah | >2% atau >100.000/µL |
| Hiperparasitemia — endemis tinggi | >5% atau >250.000/µL |
| Jaundice berat falciparum | bilirubin >3 mg/dL + parasit >100.000/µL |
| Jaundice berat knowlesi | bilirubin >3 mg/dL + parasit >20.000/µL |
| Anemia berat dewasa | Hb <7 g/dL atau Ht <21% |
| Anak <12 th — endemis tinggi | Hb <5 atau Ht <15% |
| Anak <12 th — endemis sedang-rendah | Hb <7 atau Ht <21% |
| NaCl pada malaria berat | 0,9% |
| Cairan dewasa | 2.000–2.500 mL/24 jam; prinsip “sedikit kering” |
| Cairan IV dewasa bila tidak bisa oral | 1–2 mL/kgBB/jam |
| Syok | NaCl 0,9% 5 mL/kgBB/15 menit + vasopressor |
| Anak defisit cairan | 3–5 mL/kgBB/jam × 3–4 jam |
| Rumatan anak | D5%/D5 ½NS 2–3 mL/kgBB/jam |
| Antibiotik anak malaria berat | Segera setelah Artesunat; evaluasi 48–72 jam |
C. Pencegahan#
| Parameter | Nilai kunci |
|---|---|
| Doksisiklin profilaksis | 100 mg/hari |
| Mulai doksisiklin | 1–2 hari sebelum |
| Setelah kembali | 4 minggu |
| Maksimum doksisiklin profilaksis | 12 minggu |
| Meflokuin | 250 mg/minggu |
| Mulai meflokuin | 1 minggu sebelum |
| Setelah kembali | 4 minggu |
| IPTp DHP | 3 tablet/hari × 3 hari |
| Interval IPTp | setiap 4 minggu sampai persalinan |
| Mulai IPTp | ≥13 minggu |
| Sasaran wilayah IPTp | API >50 |
50. STRUKTUR PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIS#
Secara praktis, isi buku dapat dibaca sebagai alur:
1. CURIGA → Apakah pasien mempunyai demam/gejala dan risiko epidemiologis malaria?
2. KONFIRMASI → Mikroskop/RDT; jangan hanya mengandalkan gejala.
3. IDENTIFIKASI SPESIES → penting untuk menentukan Primakuin dan regimen.
4. NILAI KEGAWATAN → cari 13 kriteria malaria berat.
5. TENTUKAN DISPOSISI - tanpa komplikasi → rawat jalan bila dapat minum dan kondisi memungkinkan; - malaria berat → RS/puskesmas perawatan; - fasilitas tidak memadai → stabilisasi + Artesunat pra-rujukan + rujuk.
6. TERAPI - tanpa komplikasi → DHP + Primakuin sesuai spesies/G6PD; - berat → Artesunat parenteral → DHP ± Primakuin setelah mampu oral.
7. SUPPORTIVE CARE - airway/oksigen; - cairan hati-hati; - kontrol hipoglikemia; - koreksi anemia; - tata laksana perdarahan/trombositopenia; - AKI; - edema paru/gagal napas; - ikterus; - hipotensi/syok.
8. EVALUASI - rawat jalan: hari 3, 7, 14, 28; - rawat inap: setiap hari sampai klinis membaik dan mikroskopis negatif, kemudian evaluasi sampai minimal 28 hari.
9. CEGAH RELAPS/RESISTANSI - pastikan kepatuhan; - pastikan obat diminum sampai habis; - pemantauan Primakuin; - diagnosis dan terapi cepat.
52. CATATAN AKHIR#
Buku ini menempatkan tata laksana malaria pada tiga pilar klinis utama:
- Diagnosis dini dan konfirmasi parasitologis
- Terapi cepat dan sesuai spesies/derajat berat
- Pemantauan sampai memastikan keberhasilan terapi
Pada malaria berat, pesan terpenting adalah: - jangan menunda Artesunat; - berikan dosis pra-rujukan sebelum transport bila perlu; - evaluasi organ target secara sistematis; - sangat hati-hati dengan cairan karena risiko edema paru; - setelah membaik dan mampu oral, selesaikan regimen DHP ± Primakuin sesuai spesies dan G6PD; - lakukan follow-up parasitologis sampai hari ke-28.
Sumber utama: Buku Saku Tata Laksana Kasus Malaria 2026, Direktorat Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan RI.