1. Gambaran umum dan prinsip utama#
1.1 Ruang lingkup#
WHO Guidelines for malaria 2026 mengonsolidasikan seluruh rekomendasi WHO mengenai:
- Pencegahan
- pengendalian vektor;
- kemoprofilaksis/chemoprevention;
- vaksin malaria.
- Diagnosis malaria.
- Terapi
- malaria tanpa komplikasi;
- malaria berat;
- kelompok khusus seperti kehamilan, bayi/anak kecil, HIV, dan wisatawan non-imun.
- Eliminasi
- intervensi pada fase akhir eliminasi;
- pencegahan munculnya kembali (re-establishment) transmisi.
- Surveillance dan penggunaan data untuk stratifikasi serta pengambilan keputusan program.
WHO menekankan bahwa rekomendasi global tidak dimaksudkan sebagai resep yang sama untuk semua daerah. Negara perlu menggunakan data lokal untuk menentukan kombinasi intervensi yang paling tepat pada setiap strata geografis/populasi. (PDF hlm. 29–35)
1.2 Filosofi utama pedoman 2026#
Pedoman mengarah pada pendekatan problem-solving berbasis data lokal, bukan pendekatan one-size-fits-all.
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan paket intervensi:
- intensitas dan pola transmisi;
- distribusi umur penyakit berat;
- spesies Plasmodium;
- spesies dan perilaku vektor;
- resistensi insektisida;
- resistensi obat antimalaria;
- akses dan fungsi sistem kesehatan;
- perilaku pencarian pelayanan kesehatan;
- risiko importasi;
- receptivity lingkungan terhadap transmisi;
- ketersediaan sumber daya;
- cost-effectiveness;
- equity dan feasibility.
Dengan semakin rendahnya transmisi, stratifikasi perlu semakin granular—idealnya sampai tingkat lokalitas atau health-facility catchment area. (PDF hlm. 34–35)
1.3 Prinsip inti terapi malaria#
Pedoman mempertahankan beberapa prinsip fundamental:
-
Diagnosis dini dan terapi efektif segera.
Malaria P. falciparum tanpa komplikasi dapat berkembang cepat menjadi malaria berat; malaria berat hampir selalu fatal bila tidak diterapi. -
Gunakan diagnosis parasitologis.
Gejala klinis saja tidak cukup spesifik untuk membedakan malaria dari penyebab demam lainnya. -
Rasionalisasi penggunaan antimalaria.
Obat antimalaria diberikan kepada pasien yang benar-benar memiliki malaria, untuk mengurangi overtreatment dan tekanan seleksi resistensi. -
Combination therapy.
Episode malaria perlu diterapi dengan kombinasi minimal dua obat antimalaria efektif dengan mekanisme berbeda. -
Dosis berbasis berat badan.
Dosis harus menghasilkan paparan obat yang cukup pada semua kelompok pasien; underdosing terutama pada anak dapat meningkatkan kegagalan terapi dan resistensi. -
Kepatuhan terhadap regimen lengkap sangat penting.
-
Fixed-dose combination (FDC) lebih disukai dibanding obat tunggal terpisah bila tersedia. (PDF hlm. 165–166 dan 175)
2. Perubahan/pembaruan penting pada edisi 2026#
WHO secara eksplisit menyebut empat area yang diperbarui dalam versi ini:
| Pembaruan 2026 | Inti perubahan |
|---|---|
| IPTp pada ibu hamil dengan HIV | Dihydroartemisinin-piperaquine (DHA-PPQ) sebagai IPTp tambahan pada ibu hamil HIV tidak direkomendasikan pada area transmisi malaria sedang–tinggi. |
| Single-dose primaquine untuk transmission blocking | Rekomendasi 2026 menegaskan penggunaan primaquine 0,25 mg/kg dosis tunggal bersama ACT pada area transmisi rendah; tidak direkomendasikan pada transmisi sedang–tinggi termasuk area dengan resistensi antimalaria. |
| Bayi <5 kg | Formulasi baru artemether-lumefantrine rasio 1:12 dapat digunakan pada bayi/neonatus <5 kg di tempat AL merupakan ACT pilihan. |
| Vaksin: 3 vs 4 dosis | Bukti baru mendukung bahwa 4 dosis memberikan perlindungan lebih tinggi dibanding 3 dosis; jadwal 4 dosis tetap dipertahankan. |
WHO menyatakan edisi 2026 ini menggantikan versi sebelumnya. Pembaruan berikutnya dapat muncul melalui living guideline. (PDF hlm. 30)
3. Stratifikasi intensitas transmisi#
Pedoman menggunakan intensitas transmisi sebagai dasar pemilihan intervensi. Ambang yang diberikan WHO bersifat indikatif, bukan cut-off absolut.
Secara umum:
| Intensitas | Gambaran |
|---|---|
| Sedang–tinggi | P. falciparum parasite prevalence >10% atau annual parasite incidence (API) >250/1000 penduduk/tahun |
| Rendah | API sekitar 100–250/1000 dan prevalensi P. falciparum/P. vivax sekitar 1–10% |
| Sangat rendah | API <100/1000 dan prevalensi >0 tetapi <1% |
Untuk beberapa rekomendasi, terutama MDA/PMC/vaksin, WHO menggunakan ambang >10% atau API >250 sebagai indikator transmisi sedang–tinggi.
Penting: angka tersebut bukan aturan absolut. Keputusan tetap harus mempertimbangkan epidemiologi lokal, musim, distribusi kasus, usia yang terkena penyakit berat, vektor, resistensi, risiko importasi, dan kemampuan program.
4. Pencegahan malaria#
4.1 Vector control#
4.1.1 ITN/LLIN#
Pyrethroid-only LLIN#
Rekomendasi kuat; certainty tinggi.
ITN/LLIN berbasis piretroid tetap direkomendasikan untuk anak dan dewasa yang tinggal di daerah dengan transmisi malaria.
Catatan:
- gunakan produk yang telah WHO-prequalified;
- paling efektif bila vektor utama menggigit terutama malam hari setelah orang berada di bawah kelambu;
- dapat digunakan indoor maupun outdoor selama dapat dipasang dengan tepat;
- hindari paparan langsung kelambu terhadap sinar matahari karena dapat memengaruhi aktivitas insektisida.
Pyrethroid-PBO ITN#
Rekomendasi kondisional; certainty sedang.
Dapat digunakan menggantikan LLIN piretroid saja di daerah transmisi berkelanjutan bila vektor menunjukkan resistensi terhadap piretroid.
Pertimbangan:
- harga unit lebih tinggi;
- PBO kurang tahan terhadap pencucian dibanding piretroid;
- tambahan manfaat dapat menurun selama umur kelambu sekitar 3 tahun;
- manfaat paling relevan bila mekanisme resistensi vektor melibatkan enzim oksidase/mono-oxygenase;
- jangan sampai penggunaan kelambu yang lebih mahal menurunkan cakupan populasi.
Pyrethroid-chlorfenapyr ITN#
Rekomendasi kuat vs pyrethroid-only; certainty sedang.
Direkomendasikan di daerah dengan resistensi piretroid.
Dibanding pyrethroid-PBO:
Rekomendasi kondisional untuk pyrethroid-chlorfenapyr, berdasarkan penilaian bahwa keseimbangan manfaat/risiko kemungkinan lebih baik, tetapi bukti terutama berasal dari satu uji di Afrika.
Pertimbangan program:
- biaya tambahan;
- karakteristik vektor lokal;
- mekanisme resistensi;
- stratifikasi risiko untuk deployment yang ditargetkan.
Pyrethroid-pyriproxyfen ITN#
Dapat dipertimbangkan dibanding pyrethroid-only pada daerah resistensi piretroid, tetapi rekomendasi bersifat kondisional.
Masalah utama:
- cost-effectiveness relatif buruk;
- biaya lebih tinggi;
- tambahan dampak dibanding kelambu piretroid dilaporkan relatif singkat, sekitar 12 bulan.
Dibanding pyrethroid-PBO: pyrethroid-pyriproxyfen tidak direkomendasikan untuk menggantikan pyrethroid-PBO pada daerah resistensi piretroid karena PBO dinilai lebih cost-effective berdasarkan bukti yang tersedia.
ITN pada humanitarian emergency#
Rekomendasi kuat; certainty tinggi.
ITN tetap harus digunakan di daerah dengan transmisi malaria yang terdampak keadaan darurat kemanusiaan.
Kelayakan dipengaruhi oleh:
- infrastruktur;
- akses;
- logistik;
- kemampuan procurement;
- sumber daya.
Menjaga cakupan#
WHO menganjurkan:
- distribusi massal kelambu secara gratis;
- dikombinasikan dengan mekanisme distribusi berkelanjutan, misalnya melalui ANC dan EPI;
- pengguna dianjurkan terus memakai kelambu meskipun kelambu sudah tua/rusak sampai tersedia kelambu pengganti.
Kelambu lama hanya dikumpulkan jika:
- masyarakat tidak akan ditinggalkan tanpa kelambu;
- tersedia rencana disposal yang aman dan berkelanjutan.
Kelambu tidak boleh dibakar terbuka atau dibuang ke badan air karena insektisida residual dapat toksik bagi organisme air.
4.1.2 Indoor residual spraying (IRS)#
Rekomendasi kuat; certainty sangat rendah untuk penggunaan IRS dalam pencegahan/kontrol malaria pada area transmisi berkelanjutan.
Pemilihan produk harus:
- menggunakan produk dari daftar WHO-prequalified;
- mempertimbangkan susceptibilitas vektor lokal terhadap insektisida.
IRS paling sesuai bila:
- mayoritas vektor makan dan beristirahat di dalam rumah;
- sebagian besar penduduk tidur di dalam rumah;
- pola transmisi memungkinkan perlindungan dengan 1–2 putaran IRS/tahun;
- mayoritas struktur rumah cocok untuk penyemprotan.
IRS dalam humanitarian emergency#
Rekomendasi kondisional; certainty sangat rendah.
Hambatan utama:
- struktur tempat tinggal sementara mungkin tidak cocok untuk spraying;
- target coverage mungkin sulit dicapai;
- biaya transport/logistik tinggi;
- perlu tenaga dan sistem yang dapat dibangun cepat;
- susceptibilitas vektor harus dipastikan.
4.1.3 ITN + IRS secara bersamaan#
Tidak direkomendasikan sebagai strategi rutin untuk meningkatkan kontrol malaria.
Prioritas:
lebih baik mencapai cakupan optimal dan kualitas tinggi dengan ITN ATAU IRS daripada memberikan keduanya untuk menutupi kekurangan implementasi salah satu intervensi.
Alasan:
- tambahan manfaat kombinasi dapat terbatas bila ITN sudah optimal dan efektif;
- sumber daya program malaria terbatas.
Pengecualian: kombinasi dapat dipertimbangkan untuk pencegahan/mitigasi/manajemen resistensi bila sumber daya mencukupi.
4.1.4 Jangan melakukan scale-back secara prematur#
Di area dengan transmisi lokal yang masih berlangsung:
vector control tidak boleh dikurangi hanya karena transmisi sudah turun.
Akses optimal terhadap ITN atau IRS perlu dipertahankan.
Keputusan mengurangi intervensi baru dipertimbangkan setelah transmisi benar-benar terputus dan dilakukan penilaian risiko receptivity serta potensi malariogenic.
Setelah eliminasi, vector control tetap dapat diperlukan pada area yang receptive dan memiliki risiko importasi.
4.1.5 Intervensi tambahan#
Larviciding#
Rekomendasi kondisional; certainty rendah.
Dapat digunakan sebagai tambahan ITN/IRS bila habitat larva:
- sedikit;
- menetap;
- mudah ditemukan (fixed and findable).
Bukan pengganti ITN/IRS.
Paling cocok:
- area urban dengan breeding sites relatif sedikit dan dapat ditemukan;
- area arid dengan habitat larva yang relatif tetap.
Kurang cocok bila habitat:
- banyak;
- tersebar;
- berubah-ubah.
Larval habitat modification/manipulation#
Tidak ada rekomendasi, karena bukti efektivitas intervensi spesifik belum cukup.
Larvivorous fish#
Tidak ada rekomendasi, karena tidak ditemukan bukti efektivitas yang memadai.
Topical repellents#
Tidak direkomendasikan untuk community-level malaria control.
Dapat memberikan perlindungan individual atau pada kelompok tertentu yang tidak terlindungi intervensi lain, tetapi bukti untuk dampak malaria tingkat populasi belum cukup.
Insecticide-treated clothing#
Tidak direkomendasikan untuk community-level control.
Namun mungkin bermanfaat sebagai perlindungan personal pada kelompok tertentu, misalnya pengungsi atau personel militer ketika ITN tidak tersedia.
Spatial emanators#
Rekomendasi kondisional; certainty sedang.
Dapat digunakan sebagai intervensi tambahan bersama ITN/IRS.
Keberhasilan sangat bergantung pada:
- coverage tinggi dan berkelanjutan;
- durasi efektivitas produk;
- model distribusi;
- biaya;
- susceptibilitas vektor.
Rekomendasi 2026 hanya mencakup penggunaan indoor, berdasarkan bukti yang tersedia.
Space spraying#
Tidak direkomendasikan untuk kontrol malaria rutin; ITN/IRS diprioritaskan.
Alasannya antara lain efek insektisida relatif singkat dan penggunaan sumber daya menjadi tidak efisien.
House screening#
Rekomendasi kondisional; certainty rendah.
Screening dapat digunakan untuk jendela, pintu, ceiling, dan/atau eave spaces.
Implementasi bergantung pada:
- kondisi rumah;
- kemampuan instalasi dan pemeliharaan;
- feasibility;
- sumber daya.
4.2 Preventive chemotherapies#
WHO membagi strategi menjadi:
- IPTp — ibu hamil;
- PMC — perennial malaria chemoprevention;
- SMC — seasonal malaria chemoprevention;
- IPTsc — anak usia sekolah;
- PDMC — post-discharge malaria chemoprevention;
- MDA — mass drug administration.
Prinsip penting:
Obat untuk chemoprevention sebaiknya berbeda dari obat lini pertama terapi malaria di wilayah tersebut bila memungkinkan, untuk membantu mempertahankan efektivitas obat dan mengurangi tekanan resistensi.
4.2.1 IPTp — intermittent preventive treatment in pregnancy#
Rekomendasi utama#
Rekomendasi kuat; certainty sedang.
Di daerah endemik malaria:
semua ibu hamil, tanpa membedakan jumlah kehamilan/graviditas, diberikan antimalaria pada interval yang telah ditentukan untuk menurunkan beban malaria dan outcome kehamilan/bayi yang buruk.
Obat#
Sulfadoxine-pyrimethamine (SP) tetap merupakan obat utama yang digunakan untuk IPTp.
Dosis#
IPTp-SP idealnya diberikan sebagai directly observed therapy (DOT):
- 3 tablet SP;
- masing-masing 500 mg sulfadoxine + 25 mg pyrimethamine;
- total 1500 mg sulfadoxine + 75 mg pyrimethamine.
Jadwal#
- mulai sedini mungkin pada trimester kedua;
- tidak sebelum minggu ke-13;
- dosis diberikan pada setiap kontak ANC yang memenuhi syarat;
- jarak antar dosis minimal 1 bulan;
- target minimal 3 dosis selama kehamilan.
HIV#
IPTp-SP kontraindikasi pada ibu hamil HIV yang menerima co-trimoxazole prophylaxis.
Resistensi SP#
WHO tidak menganjurkan penghentian otomatis IPTp-SP hanya karena resistensi SP meningkat.
Walaupun kemampuan SP membersihkan infeksi dan mencegah infeksi baru menurun pada resistensi tinggi/sangat tinggi, IPTp-SP masih memberikan manfaat terhadap:
- berat lahir rendah;
- anemia maternal.
Karena itu, sampai alternatif yang lebih efektif tersedia, IPTp-SP tetap digunakan bahkan pada area dengan resistensi SP tinggi.
Folic acid#
- folic acid 0,4 mg/hari dapat diberikan bersama SP;
- dosis tinggi ≥5 mg/hari dapat mengurangi efektivitas antimalaria SP dan sebaiknya tidak diberikan bersamaan untuk tujuan tersebut.
Kontraindikasi/penundaan#
IPTp tidak diberikan:
- sebelum minggu 13;
- pada penyakit akut berat;
- bila tidak dapat minum obat oral;
- bila dalam 30 hari terakhir sudah menerima obat yang digunakan untuk IPTp;
- bila alergi komponen SP;
- pada penggunaan obat sulfa untuk terapi/profilaksis, termasuk co-trimoxazole.
4.2.1.1 IPTp pada ibu hamil dengan HIV — pembaruan 2026#
Rekomendasi kondisional terhadap penggunaan DHA-PPQ; certainty sedang.
Pada ibu hamil HIV di daerah transmisi sedang–tinggi:
Dihydroartemisinin-piperaquine sebagai IPTp tambahan tidak direkomendasikan.
Alasan utama:
- dibanding co-trimoxazole saja, tambahan DHA-PPQ tidak menunjukkan manfaat yang jelas pada:
- parasitemia perifer maternal;
- anemia saat persalinan;
- berat lahir rendah;
- fetal loss;
- neonatal mortality.
- memang terdapat kemungkinan penurunan malaria plasenta, tetapi tidak diterjemahkan menjadi perbaikan outcome klinis utama.
Jadi, jangan menganggap DHA-PPQ otomatis menjadi pengganti IPTp-SP pada ibu hamil HIV yang menggunakan co-trimoxazole.
4.2.2 PMC — perennial malaria chemoprevention#
PMC menggantikan istilah lama IPTi.
Rekomendasi#
Kondisional; certainty sedang.
Di area dengan transmisi malaria perennial sedang–tinggi:
Anak pada kelompok usia yang secara lokal mempunyai risiko tinggi malaria berat dapat diberikan obat antimalaria pada interval yang ditentukan untuk menurunkan beban penyakit.
Perbedaan penting dari IPTi lama#
Sebelumnya fokus utama adalah bayi <12 bulan.
Kini:
- target tidak lagi dibatasi hanya bayi;
- data menunjukkan manfaat juga pada anak 12–24 bulan;
- usia target ditentukan berdasarkan data lokal distribusi malaria berat/admission.
Obat#
SP banyak digunakan dan efektif.
ACT juga menunjukkan efektivitas, tetapi bukti untuk:
- keamanan kumulatif;
- efficacy dalam penggunaan berulang;
- adherence terhadap regimen multi-hari;
- cost-effectiveness
masih lebih terbatas.
Obat satu dosis yang dapat diberikan secara DOT, seperti SP, lebih mudah secara program.
Jadwal#
Ditentukan oleh:
- usia risiko tertinggi;
- lama proteksi obat;
- feasibility;
- affordability.
Untuk SP, dosis harus berjarak minimal 1 bulan.
Delivery#
EPI tetap menjadi platform penting, terutama pada tahun pertama kehidupan.
Untuk usia >1 tahun, dapat digunakan kontak kesehatan rutin lain atau platform tambahan.
Kontraindikasi#
PMC tidak diberikan bila:
- menerima bentuk chemoprevention lain seperti SMC/MDA;
- sakit akut berat;
- tidak dapat minum;
- telah menerima obat yang sama dalam 30 hari;
- alergi obat;
- menggunakan sulfa-based medicine termasuk co-trimoxazole bila menggunakan SP.
4.2.3 SMC — seasonal malaria chemoprevention#
Rekomendasi#
Kuat; certainty sedang.
Di area transmisi malaria yang sangat musiman:
Anak pada kelompok usia yang paling berisiko malaria berat diberikan obat antimalaria selama puncak musim transmisi.
Obat#
Regimen yang paling luas digunakan:
SP + amodiaquine (SP+AQ).
WHO menganjurkan regimen kombinasi untuk SMC berbeda dari terapi lini pertama, dengan farmakologi yang cocok agar tidak ada komponen obat yang berada sendirian terlalu lama.
Usia#
Sebagian besar penelitian pada:
- 3–59 bulan.
Namun data juga menunjukkan dampak pada anak <10 tahun.
Penentuan usia target harus mengikuti pola lokal malaria berat.
Semakin memperluas SMC ke:
- kelompok usia yang lebih tua;
- area transmisi lebih rendah;
cost-effectiveness cenderung menurun.
Frekuensi#
- seluruh periode risiko tinggi harus tercakup;
- bukti mendukung 3–4 siklus bulanan pada musim lebih pendek;
- sampai 6 siklus telah dievaluasi pada musim yang lebih panjang.
Delivery#
Dapat melalui:
- door-to-door;
- fixed point;
- community health workers.
Dalam studi Mali:
- door-to-door: 76,1%;
- fixed point: 62,2%.
Efek yang dilaporkan#
SMC menurunkan:
- malaria klinis;
- prevalensi infeksi;
- malaria berat;
- anemia;
- sebagian rawat inap.
Pada anak <5 tahun, risiko malaria klinis selama musim transmisi turun sekitar tiga perempat dalam bukti yang dirangkum WHO.
Kontraindikasi#
Tidak diberikan pada:
- penerima MDA/PMC;
- sakit akut berat;
- tidak dapat minum;
- sudah mendapat obat yang sama dalam 30 hari;
- alergi;
- penggunaan obat sulfa termasuk co-trimoxazole bila regimen mengandung SP.
4.2.4 IPTsc — intermittent preventive treatment in school-aged children#
Rekomendasi#
Kondisional; certainty rendah.
Anak usia sekolah di area:
- transmisi perennial sedang–tinggi; atau
- transmisi musiman,
dapat diberikan full therapeutic course antimalaria pada waktu yang telah ditentukan sebagai chemoprevention.
Kelompok usia#
Bukti terutama pada anak:
- 5–15 tahun.
Dosis#
Gunakan dosis terapi lengkap berdasarkan berat badan bila memungkinkan.
Jadwal#
Ditentukan berdasarkan:
- epidemiologi lokal;
- seasonality;
- farmakokinetik obat;
- feasibility.
Uji klinis menggunakan berbagai pola, antara lain:
- bulanan;
- setiap term sekolah.
Delivery#
Dapat melalui:
- sekolah;
- komunitas.
Sekolah bukan selalu satu-satunya kanal karena:
- anak tidak sekolah dapat justru mempunyai risiko lebih tinggi;
- kalender sekolah dapat tidak cocok dengan puncak transmisi.
Prinsip obat#
Obat lini pertama untuk terapi malaria sebaiknya tidak digunakan untuk IPTsc jika alternatif aman dan efektif tersedia.
Kontraindikasi#
Tidak diberikan pada:
- penerima chemoprevention lain;
- sakit akut berat;
- tidak dapat minum;
- sudah menerima obat terkait dalam 30 hari;
- alergi;
- penggunaan obat sulfa bila regimen menggunakan SP;
- kondisi lain sesuai obat yang dipakai.
Perhatian khusus diperlukan pada anak perempuan usia reproduktif karena sebagian antimalaria memerlukan konfirmasi status kehamilan sebelum chemoprevention.
4.2.5 PDMC — post-discharge malaria chemoprevention#
Rekomendasi#
Kondisional; certainty sedang.
Anak yang:
- dirawat di rumah sakit karena anemia berat;
- tinggal di area transmisi malaria perennial sedang–tinggi;
dapat diberikan full therapeutic course antimalaria pada waktu tertentu setelah pulang untuk menurunkan:
- readmission;
- kematian.
PDMC terutama ditujukan pada anemia berat yang bukan akibat:
- trauma;
- operasi;
- keganasan;
- gangguan perdarahan.
Jadwal ditentukan oleh:
- epidemiologi;
- durasi proteksi obat;
- feasibility;
- affordability.
4.2.6 MDA — mass drug administration#
MDA berarti pemberian antimalaria kepada populasi sasaran tanpa mensyaratkan konfirmasi infeksi individual.
MDA untuk menurunkan disease burden#
Kondisional; certainty rendah.
Pada transmisi P. falciparum sedang–tinggi, MDA dapat memberikan penurunan cepat beban malaria.
Namun:
efeknya cenderung menghilang dalam 1–3 bulan.
Karena itu MDA harus menjadi bagian dari paket program yang lebih luas:
- case management efektif;
- vector control;
- surveillance;
- intervensi pencegahan lainnya.
MDA bukan pengganti sistem pengendalian malaria yang kuat.
MDA dalam emergency#
Kondisional; certainty rendah.
Dapat digunakan pada keadaan darurat atau gangguan pelayanan kesehatan di wilayah geografis tertentu untuk menurunkan beban P. falciparum dalam jangka pendek.
Keterbatasan:
- evidence sangat terbatas;
- estimasi populasi sulit;
- supply obat;
- supervisi tenaga;
- monitoring dan evaluasi sulit.
MDA untuk menurunkan transmisi P. falciparum pada transmisi sangat rendah–rendah#
Kondisional; certainty rendah.
Dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari program eliminasi yang kuat.
Syarat penting:
- risiko importasi rendah;
- surveillance berbasis kasus baik;
- diagnosis parasitologis;
- terapi efektif;
- vector control/pencegahan tetap berjalan.
Efek dapat hilang dalam 1–3 bulan sehingga risiko rebound harus diantisipasi.
MDA untuk menurunkan transmisi P. falciparum pada transmisi sedang–tinggi#
Tidak direkomendasikan.
Studi tidak menunjukkan bukti yang cukup bahwa MDA memberikan efek jangka pendek maupun panjang terhadap transmisi pada setting ini.
MDA untuk P. vivax#
Kondisional; certainty sangat rendah.
Dapat menurunkan transmisi, tetapi efek juga dapat menghilang dalam 1–3 bulan.
Program harus memiliki:
- surveillance berbasis kasus;
- diagnosis parasitologis;
- terapi efektif;
- terapi terhadap hipnozoit;
- pencegahan lain.
Risiko importasi harus rendah dan keamanan pemberian terapi anti-relaps harus dipastikan.
Mass relapse prevention (MRP) dengan 8-aminoquinoline saja#
Tidak direkomendasikan.
Masalah utama adalah risiko hemolisis berat bila G6PD deficiency tidak diketahui.
Dalam kondisi sangat khusus, misalnya outbreak P. vivax fokal kecil di daerah temperate, pendekatan MDA yang juga mencakup schizonticide dapat lebih masuk akal dibanding pemberian 8-aminoquinoline saja.
4.3 Vaksin malaria#
Rekomendasi utama#
Kuat; certainty tinggi.
WHO merekomendasikan vaksin malaria untuk mencegah P. falciparum pada anak yang tinggal di daerah endemik malaria, dengan prioritas pada daerah transmisi sedang–tinggi.
Usia#
Jadwal standar:
- mulai sekitar 5 bulan;
- 4 dosis.
WHO mencatat bahwa prequalification RTS,S/AS01 dan R21/Matrix-M memungkinkan dosis pertama mulai usia 5 bulan. Untuk RTS,S/AS01, lisensi produsen dapat memiliki rentang berbeda.
Jadwal 4 dosis#
- Dosis 1–3: interval minimal 4 minggu.
- Dosis 4: 6–18 bulan setelah dosis 3.
Mengapa tetap 4 dosis?#
Evaluasi terbaru menunjukkan:
- 4 dosis memberikan tambahan perlindungan terhadap malaria klinis dibanding 3 dosis;
- 4 dosis juga memberikan tambahan efektivitas terhadap malaria berat;
- tidak ditemukan bukti rebound malaria berat pada anak yang hanya menerima 3 dosis;
- anak yang menerima dosis ke-4 memperoleh perlindungan yang berlanjut setelah dosis tersebut.
Bukti terutama berasal dari RTS,S/AS01; karena kemiripan konstruksi dan mekanisme, kesimpulan dianggap dapat diterapkan pada R21/Matrix-M.
Bila dosis ke-4 tertunda#
Anak tetap memperoleh manfaat dari 3 dosis sementara hambatan pemberian dosis ke-4 diselesaikan.
Penyesuaian jadwal#
Di daerah dengan transmisi sangat musiman:
- dosis ke-4 dapat diberikan menjelang puncak musim transmisi.
Pendekatan dapat berupa:
- age-based;
- seasonal;
- hybrid.
Dosis ke-5#
Dapat dipertimbangkan:
- satu tahun setelah dosis ke-4;
- pada transmisi sangat musiman;
- atau bila risiko malaria tetap tinggi pada tahun ketiga kehidupan dan seterusnya;
tetapi keputusan harus berdasarkan feasibility dan cost-effectiveness lokal.
Catch-up#
Saat introduksi vaksin, catch-up hingga usia 5 tahun dapat dipertimbangkan dengan memperhatikan:
- epidemiologi;
- usia risiko tertinggi;
- feasibility;
- affordability;
- ketersediaan vaksin.
Prinsip penting#
Vaksin bukan pengganti intervensi lain.
Semua intervensi malaria memberikan perlindungan parsial. Dampak maksimal diperoleh melalui kombinasi yang disesuaikan dengan:
- epidemiologi;
- vector behaviour;
- resistensi insektisida;
- resistensi obat;
- sistem kesehatan.
5. Case management#
5.1 Diagnosis#
Prinsip utama#
Semua kasus suspek malaria harus menjalani pemeriksaan parasitologis:
- mikroskopi; atau
- rapid diagnostic test (RDT).
Mikroskopi dan RDT harus didukung quality assurance programme.
Mengapa diagnosis klinis saja tidak cukup?#
Gejala malaria tidak spesifik.
Demam/riwayat demam dapat berasal dari banyak penyakit lain.
Diagnosis hanya berdasarkan gejala:
- spesifisitas rendah;
- meningkatkan overtreatment;
- memperbesar penggunaan antimalaria yang tidak perlu;
- dapat meningkatkan tekanan resistensi.
5.2 Malaria tanpa komplikasi#
5.2.1 P. falciparum#
ACT adalah standar#
WHO merekomendasikan ACT berikut:
- Artemether-lumefantrine (AL)
- Artesunate-amodiaquine (AS+AQ)
- Artesunate-mefloquine (ASMQ)
- Dihydroartemisinin-piperaquine (DHAP/DHA-PPQ)
- Artesunate + sulfadoxine-pyrimethamine (AS+SP)
- Artesunate-pyronaridine (ASPY)
Durasi#
Semua regimen ACT harus memberikan 3 hari terapi dengan derivat artemisinin.
Regimen 1–2 hari tidak direkomendasikan karena:
- efficacy lebih rendah;
- efek terhadap gametosit lebih rendah;
- proteksi dari partner drug lebih pendek;
- dapat meningkatkan risiko resistensi.
5.2.2 Dosis ACT#
A. Artemether-lumefantrine (AL)#
Regimen: 2 kali sehari selama 3 hari = total 6 dosis.
Dua dosis pertama idealnya berjarak sekitar 8 jam.
| BB | Artemether + lumefantrine per dosis, 2×/hari selama 3 hari |
|---|---|
| <5 kg | 5 + 60 mg |
| 5–<15 kg | 20 + 120 mg |
| 15–<25 kg | 40 + 240 mg |
| 25–<35 kg | 60 + 360 mg |
| ≥35 kg | 80 + 480 mg |
Pembaruan 2026: formulasi rasio 1:12 yang ditujukan untuk bayi <5 kg telah mendapat persetujuan regulatori pada 2025 dan direkomendasikan bila AL merupakan ACT pilihan.
Poin penting AL#
Absorpsi lumefantrine meningkat bila dikonsumsi bersama lemak.
Pasien/caregiver perlu diberi tahu agar AL dikonsumsi bersama makanan atau minuman yang mengandung lemak, terutama pada hari ke-2 dan ke-3.
Paparan lumefantrine lebih rendah dapat terjadi pada:
- anak <3 tahun;
- ibu hamil;
- orang dewasa dengan berat besar;
- penggunaan mefloquine;
- rifampicin;
- efavirenz;
- perokok.
Kelompok tersebut perlu pemantauan respons dan kepatuhan yang lebih baik.
Penggunaan lopinavir/ritonavir meningkatkan paparan lumefantrine, tetapi tanpa peningkatan toksisitas yang bermakna sehingga tidak diperlukan penyesuaian dosis menurut pedoman.
B. Artesunate + amodiaquine (AS+AQ)#
Target dosis harian:
- artesunate: 4 mg/kg/hari (rentang 2–10);
- amodiaquine: 10 mg/kg/hari (rentang 7,5–15);
- sekali sehari selama 3 hari.
| BB | Dosis harian AS + AQ |
|---|---|
| <9 kg | 25 + 67,5 mg |
| 9–<18 kg | 50 + 135 mg |
| 18–<36 kg | 100 + 270 mg |
| ≥36 kg | 200 + 540 mg |
Perhatian:
- respons perlu dipantau lebih ketat pada anak underweight;
- dapat menyebabkan neutropenia berat;
- risiko terutama menjadi perhatian pada HIV, khususnya penggunaan zidovudine dan/atau cotrimoxazole;
- efavirenz meningkatkan paparan amodiaquine dan hepatotoksisitas.
Penggunaan AS+AQ pada pasien yang menggunakan zidovudine, efavirenz, dan cotrimoxazole sebaiknya dihindari kecuali itu satu-satunya ACT yang tersedia secara cepat.
C. Artesunate + mefloquine (ASMQ)#
Target dosis harian:
- artesunate 4 mg/kg/hari;
- mefloquine sekitar 8,3 mg/kg/hari;
- sekali sehari selama 3 hari.
| BB | Dosis harian AS + mefloquine |
|---|---|
| <9 kg | 25 + 55 mg |
| 9–<18 kg | 50 + 110 mg |
| 18–<30 kg | 100 + 220 mg |
| ≥30 kg | 200 + 440 mg |
Mefloquine dapat meningkatkan:
- mual;
- muntah;
- pusing;
- dysphoria;
- gangguan tidur.
Untuk mengurangi muntah akut dan memperbaiki absorpsi, dosis total mefloquine sebaiknya dibagi selama 3 hari sebagaimana FDC.
Rifampicin menurunkan paparan mefloquine dan dapat menurunkan efficacy; pasien perlu follow-up lebih ketat.
D. Artesunate + sulfadoxine-pyrimethamine (AS+SP)#
Artesunate:
- target 4 mg/kg/hari;
- selama 3 hari.
SP:
- diberikan sekali pada hari pertama;
- minimal sekitar 25 mg/kg sulfadoxine + 1,25 mg/kg pyrimethamine.
| BB | Artesunate/hari ×3 hari | SP hari 1 |
|---|---|---|
| <10 kg | 25 mg | 250/12,5 mg |
| 10–<25 kg | 50 mg | 500/25 mg |
| 25–<50 kg | 100 mg | 1000/50 mg |
| ≥50 kg | 200 mg | 1500/75 mg |
Folic acid: dosis 0,4 mg/hari tidak mengurangi efficacy SP; dosis tinggi 5 mg/hari dapat menurunkan efficacy dan tidak sebaiknya diberikan bersamaan.
Kelemahan AS+SP:
- tidak tersedia sebagai FDC yang benar-benar terintegrasi;
- berpotensi menurunkan adherence;
- distribusi artesunate lepas dapat meningkatkan risiko penggunaan monoterapi artesunate, yang tidak direkomendasikan.
E. Dihydroartemisinin + piperaquine (DHA-PPQ/DHAP)#
Untuk anak <25 kg, WHO mempertahankan peningkatan dosis minimum:
- dihydroartemisinin minimal 2,5 mg/kg/hari;
- piperaquine minimal 20 mg/kg/hari;
- selama 3 hari.
Target untuk ≥25 kg:
- DHA sekitar 4 mg/kg/hari;
- piperaquine sekitar 18 mg/kg/hari.
| BB | DHA + piperaquine/hari |
|---|---|
| <8 kg | 20 + 160 mg |
| 8–<11 kg | 30 + 240 mg |
| 11–<17 kg | 40 + 320 mg |
| 17–<25 kg | 60 + 480 mg |
| 25–<36 kg | 80 + 640 mg |
| 36–<60 kg | 120 + 960 mg |
| 60–<80 kg | 160 + 1280 mg |
| >80 kg | 200 + 1600 mg |
DHA-PPQ diberikan sekali sehari selama 3 hari.
Poin penting DHA-PPQ#
- Anak <5 tahun memiliki risiko kegagalan lebih tinggi bila paparan piperaquine tidak optimal.
- Anak <25 kg membutuhkan target dosis lebih tinggi agar paparan setara.
- Hindari makanan tinggi lemak, karena dapat mempercepat absorpsi piperaquine dan meningkatkan risiko QT prolongation.
- Makanan biasa tidak mengubah absorpsi secara bermakna.
- Tidak perlu ECG rutin sebelum pemberian pada semua pasien.
- Hindari pada congenital QT prolongation atau kondisi/obat yang memperpanjang QT.
- Tidak ditemukan bukti cardiotoxicity bermakna pada uji besar/deployment luas.
- Kehamilan dapat mempercepat eliminasi piperaquine, tetapi tidak ada rekomendasi penyesuaian dosis.
F. Artesunate-pyronaridine (ASPY)#
Direkomendasikan sebagai opsi ACT untuk malaria P. falciparum tanpa komplikasi.
Keunggulan programatik:
- alternatif ACT;
- dapat membantu mengurangi tekanan penggunaan partner drug lain;
- dapat menjadi pilihan dalam konteks resistensi terhadap kombinasi ACT tertentu.
Perhatian:
- hindari pada penyakit hati yang nyata secara klinis karena dapat menyebabkan transaminitis;
- perlu pharmacovigilance;
- data anak masih lebih terbatas dibanding beberapa ACT lain;
- tidak digunakan pada trimester pertama kehamilan karena tidak ada data paparan yang memadai.
5.2.3 Infeksi P. falciparum berulang / treatment failure#
Kegagalan terapi dapat disebabkan:
- resistensi obat;
- dosis tidak optimal;
- adherence buruk;
- muntah;
- farmakokinetik individual;
- obat substandar;
- reinfeksi.
Pasien dengan malaria harus rutin ditanya apakah sebelumnya menerima antimalaria dalam 1–2 bulan terakhir.
Kegagalan dalam 28 hari#
Jika memungkinkan konfirmasi parasitologis.
Terapi yang dianjurkan:
ACT alternatif yang diketahui efektif di wilayah tersebut.
Regimen artesunate/quinine 7 hari tidak lagi menjadi pilihan umum karena adherence cenderung buruk dan tolerabilitas quinine kurang baik.
Kegagalan >28 hari#
Reinfeksi dan recrudescence tidak dapat dibedakan secara rutin tanpa PCR genotyping.
Secara operasional:
dianggap sebagai infeksi baru dan diterapi dengan ACT lini pertama.
Catatan: jangan mengulang mefloquine dalam 60 hari setelah penggunaan sebelumnya karena peningkatan risiko reaksi neuropsikiatrik; gunakan ACT alternatif.
5.2.4 Single-dose primaquine untuk transmission blocking#
Pembaruan 2026#
Pada area transmisi rendah:
berikan primaquine 0,25 mg/kg dosis tunggal bersama ACT pada pasien dengan P. falciparum terkonfirmasi parasitologis.
Pengecualian:
- ibu hamil;
- bayi <1 bulan;
- perempuan menyusui bayi <1 bulan.
G6PD testing tidak diperlukan untuk dosis tunggal 0,25 mg/kg menurut rekomendasi ini.
Dosis praktis berdasarkan tablet 7,5 mg base#
| BB | Primaquine dosis tunggal |
|---|---|
| 5–<25 kg | 3,75 mg base |
| 25–<50 kg | 7,5 mg base |
| 50–100 kg | 15 mg base |
Batas penting#
Tidak direkomendasikan pada transmisi sedang–tinggi, termasuk area dengan resistensi antimalaria.
Alasannya:
- bukti belum menunjukkan efektivitas population-level yang cukup;
- belum jelas apakah dapat mencegah penyebaran P. falciparum resisten;
- perlu data lebih lanjut mengenai asymptomatic carriers, adherence, cost, dan efek terhadap seleksi resistensi.
5.3 Kehamilan#
Trimester pertama#
Pembaruan penting dari pedoman lama:
Ibu hamil dengan uncomplicated P. falciparum malaria harus diterapi dengan:
artemether-lumefantrine (AL).
Data manusia terbaru yang dirangkum WHO menunjukkan profil risiko-manfaat AL lebih baik dibanding quinine.
Analisis terhadap 34.178 kehamilan mencakup 737 paparan artemisinin yang terdokumentasi pada trimester pertama; sebagian besar paparan adalah AL.
AL dikaitkan dengan risiko outcome kehamilan buruk yang lebih rendah dibanding quinine.
Yang tetap tidak digunakan pada trimester pertama#
- AS+SP: kontraindikasi karena antifolate;
- ASPY: tidak ada dokumentasi paparan trimester pertama yang cukup.
Untuk AS+AQ, ASMQ, dan DHA-PPQ, data paparan trimester pertama masih terbatas; dapat dipertimbangkan bila AL bukan ACT yang direkomendasikan/tersedia, tetapi evidence rutin lebih kuat untuk AL.
Pesan penting#
Jangan menunda atau mengganti terapi malaria berat hanya karena pasien berada pada trimester pertama.
Pada malaria berat:
parenteral artesunate tetap harus diberikan pada ibu hamil semua trimester.
5.4 Bayi dan anak kecil#
Bayi <5 kg#
Pembaruan 2026.
Bayi/neonatus <5 kg dengan uncomplicated P. falciparum:
- harus menerima ACT;
- target dosis mg/kg sama seperti anak 5 kg, kecuali tersedia formulasi spesifik.
Bila AL tersedia:
gunakan formulasi baru AL rasio 1:12 untuk bayi <5 kg.
Dosis formulasi tersebut:
5 mg artemether + 60 mg lumefantrine per dosis, 2×/hari selama 3 hari.
Catatan farmakologi#
Farmakokinetik bayi berbeda dari dewasa.
Karena itu:
- dosis harus akurat;
- monitor respons terapi;
- formulasi pediatrik lebih disukai;
- membagi tablet dewasa dapat menghasilkan dosis tidak akurat.
Primaquine kontraindikasi pada neonatus <1 bulan.
5.5 HIV#
Pada HIV/AIDS dengan uncomplicated P. falciparum:
- AS+SP tidak direkomendasikan bila pasien menggunakan co-trimoxazole;
- AS+AQ tidak direkomendasikan bila menggunakan efavirenz atau zidovudine.
Untuk AL:
- lopinavir/ritonavir meningkatkan paparan lumefantrine tetapi tanpa peningkatan toksisitas yang mengharuskan penyesuaian dosis.
5.6 Hyperparasitaemia#
Pasien dengan P. falciparum hyperparasitaemia:
- mempunyai risiko lebih tinggi untuk treatment failure;
- malaria berat;
- kematian.
Harus:
- diterapi dengan ACT;
- dipantau lebih ketat.
5.7 Bila spesies malaria belum pasti#
Jika spesies tidak dapat dipastikan:
terapi sebagai uncomplicated P. falciparum.
Untuk P. vivax, P. ovale, P. malariae, P. knowlesi:
- di daerah chloroquine-susceptible → ACT atau chloroquine;
- di daerah chloroquine-resistant → ACT.
5.8 G6PD dan terapi anti-relaps#
Prinsip utama#
Status G6PD harus digunakan untuk memandu pemberian:
- primaquine;
- tafenoquine.
Hal ini penting karena 8-aminoquinoline dapat menyebabkan hemolisis pada G6PD deficiency.
5.8.1 Qualitative near-patient G6PD test#
Dapat digunakan untuk membedakan aktivitas:
- <30% normal → dianggap deficient;
-
30% → dapat menerima regimen tertentu sesuai rekomendasi.
Keterbatasan:
qualitative test tidak dapat dengan baik mengidentifikasi perempuan dengan aktivitas intermediate 30–70% akibat heterozigositas.
Perempuan intermediate dapat diklasifikasikan sebagai normal oleh qualitative test.
5.8.2 Semi-quantitative G6PD test#
Direkomendasikan untuk menentukan:
- deficient;
- intermediate;
- normal.
Prinsip dosis:
>70% aktivitas normal#
Dapat diberikan:
- primaquine 1 mg/kg/hari × 7 hari, atau
- single-dose tafenoquine sesuai indikasi.
>30% aktivitas normal#
Dapat diberikan:
- primaquine 0,5 mg/kg/hari ×14 hari, atau
- primaquine 0,5 mg/kg/hari ×7 hari.
<30%#
Risiko hemolisis bermakna; regimen harus disesuaikan dan opsi standar 8-aminoquinoline tidak diberikan seperti pada individu normal.
5.9 Anti-relapse P. vivax dan P. ovale#
Primaquine#
Untuk mencegah relaps:
total 7 mg/kg primaquine
dapat diberikan sebagai:
- 0,5 mg/kg/hari selama 14 hari, atau
- 1 mg/kg/hari selama 7 hari pada pasien dengan G6PD ≥70%.
Pilihan 7 hari vs 14 hari dipengaruhi oleh:
- ketersediaan quantitative/semi-quantitative G6PD testing;
- kemampuan supervised therapy;
- epidemiologi relaps lokal;
- risiko hemolisis.
Manfaat dosis total tinggi 7 mg/kg dapat berbeda secara geografis.
Kehamilan/menyusui#
Primaquine:
- kontraindikasi pada kehamilan;
- kontraindikasi pada perempuan menyusui bayi <1 bulan.
Sebagai alternatif, chloroquine dapat digunakan untuk suppressing relapse selama kehamilan/menyusui, lalu radical cure dengan primaquine diberikan setelah menyusui selesai bila G6PD memungkinkan.
Primaquine pada G6PD deficiency#
Bila G6PD deficiency:
primaquine base 0,75 mg/kg sekali seminggu selama 8 minggu dapat diberikan untuk mencegah relaps, dengan pengawasan medis ketat terhadap hemolisis.
Bila status G6PD tidak diketahui dan pemeriksaan tidak tersedia:
- keputusan memberi/tidak memberi primaquine harus berdasarkan balance antara:
- manfaat mencegah relaps;
- prevalensi dan berat G6PD deficiency;
- kemampuan mendeteksi/menangani hemolisis.
Tafenoquine#
Rekomendasi kondisional; certainty rendah.
Tafenoquine dapat menjadi alternatif primaquine untuk mencegah relaps P. vivax pada:
- usia ≥2 tahun;
- G6PD ≥70% aktivitas normal;
- pasien mendapat chloroquine.
Saat ini rekomendasi ini hanya berlaku untuk Amerika Selatan.
Syarat:
- quantitative atau semi-quantitative G6PD testing wajib sebelum tafenoquine;
- tidak untuk kehamilan;
- tidak untuk menyusui;
- tidak digunakan bila terapi P. vivax menggunakan ACT.
Dosis yang dicantumkan WHO:
- dewasa/adolesen/anak >35 kg: 300 mg sekali;
-
10–20 kg: 100 mg total;
-
20–35 kg: 200 mg total.
Belum ada data yang membandingkan tafenoquine dengan primaquine total 7 mg/kg; data terutama dibandingkan dengan primaquine total 3,5 mg/kg.
5.10 Malaria berat#
Prinsip#
Semua pasien dengan malaria berat:
- dewasa;
- anak;
- bayi;
- ibu hamil trimester berapa pun;
- ibu menyusui;
harus mendapatkan:
intravenous atau intramuscular artesunate selama minimal 24 jam dan sampai dapat mentoleransi obat oral.
Setelah:
- minimal 24 jam terapi parenteral; dan
- sudah dapat minum,
terapi diselesaikan dengan:
ACT selama 3 hari.
Dosis artesunate malaria berat#
Anak <20 kg#
3 mg/kg per dosis.
Anak ≥20 kg dan dewasa#
2,4 mg/kg per dosis.
Peningkatan dosis pada anak <20 kg ditujukan untuk mencapai paparan obat yang setara.
Bila artesunate parenteral tidak tersedia#
Artemether parenteral lebih dipilih daripada quinine.
Pre-referral treatment#
Jika fasilitas tidak mampu memberikan terapi lengkap tetapi tersedia injeksi:
Pilihan utama#
- single IM artesunate dose, kemudian segera dirujuk.
Jika IM artesunate tidak tersedia:
- IM artemether;
- bila tidak tersedia → IM quinine.
Anak <6 tahun bila injeksi artesunate tidak tersedia#
- single rectal artesunate 10 mg/kg, kemudian segera dirujuk.
Rectal artesunate:
- hanya untuk anak <6 tahun dalam situasi tersebut;
- tidak digunakan pada anak lebih besar dan dewasa.
5.11 Prinsip dosis dan adherence#
WHO menekankan bahwa dosis sebaiknya berbasis berat badan, bukan usia, karena hubungan usia–berat berbeda antar-populasi.
Faktor yang memengaruhi paparan obat:
- kualitas obat;
- formulasi;
- adherence;
- muntah;
- nutrisi;
- interaksi obat;
- co-administration dengan makanan tertentu;
- farmakokinetik kehamilan/usia.
Fixed-dose combinations lebih disukai untuk meningkatkan adherence.
5.12 Mutu obat dan monitoring resistensi#
National drug/regulatory authorities harus memastikan obat antimalaria yang tersedia:
- memenuhi standar mutu;
- diawasi melalui regulasi;
- inspeksi;
- penegakan hukum.
Therapeutic efficacy monitoring#
Program malaria harus secara rutin memonitor efikasi terapi menggunakan protokol WHO.
Kapan mengganti obat nasional?#
WHO menyebut:
jika total treatment failure ≥10% pada pemantauan therapeutic efficacy in vivo, obat yang direkomendasikan dalam kebijakan nasional perlu dipertimbangkan untuk diganti.
Obat baru#
Penggunaan obat antimalaria baru dalam kebijakan nasional sebaiknya didasarkan pada:
cure rate rata-rata >95% dalam uji klinis.
6. Fase akhir eliminasi dan pencegahan re-establishment#
Ketika transmisi menjadi sangat rendah, strategi harus bergeser dari pendekatan populasi umum menuju:
- mass strategies;
- targeted strategies;
- reactive strategies.
6.1 Mass strategies#
Dapat mencakup:
- MDA;
- MRP;
- MTaT.
Secara umum mass strategies tidak menjadi strategi rutin post-elimination kecuali terdapat transmisi lokal kembali.
6.2 Mass testing and treatment (MTaT)#
MTaT:
- seluruh populasi di area geografis terbatas dites;
- hanya yang positif mendapat terapi lengkap.
Keuntungan konseptual:
- memperluas diagnosis kepada orang yang sulit mengakses layanan;
- menjangkau orang yang tidak merasa sakit;
- tidak memberikan periode profilaksis populasi seperti MDA;
- hanya individu yang diketahui terinfeksi yang menerima obat.
Namun:
MTaT tidak direkomendasikan sebagai strategi umum untuk menurunkan transmisi.
Dapat dipertimbangkan dalam keadaan luar biasa, misalnya fokus transmisi sangat rendah/post-elimination ketika MDA tidak dapat diterima atau tidak feasible.
6.3 Targeted drug administration (TDA)#
Pada daerah mendekati eliminasi/post-eliminasi:
antimalaria dapat diberikan kepada kelompok yang terbukti memiliki risiko infeksi lebih tinggi dibanding populasi umum dan menyumbang bagian besar reservoir parasit.
Target harus:
- mudah diidentifikasi;
- benar-benar berisiko;
- tidak menyebabkan stigma;
- tetap didukung intervensi eliminasi lain.
6.4 Targeted testing and treatment (TTaT)#
Tidak direkomendasikan secara umum.
TTaT adalah testing dan treatment pada kelompok yang berisiko lebih tinggi.
Namun mungkin ada kondisi terbatas di mana bermanfaat, misalnya:
- kelompok risiko mudah diidentifikasi;
- chemoprevention tidak dapat diterima;
- radical cure P. vivax hanya feasible bila infeksi telah dikonfirmasi.
6.5 Testing/treatment pada points of entry#
Routine testing semua pendatang#
Tidak direkomendasikan.
Alasan:
- tidak ada bukti kuat mengenai dampak terhadap importasi;
- sulit diterapkan;
- volume penumpang tinggi;
- masalah acceptability/feasibility.
Kelompok terorganisasi/teridentifikasi#
Dapat dipertimbangkan secara kondisional pada daerah mendekati eliminasi/post-eliminasi.
Contoh:
- pekerja migran;
- militer;
- jamaah/pelaku perjalanan kelompok;
- kelompok yang baru kembali dari area endemik.
Syarat utama:
kelompok harus mudah diakses segera setelah kedatangan.
6.6 Reactive drug administration (RDA)#
Di area mendekati eliminasi/post-eliminasi:
antimalaria dapat diberikan kepada orang yang tinggal bersama/dekat kasus konfirmasi dan orang lain dengan risiko pajanan yang sama.
Contoh:
- anggota rumah;
- tetangga;
- co-traveller;
- co-worker.
Program harus mampu:
- investigasi kasus;
- menentukan kemungkinan lokasi infeksi;
- mengidentifikasi orang yang terpajan;
- menghitung populasi sasaran;
- menyediakan obat.
Jika kasus merupakan imported infection dan rumah tidak berada di area receptive, RDA mungkin tidak memberi manfaat.
6.7 Reactive case detection and treatment (RACDT)#
Di area mendekati eliminasi/post-eliminasi:
orang yang tinggal bersama/dekat kasus dan orang yang memiliki risiko pajanan yang sama dapat dites dan yang positif diterapi.
RACDT:
- kemungkinan tidak memberi dampak berarti pada transmisi di area yang masih memiliki transmisi lebih tinggi;
- menjadi sangat penting ketika transmisi hampir terputus;
- membantu surveillance eliminasi;
- dapat mendukung pembuktian bahwa suatu negara mempertahankan nol kasus indigenous menuju sertifikasi;
- merupakan komponen penting pencegahan re-establishment.
6.8 Reactive IRS#
Di area mendekati eliminasi/post-eliminasi:
IRS dapat dilakukan di rumah kasus dan rumah tetangga.
Dapat dipertimbangkan:
- menggantikan proactive IRS dengan reactive IRS bila sesuai;
- menambahkan reactive IRS bila manfaat tambahan sebanding dengan biaya dan risiko resistensi.
Efektivitas bergantung pada:
- susceptibilitas vektor;
- kebiasaan vektor makan/istirahat indoor;
- kesesuaian struktur rumah;
- receptivity area.
Jika kasus imported dan lokasi tidak receptive, reactive IRS mungkin tidak memberi manfaat.
7. Surveillance#
WHO menempatkan surveillance sebagai intervensi/pilar utama program malaria, bukan sekadar pelaporan administratif.
7.1 Tujuan surveillance#
Surveillance digunakan untuk:
- menemukan area/populasi dengan beban tertinggi;
- menentukan prioritas intervensi;
- menilai dampak intervensi;
- mendeteksi outbreak;
- menilai kemajuan menuju eliminasi;
- mengidentifikasi fokus transmisi;
- mendukung sertifikasi eliminasi;
- mendeteksi re-establishment.
7.2 Saat transmisi masih tinggi#
Surveillance sering terintegrasi dengan:
- routine health information system;
- data fasilitas kesehatan;
- data laboratorium;
- data program malaria.
Tujuan utamanya:
- tren penyakit;
- stratifikasi;
- alokasi sumber daya;
- evaluasi intervensi.
7.3 Saat menuju eliminasi#
Tujuannya berubah menjadi:
- identifikasi setiap kasus;
- investigasi;
- identifikasi fokus transmisi;
- respons cepat;
- memastikan tidak ada transmisi berkelanjutan.
7.4 Setelah eliminasi#
Fokus:
mencegah re-establishment.
Diagnosis dan terapi harus tetap tersedia karena kasus importasi dapat muncul kapan saja dan di mana saja.
Intensitas surveillance/respons ditentukan oleh:
- risiko importasi;
- receptivity;
- sistem kesehatan;
- lokasi dan pola kasus.
7.5 Digital surveillance#
WHO menyebut pentingnya:
- DHIS2;
- georeferenced master facility lists;
- data quality assessment;
- integrasi data klinis;
- data laboratorium;
- data entomologi;
- data iklim.
Integrasi data memungkinkan:
- targeted response;
- monitoring resistensi obat;
- monitoring resistensi insektisida;
- antisipasi urban transmission;
- antisipasi outbreak terkait perubahan iklim.
8. Implikasi praktis untuk program/layanan klinis#
8.1 Untuk layanan klinis#
Alur praktis yang konsisten dengan pedoman:
SUSPEK MALARIA → TES PARASITOLOGIS → KLASIFIKASI BERAT/TIDAK → IDENTIFIKASI SPESIES → PILIH ACT/ARTESUNATE → DOSIS BERAT BADAN → PERIKSA KELOMPOK KHUSUS/INTERAKSI → PASTIKAN ADHERENCE → MONITOR RESPONS
Hal yang jangan terlewat:
- kehamilan;
- berat badan;
- HIV/ARV;
- co-trimoxazole;
- rifampicin;
- efavirenz;
- QT-prolonging drugs;
- penyakit hati;
- riwayat antimalaria sebelumnya;
- G6PD bila terapi anti-relaps akan diberikan.
8.2 Untuk bayi <5 kg#
Pembaruan paling praktis:
jangan menunda ACT hanya karena berat <5 kg.
Gunakan ACT pada target mg/kg yang sesuai; bila AL merupakan ACT pilihan dan formulasi tersedia, gunakan formulasi AL 5 + 60 mg/dosis, 2×/hari selama 3 hari.
8.3 Untuk malaria berat#
Pesan paling penting:
Artesunate parenteral segera — semua trimester kehamilan termasuk trimester pertama.
Setelah minimal 24 jam dan mampu oral:
selesaikan dengan ACT 3 hari.
8.4 Untuk P. vivax/P. ovale#
Jangan berhenti pada terapi blood-stage.
Pertimbangkan:
- terapi blood-stage;
- penilaian G6PD;
- terapi anti-relaps yang aman.
Primaquine/tafenoquine tidak boleh diberikan tanpa memperhatikan status G6PD sesuai regimen.
8.5 Untuk program nasional#
Tidak ada satu paket intervensi yang cocok untuk semua wilayah.
Gunakan:
LOCAL DATA → STRATIFICATION → OPTIMAL MIX OF INTERVENTIONS → PRIORITIZATION → IMPLEMENTATION → SURVEILLANCE → EVALUATION → ADAPTATION
9. Ringkasan cepat rekomendasi#
| Topik | Rekomendasi WHO 2026 |
|---|---|
| Pyrethroid-only LLIN | Gunakan pada area transmisi |
| Pyrethroid-PBO ITN | Kondisional, terutama resistensi piretroid |
| Pyrethroid-chlorfenapyr ITN | Gunakan menggantikan pyrethroid-only di resistensi piretroid |
| Pyrethroid-pyriproxyfen ITN | Kondisional vs pyrethroid-only; tidak direkomendasikan menggantikan PBO |
| IRS | Gunakan sesuai kondisi vektor/rumah |
| ITN + IRS | Tidak rutin; prioritaskan cakupan optimal salah satu |
| Larviciding | Kondisional sebagai tambahan, bila habitat sedikit/fixed/findable |
| Topical repellent | Tidak untuk community-level control |
| Insecticide-treated clothing | Tidak untuk community-level control |
| Spatial emanator | Kondisional sebagai tambahan; bukti indoor |
| Space spraying | Tidak direkomendasikan |
| House screening | Kondisional |
| IPTp | Semua graviditas, mulai ≥13 minggu, minimal 3 dosis, interval ≥1 bulan |
| IPTp-SP + co-trimoxazole | Kontraindikasi |
| DHA-PPQ sebagai IPTp tambahan pada HIV+ | Tidak direkomendasikan (update 2026) |
| PMC | Kondisional pada anak usia risiko tinggi di transmisi perennial sedang–tinggi |
| SMC | Kuat pada area transmisi musiman dan anak berisiko tinggi |
| IPTsc | Kondisional |
| PDMC | Kondisional pada anak pascarawat anemia berat di transmisi sedang–tinggi |
| MDA burden reduction | Kondisional pada transmisi sedang–tinggi; efek 1–3 bulan |
| MDA transmission reduction P. falciparum sedang–tinggi | Tidak direkomendasikan |
| MDA transmission reduction P. falciparum rendah | Kondisional, sebagai bagian program eliminasi |
| MDA P. vivax | Kondisional, evidence sangat rendah |
| MRP 8-aminoquinoline saja | Tidak direkomendasikan |
| Vaksin malaria | Direkomendasikan kuat |
| Vaksin | 4 dosis tetap dipertahankan |
| Diagnosis suspek malaria | Mikroskopi atau RDT |
| P. falciparum uncomplicated | ACT |
| Durasi ACT | 3 hari |
| AL bayi <5 kg | Formulasi 1:12: 5 + 60 mg/dosis, 2×/hari ×3 hari |
| Primaquine transmission blocking | 0,25 mg/kg dosis tunggal + ACT di transmisi rendah |
| Single-dose primaquine | Tidak direkomendasikan di transmisi sedang–tinggi |
| Malaria berat | IV/IM artesunate |
| Artesunate severe malaria <20 kg | 3 mg/kg/dosis |
| Artesunate severe malaria ≥20 kg/dewasa | 2,4 mg/kg/dosis |
| Setelah parenteral severe malaria | ACT 3 hari setelah ≥24 jam dan mampu oral |
| Bila artesunate tidak tersedia | Artemether lebih dipilih daripada quinine |
| Pre-referral | IM artesunate; bila tidak tersedia IM artemether → quinine |
| Anak <6 tahun tanpa IM artesunate | Rectal artesunate 10 mg/kg + rujuk |
| G6PD | Pandu pemberian primaquine/tafenoquine |
| Primaquine anti-relaps | Umumnya total 7 mg/kg bila memenuhi syarat |
| Tafenoquine | ≥2 tahun, G6PD ≥70%, saat ini rekomendasi terbatas South America |
| Therapeutic failure | Ganti regimen bila total failure ≥10% |
| Obat baru | Cure rate klinis rata-rata >95% sebagai dasar introduksi |
10. Catatan sumber dan batasan#
10.1 Sumber#
Ringkasan ini dibuat berdasarkan PDF WHO Guidelines for malaria – 10 September 2026 yang diunggah, bukan berdasarkan sumber eksternal.
Referensi utama:
World Health Organization. WHO guidelines for malaria, 10 September 2026. Geneva: World Health Organization; 2026. DOI: 10.2471/B09879.
PDF menyatakan bahwa versi online pada platform MAGICapp merupakan sumber living guideline dan dapat diperbarui lebih cepat daripada PDF yang telah diunduh.
10.2 Pemetaan halaman penting dalam PDF#
| Bagian | Halaman PDF |
|---|---|
| Summary of recommendations | 5–26 |
| Executive summary | 29–35 |
| Vector control | 36–101 |
| Chemoprevention | 102–152 |
| Vaccines | 153–164 |
| Case management | 165–229 |
| Final phase elimination/re-establishment | 230–254 |
| Surveillance | 255 |
| Methods | 256–260 |
| Glossary | 261–271 |
| Contributors/interests | 272–299 |
| References | 300–317 |
| Evidence profiles | 318–494 |
10.3 Bagian yang paling relevan untuk membaca langsung#
- Update 2026: PDF hlm. 30.
- IPTp: hlm. 103–109.
- IPTp pada HIV: hlm. 109.
- PMC: hlm. 110–114.
- SMC: hlm. 115–119.
- IPTsc: hlm. 119–124.
- PDMC: hlm. 125–129.
- MDA: hlm. 130–152.
- Vaksin: hlm. 153–164.
- Diagnosis & ACT: hlm. 166–179.
- Single-dose primaquine: hlm. 179–180.
- Kehamilan: hlm. 182–188.
- Bayi <5 kg: hlm. 188–190.
- G6PD/anti-relaps: hlm. 196–211.
- Malaria berat: hlm. 212–222.
- Eliminasi: hlm. 230–254.
- Surveillance: hlm. 255.
Inti paling penting dari WHO Malaria Guidelines 2026#
1. Pencegahan harus disesuaikan dengan epidemiologi lokal#
Tidak semua wilayah membutuhkan kombinasi intervensi yang sama. Stratifikasi lokal menjadi dasar pemilihan paket intervensi.
2. Vector control tetap merupakan fondasi#
ITN atau IRS dengan cakupan optimal lebih penting daripada menambahkan intervensi kedua untuk mengompensasi implementasi yang buruk.
3. Chemoprevention makin ditargetkan#
IPTp, PMC, SMC, IPTsc, PDMC, dan MDA mempunyai populasi serta konteks masing-masing. MDA khususnya tidak boleh dianggap sebagai pengganti program malaria rutin.
4. Empat dosis vaksin tetap lebih baik daripada tiga dosis#
Bukti baru mendukung manfaat tambahan dosis ke-4, terutama terhadap malaria berat.
5. ACT tetap menjadi inti terapi uncomplicated P. falciparum#
Semua regimen ACT memberikan komponen artemisinin selama 3 hari.
6. Dosis harus berbasis berat badan#
Ini sangat penting pada anak kecil karena dosis berbasis usia dapat menghasilkan underdosing/overdosing.
7. Bayi <5 kg kini mempunyai opsi AL yang lebih spesifik#
Formulasi AL rasio 1:12 menjadi pembaruan praktis penting pada 2026.
8. Trimester pertama kehamilan: AL menjadi pilihan utama untuk uncomplicated falciparum malaria#
WHO memperbarui rekomendasi berdasarkan data manusia yang lebih banyak dan profil risiko-manfaat dibanding quinine.
9. Malaria berat: artesunate parenteral segera#
Kehamilan trimester pertama bukan alasan untuk menunda artesunate pada malaria berat.
10. G6PD adalah kunci untuk radical cure#
Primaquine/tafenoquine harus dipandu oleh status G6PD sesuai regimen.
11. Single-dose primaquine 0,25 mg/kg mempunyai konteks yang spesifik#
Rekomendasi 2026 menempatkannya pada transmisi rendah, bukan sebagai strategi rutin pada transmisi sedang–tinggi.
12. Surveillance bukan sekadar pencatatan#
Data surveillance harus digunakan untuk menentukan lokasi risiko, memilih intervensi, menilai dampak, mendeteksi outbreak, mendukung eliminasi, dan mencegah re-establishment.
Catatan penggunaan: Ringkasan ini dimaksudkan sebagai dokumen kerja/referensi cepat. Untuk keputusan terapi individual, kebijakan nasional, pengadaan obat/vaksin/insektisida, dan perubahan terbaru setelah tanggal dokumen, selalu cocokkan kembali dengan pedoman WHO versi online dan kebijakan malaria nasional yang berlaku.