BUKU DIAGNOSIS LABORATORIS LEPTOSPIROSIS#
Penerbit: Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan RI Tahun: 2019 ISBN: 978-602-373-160-2 Penulis: Farida Dwi Handayani, Ristiyanto, Arum Sih Joharina, dkk.
BAB I: PENDAHULUAN#
A. Tinjauan Umum Leptospirosis#
[cite_start]Leptospirosis adalah infeksi zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp. (Spirochaeta Gram-negatif) [cite: 2395-2396].
- [cite_start]Reservoir: Tikus adalah reservoir utama; bakteri hidup di tubulus ginjal dan diekskresikan melalui urin[cite: 2398].
- [cite_start]Epidemiologi: Merupakan re-emerging disease yang sering terjadi wabah di negara tropis seperti Indonesia [cite: 2400-2401].
- [cite_start]Masa Inkubasi: Berkisar 2–21 hari, biasanya 7–14 hari[cite: 2404].
B. Perjalanan Klinis#
[cite_start]Penyakit ini memiliki fase bifasik (biphasic)[cite: 2404]:
- Fase Akut (Leptospiremia):
- Berlangsung 4–7 hari.
- Gejala: Demam, sakit kepala, menggigil, nyeri otot, mual, diare.
- [cite_start]Bakteri dapat ditemukan dalam darah dan cairan serebrospinal [cite: 2408-2409].
- Fase Imun (Leptospiruria):
- Ditandai dengan munculnya antibodi IgM dan ditemukannya bakteri dalam urin.
- [cite_start]Komplikasi berat (Sindrom Weil): Ikterus, gagal ginjal, perdarahan paru, hingga kematian [cite: 2399, 2411-2412].
C. Bakteriologi Leptospira#
- Morfologi: Berbentuk heliks/spiral, ukuran panjang 6–20 µm, tebal 0,1 µm. Ujungnya melengkung seperti mata pancing (hook). [cite_start]Tidak terlihat dengan mikroskop cahaya biasa, harus menggunakan Mikroskop Medan Gelap (Dark Field Microscope) atau pewarnaan perak (Silver Staining) [cite: 2500-2508].
- Pertumbuhan: Aerob obligat, suhu optimal 28–30°C, pH 7–8. [cite_start]Waktu regenerasi 7–12 jam[cite: 2514, 2520, 2522].
- [cite_start]Ketahanan: Dapat bertahan hidup di tanah lembab/basah pH netral, namun mati cepat di air payau/salinitas tinggi [cite: 2524-2525].
D. Klasifikasi#
- Fenotipik:
- [cite_start]L. interrogans (Patogen): Peka terhadap 8-azaguanine, tidak tumbuh pada suhu 13°C [cite: 2561-2563].
- L. biflexa (Non-patogen/Saprofita): Resisten terhadap 8-azaguanine, tumbuh pada suhu 13°C.
- [cite_start]Identifikasi serovar menggunakan Cross Agglutination Absorption Test (CAAT)[cite: 2573].
- Genetik:
- [cite_start]Berdasarkan homologi DNA, terdapat 22 spesies genomik[cite: 2576].
- [cite_start]Memiliki 2 kromosom (besar dan kecil)[cite: 2580].
E. Media Kultur#
[cite_start]Leptospira membutuhkan asam lemak rantai panjang (long chain fatty acid) sebagai sumber energi, vitamin B1, dan B12[cite: 2514, 2518].
- Media Serum Kelinci: Contoh media Korthof, Fletcher, Stuart. [cite_start]Digunakan untuk isolasi klinis, namun tidak untuk preparasi antigen MAT [cite: 2531-2535].
- Media EMJH (Ellinghausen-McCullough-Johnson-Harris): Mengandung albumin untuk mengikat asam lemak bebas yang toksik. [cite_start]Digunakan untuk perbanyakan antigen MAT [cite: 2536-2537].
- [cite_start]Media Bebas Protein: Menggunakan arang aktif (charcoal) sebagai detoksikan [cite: 2538-2540].
- [cite_start]Media Selektif: Ditambahkan 5-fluorouracil (5-FU) untuk menghambat kontaminan bakteri lain[cite: 2545].
BAB II: PROSEDUR PENGAMBILAN SAMPEL#
Skrining leptospirosis di laboratorium diawali dengan pengambilan sampel di lapangan untuk bahan uji. [cite_start]Jenis sampel yang umum diambil meliputi urin, darah, serum, dan ginjal [cite: 303-305].
A. Prosedur Pengambilan Sampel Manusia#
Pengambilan sampel darah vena dilakukan menggunakan spuit atau tabung vakum.
1. Persiapan Alat dan Bahan
- Syringe (3cc, 5cc) atau Holder & jarum.
- Tali pembendung (torniket).
- Tabung Vacutainer:
- [cite_start]EDTA: Untuk uji PCR[cite: 312].
- [cite_start]Heparin: Untuk kultur Leptospira[cite: 313].
- [cite_start]Non-EDTA: Untuk serum[cite: 314].
2. Langkah Kerja
- [cite_start]Informed Consent: Jelaskan prosedur kepada pasien dan minta tanda tangan persetujuan [cite: 319-320].
- Persiapan Pasien: Verifikasi identitas dan kondisi pasien (puasa/obat). [cite_start]Minta pasien meluruskan lengan dan mengepalkan tangan [cite: 325-328].
- [cite_start]Pemasangan Torniket: Pasang kira-kira 10 cm di atas lipat siku[cite: 328].
- Lokasi Vena: Pilih vena median cubital atau cephalic. [cite_start]Lakukan palpasi untuk memastikan posisi vena (teraba seperti pipa kecil elastis) [cite: 329-330].
- [cite_start]Desinfeksi: Bersihkan area dengan alkohol 70% dan biarkan kering[cite: 333].
- Pengambilan Darah:
- [cite_start]Tusuk vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas[cite: 335, 337].
- [cite_start]Jika menggunakan tabung vakum, masukkan tabung ke dalam holder hingga darah mengalir[cite: 337].
- [cite_start]Jika memerlukan beberapa tabung, ganti tabung setelah tabung pertama terisi[cite: 338].
- [cite_start]Penyelesaian: Lepas torniket, minta pasien membuka kepalan tangan, tarik jarum, dan tekan bekas suntikan dengan kapas lalu plester [cite: 339-341].
B. Prosedur Pengambilan Sampel Tikus (Reservoir)#
1. Pengambilan Darah dan Koleksi Serum
[cite_start]Alat dan Bahan: Syringe (1 ml/3 ml), tabung vacutainer non-EDTA, centrifuge, Ketamin & Xylasin [cite: 350-354].
Langkah Kerja:
- Anestesi: Suntikkan campuran Ketamin (70-100 mg/kgBB) dan Xylasin (2 mg/kgBB) pada paha belakang tikus. [cite_start]Tunggu 5-10 menit hingga efek bekerja [cite: 354-356].
- Cardiac Puncture:
- [cite_start]Bersihkan dada tikus dengan alkohol swab[cite: 357].
- Tusukkan jarum di bawah tulang rusuk dengan sudut 45° terhadap badan tikus. [cite_start]Arahkan ke jantung hingga darah mengalir masuk ke syringe [cite: 360-361].
- Koleksi Serum:
- [cite_start]Masukkan darah ke tabung vacutainer non-EDTA (lewat dinding tabung perlahan untuk hindari hemolisis)[cite: 362].
- [cite_start]Sentrifus dengan kecepatan 3000 rpm selama 5 menit[cite: 363].
- [cite_start]Ambil serum (cairan bening di atas) dan simpan dalam cryotube pada suhu 4°C sebelum pemeriksaan [cite: 364-366].
2. Pengambilan Ginjal Tikus
Ginjal diambil untuk mendeteksi koloni Leptospira yang menetap di tubulus ginjal reservoir.
[cite_start]Alat dan Bahan: Gunting bedah, pinset, vial kaca ulir, alkohol 70% [cite: 375-381].
Langkah Kerja:
- [cite_start]Letakkan tikus yang sudah dianestesi pada nampan bersih dan desinfeksi area perut [cite: 383-384].
- Pembedahan:
- Jepit kulit perut bawah, gunting menembus kulit dan otot perut.
- [cite_start]Buat potongan lurus dari perut ke arah dada [cite: 385-386].
- [cite_start]Tarik kulit dan otot di atas diafragma untuk mengekspos rongga perut sepenuhnya[cite: 387].
- Koleksi Organ:
- Ambil kedua ginjal.
- [cite_start]Masukkan ke dalam vial kaca berisi alkohol 70%[cite: 388].
- [cite_start]Simpan pada suhu ruang sebelum pemeriksaan lebih lanjut[cite: 391].
BAB III: PROSEDUR PEMERIKSAAN#
[cite_start]Pemeriksaan laboratorium untuk leptospirosis dibagi menjadi pemeriksaan serologis dan molekuler [cite: 403-407].
A. Pemeriksaan Serologis: Microscopic Agglutination Test (MAT)#
[cite_start]MAT merupakan standar baku emas (gold standard) diagnosis leptospirosis karena spesifisitasnya yang tinggi[cite: 417].
1. Prinsip Kerja
- Berdasarkan reaksi antigen-antibodi.
- Serum penderita direaksikan dengan suspensi panel serovar Leptospira hidup.
- [cite_start]Aglutinasi (penggumpalan) dilihat di bawah mikroskop medan gelap (Dark Field Microscope) [cite: 405-406].
2. Alat dan Bahan
- Plate MAT, Mikroskop medan gelap, Inkubator, Micro shaker.
- [cite_start]Serum pasien/hewan, Kultur Leptospira (panel antigen), PBS 1x [cite: 447-456].
3. Prosedur Pemeriksaan
- [cite_start]Pengenceran: Lakukan serial dilusi serum mulai dari pengenceran 1:20 dalam PBS [cite: 458-460].
- [cite_start]Penambahan Antigen: Tambahkan 50 µl kultur Leptospira hidup ke dalam sumuran[cite: 461].
- [cite_start]Inkubasi: Campur dengan shaker dan inkubasi selama 2–4 jam pada suhu 37°C [cite: 463-464].
- Pembacaan: Periksa di bawah mikroskop medan gelap. [cite_start]Positif jika terjadi aglutinasi dengan titer tertentu (misal cut-off 1:20 untuk surveilans tikus) [cite: 465-466].
B. Pemeriksaan Molekuler#
Metode ini mendeteksi DNA Leptospira menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction).
1. Ekstraksi DNA
[cite_start]Proses mengeluarkan DNA dari sampel (urin, darah, atau jaringan ginjal) melalui tahapan lisis, pengikatan (binding), pencucian (washing), dan elusi [cite: 474-476].
- [cite_start]Sampel Urin: Sentrifugasi kecepatan tinggi, cuci pelet dengan PBS, lisis dengan Proteinase K, lalu purifikasi menggunakan spin column [cite: 494-512].
- [cite_start]Sampel Darah/Serum: Lisis dengan Buffer AL dan Proteinase K pada suhu 56°C, ikatkan ke kolom silika, cuci dengan etanol/wash buffer, dan elusi [cite: 523-541].
- [cite_start]Sampel Ginjal: Gerus bagian korteks ginjal, lisis semalaman pada suhu 55°C, lalu ekstraksi sesuai protokol [cite: 552-560].
2. PCR Konvensional
[cite_start]Mendeteksi gen spesifik (seperti LipL32 atau secY) dan divisualisasikan dengan elektroforesis gel agarose [cite: 590, 595-598].
- Primer: Menggunakan primer forward dan reverse spesifik.
- Siklus Thermal:
- Predenaturasi: 95°C (5 menit).
- Denaturasi: 94°C (30 detik).
- Annealing: 58°C (30 detik).
- Ekstensi: 72°C (1 menit).
- [cite_start]Siklus diulang 35x, diakhiri ekstensi akhir 7 menit[cite: 619].
- [cite_start]Visualisasi: Elektroforesis pada gel agarose 1,5% - 2% dengan pewarna DNA (Ethidium Bromide/Sybr Safe)[cite: 621, 641].
3. Real Time PCR (qPCR)
[cite_start]Metode yang lebih sensitif dan cepat, menggunakan pewarna fluoresens (seperti EvaGreen) untuk memantau amplifikasi secara real-time[cite: 689].
- [cite_start]Target: Gen secY atau target spesifik lain[cite: 690].
- [cite_start]Protokol Suhu: Denaturasi 95°C, Annealing 60°C (40 siklus), dilanjutkan dengan analisis Melt Curve (65-95°C) untuk memastikan spesifisitas produk[cite: 713].
4. Sequencing DNA
[cite_start]Dilakukan untuk menentukan spesies dan serovar secara genotipik dengan membaca urutan basa DNA[cite: 788].
- Tahapan:
- [cite_start]Purifikasi produk PCR (menghilangkan sisa primer/dNTP)[cite: 792].
- Cycle Sequencing menggunakan BigDye terminator.
- Purifikasi produk sekuensing (presipitasi etanol/EDTA).
- [cite_start]Elektroforesis Kapiler (Capillary Electrophoresis) pada mesin sekuenser[cite: 816].
- [cite_start]Analisis: Hasil sekuens dibandingkan dengan database GenBank menggunakan software bioinformatika (misal BioEdit) untuk identifikasi[cite: 819].