JURNAL/ARTICLE
education

Demam akut tak terjelaskan di Jawa: jangan lupa cari eschar

A
PenulisTim Redaksi
11 Oktober 2026
5 min read
Demam akut tak terjelaskan di Jawa: jangan lupa cari eschar
"Scrub typhus jarang didiagnosis di Jawa Tengah & DIY, bukan karena jarang ada, tetapi karena jarang dicari. Eschar yang tidak dicari = tidak ditemukan. Padahal penyakit ini merespons doksisiklin secara dramatis."

Demam akut tak terjelaskan di Jawa: jangan lupa cari eschar.

Artikel untuk dokter umum & internis · perkiraan waktu baca 5 menit

Pola yang akrab: demam berhari-hari, serologi dengue negatif, Widal meragukan, antibiotik beta-laktam tak mempan — dan tak seorang pun memeriksa kulit dengan teliti.

Scrub typhus (disebabkan Orientia tsutsugamushi, ditularkan gigitan larva tungau/chigger) adalah salah satu penyebab tersering demam akut non-malaria di Asia-Pasifik. Di Indonesia ia sangat jarang didiagnosis — pemeriksaan diagnostiknya langka dan banyak klinisi tidak menyadari keberadaannya. Bahkan penyakit rickettsia tidak tercantum dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia, sehingga memang tidak diajarkan untuk dicari.

Buktinya: patogen & vektor ada di Jawa Tengah dan DIY

Ini bukan penyakit "negeri seberang". Evidence-mapping nasional (PLoS NTD 2023) menemukan keberadaan O. tsutsugamushi di semua pulau utama, termasuk Jawa:

Jawa TengahTercatat 10 titik data: 1 seroprevalensi + 9 keberadaan vektor. Ada studi tungau trombikulid & reservoir tikus di lereng Gunung Merapi (daerah enzootik). DI YogyakartaTercatat data seroprevalensi — bukti paparan manusia pernah terjadi.
Vektor & reservoirVektor tersering Leptotrombidium deliense; reservoir tikus (Rattus tanezumi, R. exulans) — rantai penular hadir di Jawa. Distribusi "pulau tungau"Risiko bersifat patchy (mite islands) — terkonsentrasi di area semak, sawah, perkebunan, lereng gunung.

bukti terkuat secara nasional ada di Sumatra Selatan & Biak, bukan Jawa Tengah; sebagian besar data lama (dua pertiga sebelum 1946) dan hanya ada satu kasus manusia terkonfirmasi lab standar emas di seluruh Indonesia. Jadi yang bisa diklaim dengan bukti kuat bukan "sering di Jawa Tengah", melainkan: patogen & vektornya ada di sini, penyakitnya nyata, dan ia hampir selalu terlewat karena tidak dicari. Kurangnya data justru cerminan under-recognition, bukan ketiadaan penyakit.

Eschar: tanda paling spesifik yang paling sering terlewat

Eschar adalah lesi kulit nekrotik kecil tak nyeri di lokasi inokulasi gigitan tungau — menyerupai "bekas rokok" berkerak hitam dengan tepi eritematosa, sering disertai pembesaran kelenjar getah bening satelit. Ia sangat spesifik untuk scrub typhus, tetapi mudah terlewat karena:

Letaknya tersembunyi. Lipatan tubuh: aksila, lipat paha/inguinal, perineum, di bawah payudara, umbilikus, belakang lutut, pinggang/garis celana — tempat yang jarang dibuka saat pemeriksaan rutin.
Tak nyeri & tak gatal. Pasien tidak mengeluhkannya, jadi tidak akan ditunjukkan kecuali dicari aktif.
Tidak selalu ada. Eschar hanya ditemukan pada sebagian kasus (dalam banyak seri Asia hanya ~40–60%, bahkan lebih rendah) — ketiadaan eschar tidak menyingkirkan diagnosis.

Praktik kunci: pada demam akut tak terjelaskan, lakukan pemeriksaan kulit menyeluruh termasuk semua lipatan tubuh — dengan pencahayaan baik dan, bila perlu, membuka area yang biasanya tertutup. Satu eschar yang ditemukan bisa mengubah seluruh diagnosis dan terapi.

Membedakannya dari dengue, tifoid, dan leptospirosis

Ciri Scrub typhus Dengue Tifoid Leptospirosis
Tanda khas Eschar + limfadenopati satelit Ruam, kebocoran plasma Demam bertahap, bradikardia relatif Conjunctival suffusion, nyeri betis
Pola demam Demam terus, nyeri kepala hebat 3 fase; kritis saat demam turun Step-ladder, naik bertahap Bifasik (septikemik → imun)
Leukosit Bervariasi; sering limfositosis, CRP tinggi Leukopenia Leukopenia / normal Leukositosis + neutrofilia
Petunjuk lain Hepatosplenomegali, paparan semak/sawah Hematokrit naik, trombosit turun Keluhan GI, lidah kotor Ikterus + AKI, bilirubin/CPK tinggi

Catatan: scrub typhus bisa tumpang tindih dengan semuanya — demam akut tak terjelaskan, hepatomegali, kadang trombositopenia. Eschar dan riwayat paparan lingkungan adalah pembeda yang paling membantu di samping tempat tidur.

Respons dramatis terhadap doksisiklin — sekaligus "tes diagnostik"

Inilah ciri yang membuat scrub typhus begitu penting dikenali: ia merespons doksisiklin dengan cepat dan nyata.

Defervescence umumnya dalam 36–48 jam

Dengan doksisiklin, demam biasanya turun dalam ~36–48 jam. Dalam studi klasik di Melaka, pasien yang mendapat doksisiklin menjadi bebas demam dalam waktu kurang dari 48 jam — sedemikian khasnya sehingga respons cepat ini diusulkan sebagai bagian dari pendekatan diagnostik klinis. Kohort pediatrik modern menunjukkan mayoritas defervescence <48 jam.

Terapi: doksisiklin oral/IV sampai pasien membaik, bebas demam 48 jam, dan total terapi minimal ~7 hari. Alternatif: azitromisin (pilihan pada kehamilan). Beta-laktam tidak efektif — kegagalan respons terhadap seftriakson/ampisilin pada demam yang tak jelas justru menjadi petunjuk untuk memikirkan rickettsia.

Mengapa ini penting: tanpa terapi, scrub typhus dapat berkembang menjadi pneumonitis/ARDS, miokarditis, meningoensefalitis, gagal ginjal, dan kematian. Dengan doksisiklin dini, bahkan kasus berat membaik cepat. Jadi memikirkan diagnosis ini murah, mudah, dan berpotensi menyelamatkan nyawa — asalkan kita ingat mencarinya.

Pesan untuk dibawa pulang

1. Scrub typhus hadir di Jawa (termasuk Jateng & DIY) — vektor & reservoir terdokumentasi, misalnya di lereng Merapi. Jarang didiagnosis karena jarang dicari.
2. Pada demam akut tak terjelaskan (dengue negatif, Widal meragukan, beta-laktam gagal) → pikirkan scrub typhus, terutama dengan riwayat paparan semak/sawah/kebun.
3. Cari eschar di semua lipatan tubuh (aksila, inguinal, perineum, pinggang) — tak nyeri, mudah terlewat. Ada eschar = sangat spesifik; tak ada eschar ≠ menyingkirkan.
4. Doksisiklin adalah terapi pilihan; defervescence dramatis dalam ~36–48 jam. Beta-laktam tidak efektif.
5. Terapi empiris berdasar kecurigaan klinis sambil menunggu serologi (IgM) dapat mencegah komplikasi berat — jangan tunda.

Latih pengenalan ini lewat simulasi kasus

Uji penilaian Anda pada kasus demam tropis tak terjelaskan, lalu dalami protokolnya.

Simulasi Kasus Tropik Protokol Tropical Fever

Referensi

  1. Saraswati K, et al. Geographical distribution of scrub typhus and risk of Orientia tsutsugamushi infection in Indonesia: Evidence mapping. PLoS Negl Trop Dis. 2023;17(9):e0011412. doi.org
  2. Saraswati K, et al. Scrub typhus in Indonesia: cross-sectional analysis of archived fever studies samples. Trans R Soc Trop Med Hyg. 2024;118(5):321–327. PMC11062201
  3. Ristiyanto, dkk. Ektoparasit tungau trombikulid dan inangnya serta peluang penularan scrub typhus di beberapa daerah Pulau Jawa. Vektora. 2016;8(1):41–52 (lihat pula studi lereng Merapi, Jawa Tengah 2004 & 2009).
  4. Lokida D, et al. Underdiagnoses of Rickettsia in patients hospitalized with acute fever in Indonesia. BMC Infect Dis. 2020;20:364. doi.org
  5. Scrub Typhus — clinical features, eschar, doxycycline, defervescence ~36 jam. MSD/Merck Manual, Professional Edition. msdmanuals.com
  6. The diagnosis of scrub typhus (seri Melaka; defervescence <48 jam dengan doksisiklin). Med J Malaysia. 1987;42(1). e-mjm.org
Catatan. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pedoman nasional/rumah sakit setempat serta penilaian klinis langsung. Data epidemiologi scrub typhus di Indonesia masih terbatas dan sebagian tua; klaim di sini adalah keberadaan risiko (patogen & vektor), bukan insidens kontemporer. Diagnosis pasti memerlukan konfirmasi serologi/PCR; keputusan terapi empiris tetap berdasarkan penilaian klinis menyeluruh.
Topik Terkait
#Medis#Update#Jurnal

Tentang Penulis

A
Admin PETRI
Editor Medis

Menyajikan informasi klinis terkini untuk profesional kesehatan.