1. Definisi
Rabies adalah penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh virus genus Lyssavirus dari famili Rhabdoviridae. Virus ini bersifat neurotropik (menyerang saraf), menargetkan susunan saraf pusat, dan memiliki tingkat fatalitas hampir 100% setelah gejala klinis muncul. Penularan utama ke manusia (99%) disebabkan oleh gigitan anjing.
2. Kriteria Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat pajanan (anamnesis) dan manifestasi klinis yang muncul.
A. Anamnesis (Riwayat Pajanan)
- Riwayat Kontak: Adanya gigitan, cakaran, atau jilatan pada kulit luka/mukosa oleh Hewan Penular Rabies (HPR) seperti anjing, kucing, kera, atau hewan liar.
- Masa Inkubasi: Bervariasi antara 2 minggu hingga 2 tahun (rata-rata 3–8 minggu). Faktor yang mempercepat inkubasi meliputi luka yang dalam, lokasi luka dekat dengan otak (kepala/leher), dan tingginya jumlah virus yang masuk.
B. Gejala Klinis pada Manusia
Gejala berkembang melalui beberapa stadium:
- Stadium Prodromal: Demam, malaise (lemas), mual, nyeri tenggorokan, dan sensasi abnormal (parestesia) seperti nyeri, panas, atau kesemutan di lokasi gigitan.
- Stadium Neurologis Akut:
- Tipe Ensefalitis (Furious): Gelisah, agresif, hidrofobia (takut air), aerofobia (takut udara), dan fotofobia.
- Tipe Paralitik: Kelemahan otot (lumpuh) yang dimulai dari bekas gigitan dan menjalar ke otot pernapasan (ascending paralysis).
- Koma & Kematian: Terjadi akibat gagal napas atau gagal jantung.
3. Pemeriksaan Penunjang (Penilaian Risiko Luka)
Pada tahap awal di IGD/Fasilitas Kesehatan, pemeriksaan penunjang utama adalah asesmen kategori luka untuk menentukan jenis profilaksis.
| Kategori | Deskripsi Luka/Kontak | Risiko |
|---|---|---|
| I | Menyentuh/memberi makan hewan, jilatan pada kulit utuh. | Tidak Ada Risiko |
| II | Gigitan pada kulit terbuka, luka lecet/cakaran kecil tanpa perdarahan. | Risiko Sedang |
| III | Gigitan/cakaran yang menembus kulit (berdarah), jilatan pada kulit luka/mukosa, kontak dengan kelelawar, atau luka di area risiko tinggi (bahu ke atas, jari tangan, genital). | Risiko Tinggi |
4. Tatalaksana (Manajemen Kasus)
Prinsip utama penanganan adalah pencegahan segera setelah pajanan (Post-Exposure Prophylaxis).
A. Pencucian Luka (Tindakan Awal Wajib)
- Waktu: Segera setelah gigitan terjadi.
- Cara: Cuci luka menggunakan sabun/deterjen di bawah air mengalir selama 15 menit.
- Prinsip: Sabun menghancurkan lapisan lipid virus rabies sehingga virus menjadi inaktif.
- Antiseptik: Setelah pencucian, berikan Povidone Iodine atau Alkohol 70%.
B. Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR)
Diberikan berdasarkan kategori luka (Kategori II dan III).
- Jadwal Pemberian (Metode Zagreb - Intramuskular):
- Hari 0: 2 dosis sekaligus (1 dosis lengan kanan, 1 dosis lengan kiri).
- Hari 7: 1 dosis (lengan).
- Hari 21: 1 dosis (lengan).
- Lokasi Penyuntikan: Otot deltoid (lengan atas) atau paha anterolateral (untuk anak usia $< 1$ tahun).
- Penghentian VAR: Jika hewan penggigit (anjing/kucing) diobservasi dan tetap sehat selama 14 hari, pemberian VAR selanjutnya dapat dihentikan.
C. Pemberian Serum Anti Rabies (SAR)
Wajib diberikan untuk pajanan Kategori III (Risiko Tinggi) guna memberikan kekebalan pasif instan sebelum antibodi dari vaksin terbentuk.
| Jenis Serum | Dosis | Cara Pemberian | Skin Test |
|---|---|---|---|
| Homolog (HRIG) | 20 IU/kg BB | Infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, sisanya IM. | Tidak Perlu |
| Heterolog (ERIG) | 40 IU/kg BB | Infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, sisanya IM. | Wajib |
Catatan Skin Test ERIG:
- Encerkan serum 1:10 dengan cairan fisiologis.
- Suntikkan intrakutan 0,1 ml.
- Hasil positif jika timbul indurasi $> 10$ mm dikelilingi kemerahan dalam 15 menit.
D. Tatalaksana Pasien yang Sudah Bergejala (Rabies Klinis)
Jika pasien datang dengan gejala klinis rabies (sudah terlambat untuk profilaksis):
- Isolasi: Rawat di ruang isolasi yang tenang dan minim cahaya.
- APD Petugas: Petugas medis wajib menggunakan APD lengkap (masker, kacamata goggle, sarung tangan) karena air liur, air mata, dan cairan tubuh pasien bersifat infeksius.
- Terapi: Bersifat suportif dan paliatif (sedasi kuat untuk kejang/agistasi, hidrasi).