1. Definisi
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.
Terdapat 5 jenis Plasmodium yang menginfeksi manusia di Indonesia:
- Plasmodium falciparum
- Plasmodium vivax
- Plasmodium malariae
- Plasmodium ovale
- Plasmodium knowlesi
2. Kriteria Diagnosis
Diagnosis malaria ditegakkan berdasarkan Anamnesis, Pemeriksaan Fisik, dan dikonfirmasi dengan Pemeriksaan Laboratorium.
A. Anamnesis (Gejala Klinis)
Gejala utama dikenal sebagai Trias Malaria:
- Demam: Bisa periodik atau terus menerus.
- Menggigil: Rasa dingin yang berlebihan.
- Berkeringat: Sering disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, dan nyeri otot.
B. Klasifikasi Diagnosis
1. Malaria Tanpa Komplikasi
Pasien dengan gejala klinis malaria dan hasil pemeriksaan laboratorium positif (mikroskopis atau RDT), tanpa tanda-tanda bahaya atau komplikasi berat.
2. Malaria Berat
Ditemukan P. falciparum atau P. knowlesi (atau infeksi campur) dalam stadium aseksual disertai satu atau lebih gejala berikut:
- Kesadaran Menurun: GCS $< 11$ (pada dewasa) atau Blantyre $< 3$ (pada anak).
- Kelemahan Otot: Tidak bisa duduk/berjalan (prostrasi).
- Kejang: ≥ 2 episode dalam 24 jam.
- Distres Pernapasan: Pernapasan asidosis, sesak napas.
- Gagal Sirkulasi (Syok): Tekanan darah sistolik $< 80$ mmHg (dewasa) atau $< 50$ mmHg (anak) dengan akral dingin.
- Ikterus: Bilirubin total ≥ 3 mg/dL disertai parasitemia ≥ 100.000\mu L.
- Hemoglobinuria: Urine berwarna seperti teh tua/hitam (blackwater fever).
- Perdarahan Spontan: Dari hidung, gusi, atau saluran cerna.
- Edema Paru: Dikonfirmasi melalui rontgen/saturasi oksigen $< 92%$.
3. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis pasti wajib dilakukan dengan pemeriksaan darah. Pengobatan tidak boleh diberikan hanya berdasarkan gejala klinis tanpa konfirmasi lab.
A. Mikroskopis (Gold Standard)
- Sediaan Darah Tebal: Untuk menemukan parasit dan menghitung kepadatan.
- Sediaan Darah Tipis: Untuk identifikasi spesies parasit.
- Hasil dinyatakan positif jika ditemukan parasit malaria.
B. Rapid Diagnostic Test (RDT)
- Digunakan jika fasilitas mikroskop tidak tersedia.
- Mendeteksi antigen parasit (HRP-2 atau pLDH).
C. Pemeriksaan Penunjang Lain (Untuk Malaria Berat)
- Darah Rutin (Hb, Hematokrit, Leukosit, Trombosit).
- Kimia Darah: Gula Darah Sewaktu, Ureum, Kreatinin, SGOT/SGPT, Bilirubin, Laktat, Analisa Gas Darah.
- Urinalisis.
Kriteria Laboratorium Malaria Berat:
- Hipoglikemia: Gula darah $< 40$ mg/dL.
- Asidosis Metabolik: Bikarbonat plasma $< 15$ mmol/L atau Laktat ≥ 5 mmol/L.
- Anemia Berat: Hb $< 5$ g/dL (anak < 12 tahun) atau $< 7$ g/dL (dewasa).
- Gagal Ginjal Akut: Kreatinin serum ≥ 3 mg/dL atau Ureum ≥ 20 mmol/L.
- Hiperparasitemia: Parasit ≥ 2% atau ≥ 100.000/mu L (di daerah endemis rendah/sedang).
4. Tatalaksana (Pengobatan)
Pengobatan menggunakan ACT (Artemisinin-based Combination Therapy). Obat program di Indonesia saat ini adalah DHP (Dihydroartemisinin-Piperaquine).
A. Malaria Tanpa Komplikasi
| Jenis Plasmodium | Regimen Pengobatan (Lini Pertama) |
|---|---|
| P. falciparum | ACT (3 hari) + Primakuin (1 hari)<br>Dosis Primakuin: 0,25 mg/kgBB |
| P. vivax | ACT (3 hari) + Primakuin (14 hari)<br>Dosis Primakuin: 0,25 mg/kgBB (Untuk mencegah relaps) |
| P. ovale | ACT (3 hari) + Primakuin (14 hari)<br>Dosis Primakuin: 0,25 mg/kgBB |
| P. malariae | ACT (3 hari)<br>Tanpa Primakuin (kecuali ada kebijakan lokal khusus) |
| P. knowlesi | ACT (3 hari)<br>Sama seperti P. falciparum |
| Infeksi Campur<br>(Falciparum + Vivax) | ACT (3 hari) + Primakuin (14 hari) |
Catatan Penting:
- DHP: Diberikan 1 kali sehari selama 3 hari. Dosis berdasarkan berat badan.
- Primakuin: Tidak boleh diberikan pada Ibu Hamil, Bayi < 6 bulan, dan penderita Defisiensi G6PD.
- Jika DHP tidak tersedia, dapat digunakan kombinasi Artesunat-Amodiakuin (AA).
B. Tatalaksana Khusus Ibu Hamil
| Usia Kehamilan | Obat Malaria |
|---|---|
| Trimester I (0-12 minggu) | Kina + Klindamisin (selama 7 hari)<br>Atau Kina saja jika Klindamisin tidak tersedia. |
| Trimester II & III | ACT (DHP) (selama 3 hari) |
Peringatan: Primakuin dikontraindikasikan (dilarang) untuk ibu hamil sepanjang masa kehamilan.
C. Tatalaksana Malaria Berat
Semua penderita malaria berat harus ditangani di Rumah Sakit dengan fasilitas rawat inap yang memadai.
1. Pengobatan Lini Pertama (Artesunat Intravena)
- Obat pilihan utama: Artesunat Injeksi (IV).
- Dosis: 2,4 mg/kgBB secara intravena.
- Jadwal Pemberian:
- Jam ke-0 (saat masuk).
- Jam ke-12.
- Jam ke-24.
- Selanjutnya diberikan setiap 24 jam sampai pasien bisa minum obat oral.
- Setelah pasien sadar/bisa makan minum: Lanjutkan dengan ACT oral (DHP) selama 3 hari + Primakuin (sesuai jenis plasmodium).
2. Pengobatan Lini Kedua (Jika Artesunat IV tidak tersedia)
- Kina Drip (Infus):
- Loading dose: 20 mg garam/kgBB dilarutkan dalam 500 ml Dextrose 5% atau NaCl 0,9%, diberikan selama 4 jam.
- Maintenance dose: 10 mg/kgBB diberikan setiap 8 jam (dimulai 8 jam setelah loading dose selesai).
- Artemether Intramuskular (IM):
- Dosis awal: 3,2 mg/kgBB.
- Hari berikutnya: 1,6 mg/kgBB (1 kali sehari).
3. Penanganan Pra-Rujukan Jika fasilitas tidak memungkinkan dan pasien perlu dirujuk, berikan dosis awal sebelum merujuk:
- Artesunat Intramuskular (IM): 2,4 mg/kgBB, ATAU
- Artemether Intramuskular (IM): 3,2 mg/kgBB.