1. Definisi
Demam tifoid (demam enterik) adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi. Penyakit ini ditularkan melalui jalur fekal-oral (makanan atau minuman yang terkontaminasi). Di Indonesia, penyakit ini bersifat endemis dan sering kali underreported karena gejala yang mirip dengan penyakit demam tropis lainnya.
2. Kriteria Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang khas, namun sering kali tidak spesifik pada minggu pertama sakit.
A. Anamnesis (Gejala Klinis)
- Demam: Berlangsung ≥ 7 hari. Pola demam naik secara bertahap seperti anak tangga (step-ladder pattern), terutama pada minggu pertama. Demam cenderung lebih tinggi pada sore/malam hari.
- Gejala Gastrointestinal: Konstipasi (lebih sering pada dewasa), diare (lebih sering pada anak), mual, muntah, nyeri perut, dan kembung.
- Gejala Sistemik: Sakit kepala (frontal), nyeri otot (myalgia), malaise, dan anoreksia.
- Perubahan Status Mental: Pada kasus berat (tifoid toksik), dapat terjadi delirium, sopor, hingga koma.
B. Pemeriksaan Fisik
- Lidah Tifoid (Typhoid Tongue): Lidah kotor di bagian tengah dengan tepi kemerahan dan tremor saat dijulurkan.
- Bradikardia Relatif: Peningkatan suhu tubuh tidak diikuti dengan peningkatan nadi yang proporsional (tanda khas namun tidak selalu ditemukan).
- Hepatomegali & Splenomegali: Pembesaran hati dan limpa, sering disertai nyeri tekan.
- Rose Spots: Ruam kemerahan makulopapular di dada/perut (jarang ditemukan pada pasien kulit gelap/Asia).
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang sangat penting untuk konfirmasi diagnosis dan menyingkirkan penyakit lain seperti Dengue atau Malaria.
A. Mikrobiologi (Baku Emas)
- Kultur (Biakan): Merupakan gold standard diagnosis pasti.
- Kultur Darah: Paling sensitif pada minggu ke-1 (sensitivitas 40–60%).
- Kultur Feses: Sensitivitas meningkat pada minggu ke-2 dan ke-3.
- Kultur Urin: Sensitivitas meningkat pada minggu ke-3 dan ke-4.
- Kultur Sumsum Tulang: Paling sensitif (80–90%) bahkan jika pasien sudah mendapat antibiotik, namun prosedurnya invasif.
B. Serologi
- Uji Widal: Mendeteksi antibodi aglutinin O dan H.
- Keterbatasan: Sering positif palsu (reaksi silang) dan negatif palsu. Tidak disarankan sebagai satu-satunya dasar diagnosis.
- Interpretasi: Kenaikan titer ≥ 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang (interval 5-7 hari) lebih bermakna diagnostik daripada titer tunggal.
- IgM Anti-Salmonella (TUBEX TF): Mendeteksi antibodi IgM terhadap antigen O9 LPS S. typhi. Lebih spesifik dan sensitif dibandingkan Widal untuk infeksi akut.
- Dipstick (Typhidot): Mendeteksi IgG dan IgM spesifik.
C. Hematologi & Lainnya
- Darah Perifer Lengkap: Leukopenia (jumlah leukosit rendah) atau normal, sering disertai limfositosis relatif dan trombositopenia ringan.
- Hitung Jenis: Sering ditemukan aneosinofilia (hilangnya eosinofil).
- SGOT/SGPT: Dapat meningkat ringan.
- CRP (C-Reactive Protein): Biasanya tinggi, membantu membedakan dengan infeksi virus (seperti Dengue) yang CRP-nya cenderung rendah/normal.
4. Tatalaksana
A. Terapi Non-Farmakologis (Suportif)
- Istirahat (Tirah Baring): Wajib dilakukan hingga pasien bebas demam untuk mencegah komplikasi (perdarahan/perforasi usus). Mobilisasi bertahap dilakukan setelah suhu normal.
- Diet & Nutrisi:
- Diet lunak atau nasi tim dengan lauk pauk rendah serat (selulosa).
- Makanan padat dini aman diberikan jika tidak ada gangguan gastrointestinal berat, guna menjaga asupan kalori dan mempercepat penyembuhan.
- Hindari makanan pedas, asam, dan berserat kasar.
- Cairan: Jaga hidrasi adekuat (oral atau intravena).
B. Terapi Farmakologis (Antibiotik)
Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan pola resistensi lokal (MDR-Salmonella).
| Golongan Obat | Jenis & Dosis (Dewasa) | Keterangan |
|---|---|---|
| Lini Pertama (Klasik) | Kloramfenikol: 4 x 500 mg (hingga 7 hari bebas demam)<br><br>Ampisilin/Amoksisilin: 50-150 mg/kgBB (selama 2 minggu)<br><br>Kotrimoksazol: 2 x 2 tablet (selama 2 minggu) | Murah, namun risiko efek samping hematologi, angka carrier tinggi, dan resistensi mulai meningkat. |
| Fluoroquinolone | Siprofloksasin: 2 x 500 mg (5-7 hari)<br><br>Ofloksasin: 2 x 400 mg (5-7 hari) | Sangat efektif, demam turun cepat. Kontraindikasi pada anak & ibu hamil. Resistensi mulai ditemukan. |
| Sefalosporin Gen-3 | Seftriakson: 3-4 gram/hari (IV) dosis tunggal atau terbagi (3-5 hari)<br><br>Sefiksim: 200 mg/hari (Oral) | Pilihan utama untuk rawat inap, kasus berat, ibu hamil, atau resisten quinolone. Aman untuk anak. |
| Makrolida | Azitromisin: 1 gram (hari 1) lalu 500 mg (hari 2-6) ATAU 500 mg/hari selama 7 hari | Efektif untuk kasus resisten fluoroquinolone. Demam turun dalam ≤ 5 hari. |
| Carbapenem | Meropenem | Cadangan untuk kasus tifoid berat dengan komplikasi atau Extensively Drug-Resistant (XDR). |
C. Terapi Kortikosteroid (Kasus Berat)
Diberikan HANYA pada kasus tifoid berat dengan komplikasi neuropsikiatri (delirium, koma) atau syok septik.
- Dexamethasone: Dosis awal 3 mg/kgBB (IV) pelan selama 30 menit. Dilanjutkan 1 mg/kgBB setiap 6 jam sebanyak 8 kali pemberian.
5. Tatalaksana Demam Tifoid Karier
Didefinisikan jika kuman S. typhi ditemukan pada feses/urin selama ≥ 1 tahun pasca sakit.
| Kondisi Karier | Pilihan Terapi |
|---|---|
| Tanpa Batu Empedu | • Ampisilin (100 mg/kg) + Probenesid (30 mg/kg)<br>• Amoksisilin (100 mg/kg) + Probenesid (30 mg/kg)<br>• Kotrimoksazol (2 x 2 tablet)<br>(Durasi terapi: 3 bulan) |
| Dengan Batu Empedu | • Kolesistektomi (Operasi angkat kandung empedu) + Antibiotik.<br>• Jika tanpa operasi: Siprofloksasin 2 x 750 mg atau Norfloksasin 2 x 400 mg. |
| Dengan Schistosoma | • Eradikasi Schistosoma (Prazikuantel) terlebih dahulu, baru terapi antibiotik tifoid. |